Tuesday, February 10, 2015

Offline

Mari mengobrol.  Di luar layar.  Aku bosan melihat avatar;
Wajahnya datar.

Aku mau bicara tatap muka.  Biar bisa kukagumi bola mata dan
Apa yang disiratkan sorotnya.

Aku mau mendengar suara tanpa perantara (kecuali udara)
Sebab ada yang tak bisa disampaikan oleh simbol-simbol dan
Tanda baca.

Aku mau menikmati ekspresi.  Perubahan samar pada raut yang
Tak mungkin diwakili.

Aku mau menyampaikan langsung.  Komunikasi tanpa tergantung
Sinyal atau koneksi.

Mari.  Kau dan aku.  Hati ke hati.
Matikan komputermu, kujemput sebentar lagi.
Berani?

Monday, February 9, 2015

Selimut

Suhu dua digit dibawah nol.  Bahkan hati paling pencemburu akan beku.  Tapi matamu malah makin menyala.  Secangkir coklat, wajah dalam kamera, dan kata-kata.  Kalian lima jam lebih mengobrol.  Bahkan hati paling murni akan iri.  Tapi dingin tak mampu membuatmu berhenti.  Seulas senyum, cinta dalam pigura, dan kata-kata.  Sampai tiba waktu tidur.  Ia melambaikan tangan, menjelma jadi selimut.  Yang kau tarik sampai memeluk.  Sampai esok pagi.

Sunday, February 8, 2015

Diskusi Usang

Kita seperti menjebak diri dalam lingkaran
Aku menulis, kau membaca apa yang ada antara garis
Kata-kata tak berarti apa-apa untukmu
Sementara aku tak menempatkan maksud apa-apa, selain bercerita

Dimana letak salahnya?
Kau ingin mengenalku; baca saja!
Kenapa lalu kau bengkokkan dengan imajinasimu hingga kisah jadi baru,
Jadi lain dari yang kumau?

Aku tak mau berhenti menulis hanya karena kau disleksia, sulit mengeja
Aku juga tak mau kau berhenti membaca
Aku cuma mau kau membaca tanpa praduga,
Aku menyelipkan makna dan cinta pada kata-kata, bukan pada celah diantaranya

Mungkin ini kenapa mereka bilang penulis harus mati setelah berkata-kata
Menghadapi pembaca kadang adalah siksa

Bangkai Pemuisi

Kurasa pemuisi dalam diri sudah mati
Sebab kata bau bangkai
Dan puisi sama sekali tak segar lagi

Kurasa aku cukup yakin kali ini
Ia bukan mati suri atau hibernasi untuk kemudian kembali
Denyutnya sudah tak terasa pada nadi hari

Tinggal dua yang harus dilakukan:
Mencari tahu sebab kematian
Dan mengundang orang-orang untuk menangis di pemakaman
Sebab ia sepertiku; tak benar-benar berkawan

Tuesday, February 3, 2015

menyebalkan

Apa yang menyebalkan, kali ini?  Kata-kata yang terus mengiang di telinga tapi tak disertai konteks cerita.

Sudah dua atau tiga minggu ini saya tak menulis puisi.  Tak apa sebenarnya; saya tak pernah memaksa atau menargetkan penulisan.  Saya hanya menulis ketika gagasan itu tiba.  Biasanya, ia berupa sepenggal kalimat, sepotong frase, atau sebuah kata.  Lalu benak saya akan mencoba merangkainya dengan kata, frase, atau kalimat lain untuk menyampaikan sebuah nuansa suasana (konteks cerita).  Yang menyebalkan bagi saya adalah ketika penggalan, potongan, atau buah itu tiba tanpa bisa saya rangkai atau cari pasangan pelengkapnya.

