Sunday, March 8, 2015

Purnama

faded light,
no sun to shine upon her
darker night,
no hand to wipe the tears

but there is hope;
always there
of a new sun to rise
of a life brighter
of another

waning strength, forced laughter
but those eyes will smile again
for time always eases the pain
and prayers will be answered.

Reminiscing

Purnama.

Sudah berapa lama sejak terakhir kau menyengajakan diri
Duduk di bawah langit untuk merindunya lewat puisi
Sampai malam jadi terlalu dingin untukmu?
Seratus dua puluh siklus?
Lebih. Tak mungkin kurang. Aku tahu kau terus menghitung diam-diam.

Cahaya menyejukkan.

Padahal kau tak mengenalnya benar-benar.
Yang kau simpan hanya wajahnya, rasamu, dan potongan-potongan kabar:
Ia terus berjalan.
Pernikahan. Kelahiran. Lalu hujan.
Dari sepasang mata yang kehilangan.
Aku ingat kau juga menangis untuk hatinya.

Ia menciptakan penyair.

Puisimu lahir dari rasa tanpa suara.
Kata-kata yang kau simpan di lipatan kenang.
Mantra metamorfosa yang mengubahmu pelan-pelan.
Kerangka kepribadian.
Berawal darinya.

Sampai pagi tiba lagi.

Sudah sangat lama.
Sesungguhnya siklus itu berhenti hanya di kepalamu saja.
Ketika ia kau jadikan cerita.
Dalam hatimu, ia masih Purnama.

Thursday, March 5, 2015

Pada Celah-Celah Fajar

kepada Mia Yamaniastuti

Akan kau temukan yang kau cari.
Ketika kau merundukkan diri.
Pada celah-celah fajar.

Kau bertualang bersama matahari,
berjalan, berlari, terpuruk, dan bangkit lagi
demi mimpi
demi hati.

Kau mampu menyelipkan tawa di sela sedumu
tidakkah itu berarti ada kuat dalam lemahmu?
Kau bisa terus menjadi atau berhenti,
tapi kita tahu pasti apa yang kau pilih:
Ekspresi.

Akan kau temukan yang kau cari dari hari.

Pada celah-celah fajar.
Sebab Tuhan mendengar.

Tuesday, February 24, 2015

Rahasia

Nama-Nama Rahasia

Kita semua menyimpan nama-nama
Yang dirahasiakan dalam sandi-sandi
Untuk menandai masa lalu

Nama-nama yang kita simpan diam-diam
Sebab tak bermakna bagi siapa-siapa
Kecuali kita sendiri (dan mereka yang akhirnya dipilih)

Nama-nama yang kita rahasiakan
Sebab dunia hanya akan melihat luka pada kisahnya
Sementara kita tahu, kita tak mungkin ada tanpa nama-nama
Itu.


Rahasia Nama-Nama

Ia masih menyimpan nama-nama
Diabadikan sebagai kerangka inspirasi
Bentuk apresiasi atas memori
--begitu akunya--

Lalu, apakah namaku disimpannya?
Dimana?
Atau memori kami tak memenuhi kriteria
Untuk dibuat abadi?

Ini rahasia, tapi ia memberitahu:
Hanya yang hilang yang perlu dikenang.


Rasa Rahasia

Ada rahasia 
Residu cerita 
Cendera mata yang tak perlu dipajang 
Dari masa yang tinggal kenang

Sebab sejarah kisah terpisah dari kini
Jangan dicari

Ada rasa 
Sisa bintang, senja, purnama
Dulu tanda silang pada peta
Pada perjalanan yang tak tiba

Sebab jejak mengingat luka
Selipkan di relung lupa

Ada rasa yang tak boleh dibuka
Ada rahasia yang harus dilupa

                                                Fiani R.
                                              Februari 2015
 
 
 