Dalam tiga minggu terakhir ini, setidaknya ada tiga gagasan yang muncul di kepala saya.  Yang pertama, tentang topeng-topeng (harfiah maupun figuratif) yang ada dalam kisah Rurouni Kenshin (Samurai X).  Saya ingin menulis tentang itu, tapi yang muncul di krpala saya hanya "Himura! Himura! Kyoto membara!"  Saya tak bisa mengaitkannya dengan gagasan yang ingin saya tulis.  Yang kedua, terinspirasi dari gambar seekor singa betina yang memandangi kupu-kupu yang sedang terbang.  Muncul satu bait di benak saya, tapi itu saja.  Tak ada lanjutannya.  Yang ketiga, sebuah kisah tentang seorang yang pola pikirnya begitu berbeda sehingga tak ada yang mampu memahaminya; dan ia tak punya tempat bercerita.  Kalaupun ia menceritakan kisah atau perasaannya, para pendengar akan salah memahami dan menafsirkan apa yang ingin ia katakan.

Ketiga gagasan itu saya biarkan mengendap di bawah sadar sampai nanti muncul sesuatu yang bisa mematangkannya.  Barulah akan saya tulis jadi puisi.  Sialnya, proses fermentasi kali ini tidak terjadi dalam diam.  Seolah saya tidak menutup rapat bejana tempat menyimpan gagasan-gagasan itu, aroma fermentasinya terus menguar dan mengganggu.  Tiap hari, saya mendengar suara di kepala saya berteriak, "Himura! Himura! Kyoto membara!"  Tapi saya masih tak menemukan bentuk untuk menuliskannya.  Sudah saya coba, tapi hasilnya benar-benar tidak memuaskan.  Seperti singkong kurang ragi, tapai tak menjadi.  Ini yang menyebalkan!  Saya tak bisa tenang sebelum suara di kepala saya diam.  Tapi ia akan terus berteriak sampai ia diutuhkan.  Dan saya tak jua menemukan bentuk yang melengkapinya.

Memparafrase seorang teman, "Andai ada alat untuk merekam hati, tentu tak sesulit ini."  Andai emosi bisa keluar tanpa dikeluarkan, tentu hati tak sepenuh dan sesesak ini.

Selamat malam.

ocehan warung kopi. lagi.

Saya sedang di sebuah warung kopi (inisialnya gbx) di daerah taman pramuka. Sendiri. Kok sendiri? Bukannya saya ga suka sendirian di tempat umum yang bukan zona nyaman saya? Saya sendiri karena teman saya sudah pergi dan istri saya belum datang.

Tadi, teman saya yang bekerja di daerah sekitar sini menunggu waktu kerjanya sendirian di warung kopi ini. Ia lalu menghubungi kami (teman-temannya) untuk menemani. Hanya saya yang bisa (yang lain bersedia, tapi tidak bisa). Datanglah saya kesini. Istri saya yang masih dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya bilang ia akan menyusul kesini. Baru mengobrol beberapa menit, ternyata teman saya salah ingat jadwal. Ia harus bekerja pukul tiga, bukan pukul empat. Jadilah ia buru-buru beranjak dan giliran saya yang sendiri disini. Menunggu istri ditemani kopi.
Bicara soal kopi, saya termasuk pecandu kafein. Dan memang seringkali saya dan teman-teman nongkrong di warung kopi. Mereka mungkin memesan minuman apa saja, tapi saya selalu memesan kopi. Selain kafein, saya juga pecandu nikotin. Sudah sejak lama. Pembuluh darah saya serasa sangat sempit (yang mengakibatkan pusing) jika saya tidak bertemu salah satu atau keduanya.  Ini kebodohan saya. Menjebak diri sendiri sampai tak bisa lepas lagi.  Bisa sebenarnya, tapi proses detoksifikasi akan makan waktu dan sangat sakit. Saya tahu sebab saya pernah mencoba.  Selain itu, saya menyaksikan sendiri betapa sakitnya proses detoksifikasi itu pada seorang teman saya (satu-satunya orang yang saya kenal yang bisa berhenti merokok secara total).
Tapi saya berencana berhenti. Segera. Dan ini bukan karena saya mau, tapi karena saya harus. Ada banyak alasan yang bisa dipilih. Tapi ada dua pendorong utama yang mendasari keputusan saya ini: dua celetukan tak sengaja dari dua orang dalam hidup saya.
Yang pertama, Zia, yang suatu hari bertanya, "Ayah, Zia boleh ngerokok, ga?"
Saya jawab, "Ga boleh dong."
"Kalo pura-pura aja, boleh ga, Yah?"
Saya tahu bahwa saya harus berhenti merokok saat itu juga.  Sebab banyak hal yang dilakukan Zia ditirunya dari saya.  Dan saya tak mau jadi orangtua yang berstandar ganda.  Kalau saya tidak memperbolehkannya merokok, saya juga harus tidak memperbolehkan diri saya merokok.  Apapun caranya.
Yang kedua, seorang teman yang pada suatu obrolan lewat BBM menulis, "I don't think you're a good dad." (Saya memparafrase).  Ujaran itu tidak kami bahas. Sama sekali. Tapi efeknya adalah bola salju refleksi dalam kepala saya.  Cermin yang ia sodorkan memaksa saya melihat wajah (dan hati) saya sendiri, dan betapa jeleknya wajah itu...
Inti dari ocehan saya ini adalah, sometimes we have to do things not because we want to, but because we have to. And if we have to do it, anyway, it's better to enjoy it.
Selamat sore.

Wednesday, January 7, 2015

Tentang Seratus (Lebih Satu)

Seratus (Lebih Satu) adalah judul (calon) buku ketiga saya.  Baru saja selesai disusun.  Sebelum saya bercerita, saya ingin mengklarifikasi satu hal dulu: buku ini adalah buku kumpulan puisi ketiga yang saya susun dan cetak sendiri (dalam arti tidak melalui penerbit); jadi jangan berpikir bahwa saya penulis hebat yang mampu menjebolkan manuskrip tulisannya di penerbit buku resmi.

Setelah itu diklarifikasi, sekarang saya ingin berbagi.  Bagi yang belum tahu, saya sudah menulis banyak puisi sejak SMA, sebagian besar sangat amatir tapi beberapa mulai cukup bagus (saya rasa, sebab meski belum teruji lewat penerbit atau kritikus puisi, ada beberapa orang yang punya kapabilitas menilai puisi-puisi saya cukup bagus) dalam beberapa tahun terakhir.  Puisi-puisi itu sudah dikumpulkan dalam dua antologi yang saya cetak dan jual sendiri ke orang-orang yang ingin membeli, entah karena mereka memang suka puisi atau karena mengasihani.  Saya tak tahu apakah tepat menyebutnya 'antologi', saya belum sempat memeriksa makna kata ini menurut KBBI.

Buku kumpulan puisi saya yang pertama berjudul Prologue-Epilogue, dirancang sebagai semacam rekaman episode-episode nuansa perasaan saya, atau orang-orang yang sempat saya amati.  Buku ini berisi hampir 190 puisi yang saya tulis dalam periode 2003-2006.  Buku kedua, saya juduli Topeng diatas Topeng, berisi 55 puisi dari periode 2006-2007, dan beberapa dari tahun-tahun sebelumnya.  Gambar sampul dan isi kedua buku ini didesain oleh sahabat saya, Arun, yang memang lebih ahli dari saya untuk soal desain dan gambar.

Sejak tahun 2007 itu, saya sudah berniat membuat buku kumpulan puisi lagi, minimal satu.  Namun, karena sejak 2007 saya bisa dikatakan telah mapan (dalam artian settle), kebanyakan keresahan yang menjadi percik awal dalam proses kreatif saya mulai menghilang.  Selain itu, saya mulai jarang memperhatikan manusia dan mendengar kisah-kisah mereka sejak saya tinggal di kost-an tahun 2008.  Bahan untuk menulis pun berkurang.  Kemudian saya menikah, menikmati hidup berumah tangga, dan mengurus anak.  Waktu luang untuk saya pribadi merenungi kata-kata semakin sedikit.  Untung saya sedikit punya gangguan tidur, tak bisa tidur sebelum pukul satu dini hari. Jadi saya masih bisa menyempat-nyempatkan diri untuk menggauli puisi diantara deadline terjemahan, mengikuti serial TV AS dan Inggris, dan variety show Korea yang diunduh secara ilegal, serta memanjakan istri.  Saya sempat vakum menulis puisi cukup lama, entah kenapa.  Pada periode 2010-2012 sedikit sekali puisi yang saya hasilkan.  Satu lagi alasan kenapa penyusunan buku ketiga ini makan waktu tujuh tahun.