Celana Pendek Jeans Hampir Abu-Abu

Saya punya sebuah celana jeans pendek.  Awalnya celana itu adalah sebuah jeans panjang berwarna hitam.  Hitamnya sangat kelam, seingat saya.  Atau mungkin biasa saja dan ingatan saya yang menghiperbola?  Entah.  Tapi, lupakan saja.  Tak penting sehitam apa warnanya sebab celana itu kini berwarna hampir abu-abu.  Saya memiliki celana ini sejak SMA dan saya terhitung jarang mengenakannya.  Kemudian, ketika saya bertambah tinggi beberapa senti, celana ini tak lagi mampu menjangkau mata kaki.  Ketidaknyamanan ini saya akali.  Celana jeans panjang itu saya potong sampai panjangnya hanya setengah betis.  Kemudian, ujungnya saya lipat dan kelim sehingga resmilah ia menjadi celana pendek.

Sejak saya potong bertahun-tahun lalu, celana ini menjadi celana kesukaan saya.  Bahan jeans yang keras itu telah melembut setelah beratus kali dicuci-jemur dan dipakai lagi.  Nyaman yang saya rasakan ketika mengenakan celana ini tak tertandingi oleh celana-celana lain yang saya miliki.  Tak peduli apa bahannya, berapa harganya, atau seperti apa modelnya, tak ada yang mampu menyaingi jeans pendek hampir abu-abu saya.  Istri saya beberapa kali mengomentari, "Kok celana itu masih dipakai, ga ada celana lain ya?"  Komentar istri saya itu didasari oleh rasa sayang, ia tak mau saya tampil di muka umum dengan keadaan yang tak rapi.  Maka, lahirlah kompromi antara kami.  Celana kesukaan ini hanya saya pakai di rumah.  Hampir setiap hari.  Saya absen memakainya hanya ketika ia dicuci dan dijemur, itu pun hanya sehari; dua hari kalau kebetulan musim hujan dan ia tak kering dijemur.

Meski warnanya sudah pudar (yang menurut istri saya sudah masuk kategori kuleuheu atau kumal), saya tetap memakai celana ini.  Ini bukan masalah kepraktisan atau penampilan atau nostalgia berlebihan.  Ini masalah kenyamanan.  Kalau seandainya celana ini sobek di bagian pantat atau kelimannya sudah tak berbentuk atau sakunya sudah bolong-bolong atau resletingnya sudah macet, mungkin saya tak akan mengenakannya lagi.  Tapi, selama ia masih layak pakai dan masih mampu memenuhi apa yang saya butuhkan dari sebuah celana, saya tak akan membuangnya.

Terserah apa yang ingin atau bisa kalian baca dari tulisan kali ini.  Kalian mungkin ingin berfilosofi dan menyadari bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk mengubah sesuatu yang keras dan tak nyaman menjadi sesuatu yang sangat nyaman dan tak ingin dilepaskan, atau bahwa habituasi (pembiasaan) akan mengubah sudut pandang.  Kalian mungkin jadi teringat dengan barang kesayangan kalian dan bernostalgia.  Atau kalian mungkin merasa menyesal telah membuang waktu untuk membaca sesuatu yang percuma.  Tak apa, saya hanya ingin berbagi saja.  Menuliskan tentang sesuatu yang berarti bagi saya, meski tidak bagi orang lain.

Terima kasih.  Selamat sore




Monday, February 23, 2015

Sore Sempurna

Hampir senja.
Kurasa aku masih ingat resepmu:
Sesendok coklat (sebab air bening tak boleh diminum); secangkir hangat;
Tambah sebongkah rasa.
Ditaburi rintik hujan dan dia.

Resepku, lebih sederhana:
Sepiring lamunan
Ditumbuk halus dengan bayang dan kenang (kau tahu tentang siapa);
Disajikan dengan cahaya menjelang senja.
Atau, kalau tak ada bahan, sekeping buku saja.

Voila!
Soreku sudah jadi.
Mari, selamat menikmati.

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.