Bulan Maret 2014, istri dan teman-teman saya memberikan sebuah kejutan.  Mereka menggabungkan (dikerjakan oleh Arun lagi) dua buku puisi saya dengan seperempat bahan puisi untuk buku ketiga dan mencetaknya dalam sebuah buku yang mereka juduli 3-Lo-G.  Ketika itulah saya membuat resolusi untuk menyelesaikan penyusunan buku ketiga sebelum tahun berganti.  Setelah mengganti konsep yang sudah saya canangkan sejak lama untuk buku ketiga ini, saya mulai menulis lagi.

Awalnya buku ini ingin saya juduli Janin Tak Lahir, dengan konsep dasar berisi puisi-puisi yang berhubungan dengan perilaku seksual remaja Indonesia modern, baik yang baik-baik maupun yang membuat jijik; termasuk didalamnya tentang aborsi, seks pra-nikah, dan semacamnya.  Tapi, sepertinya nama itu adalah do'a, setelah bertahun-tahun, Janin Tak Lahir tetap tak lahir.  Akhirnya, saya memutuskan untuk mengubah judul dan konsepnya sama sekali.  Saya juduli Seratus (Lebih Satu) karena buku ini berisi tepat 101 puisi.  

Kenapa seratus satu, tidak seratus saja?  Sebab seratus itu lengkap, penuh, sempurna.  Saya ingin setelah mencapai angka seratus, saya tidak merasa puas, menambah satu lagi untuk dijadikan titik awal menuju seratus berikutnya.  Kurang lebih begitulah buku ketiga ini.  Seratus satu puisi di dalamnya adalah seratus satu puisi tentang apa-apa yang saya rasa dan tentang nuansa-nuansa yang saya amati atau saya saring dari kisah-kisah yang sampai pada saya.  Sebagian mungkin pernah kalian baca di blog ini, atau pernah saya tunjukkan langsung. Kebanyakan masih tentang cinta, meski cukup banyak juga yang menyangkut keresahan pribadi saya tentang hidup, cara hidup, Ketuhanan, dan lainnya.

Masih banyak puisi dalam buku ini yang mungkin tak layak disebut puisi, tapi karena saya menyusun dan (akan) mencetaknya dengan niat untuk memuaskan diri sendiri, maka mereka bisa terjustifikasi.  Baru hari ini seratus satu puisi itu selesai dibuat dan disusun.  Akan segera saya cetak begitu Arun (yang sedang sibuk dengan perkuliahan S2 dan pekerjaannya) punya waktu untuk merancang covernya.  Bukan saya tak percaya pada teman-teman lain, tapi saya punya sentimen tersendiri terhadap Arun sebab ia sudah membantu saya sejak buku pertama.

Demikian.  Semoga Arun cepat punya waktu luang untuk membantu saya.

P.S. berikut adalah puisi ke seratus satu dalam buku ini:

Seratus (Lebih Satu)

Semua kisah disampaikan dari tengah, kau tahu?
Termasuk yang kita sebut sejarah itu;
Sebab tak ada yang ingat tentang titik mula-mula,
Kecuali Satu

Darinya semua berawal, lalu menyebar
Saling jalin, saling pilin, menjadi satu yang menyeribu
Kausalitas yang tak mampu kita urai ujung pangkalnya

Jadi, yang kita pakai untuk memulai kisah bukan awal yang benar-benar
Tapi awal sekedar; yang kita pilih untuk mempermudah cerita
Seratus yang kita jadikan satu

Demikianlah, aku membagi soal ini sebagai pengingat
Sebab aku sendiri tak ingin lupa
Bahwa yang ada tak benar-benar ada, selain yang kupilih sendiri
Dan realita adalah ilusi yang harus kita jalani
Sebelum kembali pada Satu
yang Sejati

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.