Ketika pita hilang suara
semoga kata-katanya tetap ada
dan makna masih terjaga meski tak sepenuhnya
sama
Ketika pita hilang suara
semoga kisahnya tetap diingat
dan pelajaran masih dikaji meski tak sepenuhnya
dipahami
Ketika pita hilang suara
semoga kita tetap ada di benaknya
dan kenangan masih tersimpan meski tak sepenuhnya
terang
Ketika pita hilang suara
semoga kita tak jadi tuli juga
Saturday, June 6, 2015
What the Hell Happened to You?
What the hell happened to you?
You with your keen mind and progressive thoughts
have always fought hardest to survive.
And you did thrive, without too many bruises on your chest if I may add.
But what the hell happened to you?
Have all your sacrifices finally taken their toll on you
that you now have to put a mask of bravado and the falsest smile just to face the mirror?
What the hell happened that changed your mind?
What could possibly convinced you that your struggle will not earn you anything?
What the hell happened to you that you can no longer wait another day to give up and give in?
What the hell happened to you that put out your brightest spark of faith?
What the hell, man?
What the hell happened
that you now trod the path I walked on, the path whose end you already know,
that you used to sneered at?
What the hell happened to you that you choose to repeat my mistakes?
What the hell happened that made you forget the lessons we learned?
What the hell happened to you, man?
I can't stop asking because I just can't accept who you are now.
For I adore who you were, whom I aspire to be.
But, what the hell.
I guess even the mightiest can fall and fail.
You with your keen mind and progressive thoughts
have always fought hardest to survive.
And you did thrive, without too many bruises on your chest if I may add.
But what the hell happened to you?
Have all your sacrifices finally taken their toll on you
that you now have to put a mask of bravado and the falsest smile just to face the mirror?
What the hell happened that changed your mind?
What could possibly convinced you that your struggle will not earn you anything?
What the hell happened to you that you can no longer wait another day to give up and give in?
What the hell happened to you that put out your brightest spark of faith?
What the hell, man?
What the hell happened
that you now trod the path I walked on, the path whose end you already know,
that you used to sneered at?
What the hell happened to you that you choose to repeat my mistakes?
What the hell happened that made you forget the lessons we learned?
What the hell happened to you, man?
I can't stop asking because I just can't accept who you are now.
For I adore who you were, whom I aspire to be.
But, what the hell.
I guess even the mightiest can fall and fail.
Friday, June 5, 2015
Daydream
Purnama berwarna tembaga. Itu yang aku lihat tiga hari lalu. Warnanya campuran antara merah dan jingga, dengan komposisi yang sulit ditentukan. Di bawah purnama itu, aku bermain 'bagaimana kalau.' Aku berandai-andai tentang perbedaan makna dalam benak manusia. Tersusunlah sebuah cerita di kepalaku, malam itu. Cerita tanpa rincian, hanya garis besar.
Bagaimana seandainya ada seorang anak yang diperkenalkan pada Purnama oleh Ayahnya. Bagi sang ayah, yang adalah seorang pelaut, Purnama menandakan siklus pasang surut. Makna Purnama baginya selalu berhubungan dengan kegiatan pemancingan di laut lepas. Tentang gelombang pasang, tentang angin kencang, tentang susahnya menangkap ikan. Bukan tentang romantisme remaja seperti dalam novel-novel yang dibaca anaknya. Setiap bulan, selama bertahun-tahun, si Ayah bercerita kepada anaknya di bawah purnama (kecuali jika sedang hujan). Ceritanya beragam, tapi semua berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan yang diyakini oleh si Ayah.
Lalu, ketika si Anak beranjak dewasa, dan membentuk nilainya sendiri, ia memaknai Purnama dengan berbeda. Baginya Purnama bukanlah tentang pasang surut laut, tapi tentang kasih sayang dan kisah-kisah. Purnama dimaknainya sebagai penanda bahwa Ayahnya selalu bisa menyempatkan diri dan meluangkan waktu untuk mengajarinya lewat cerita, setiap bulan tanpa alpa. Itulah sebabnya, ketika ia bertemu dengan seorang wanita yang sangat menginspirasi, wanita itu dijulukinya Purnama. Diantara beragam hal lain yang mempengaruhi dan menentukan pola pikirnya, dua pengalaman yang (dalam pikirannya) diidentikkan dengan purnama ini cukup besar pengaruhnya. Purnama baginya lebih dari sekedar siklus bulan-matahari-bumi. Purnama diartikannya sebagai sebuah pengalaman emosional yang sangat dekat dengan hati, sangat pribadi.
Demikianlah, bertahun-tahun sejak ia remaja sampai ia berkeluarga, si Anak menjalani hidupnya dengan menyelipkan Purnama di celah-celah perjalanannya. Ia meneruskan tradisi duduk di bawah Purnama (kecuali jika hujan) dan merenungi nilai-nilai hidupnya. Pun ketika ia telah memiliki seorang putri. Ia memperkenalkan Purnama pada putrinya dan membagikan kisah-kisahnya tentang Purnama, dan kisah-kisah Ayahnya tentang Purnama. Ia mengajarkan pada putrinya untuk memaknai sendiri Purnama dan pengalamannya.
Gadis kecil itu tumbuh dengan kekaguman terhadap alam. Bukan hanya Purnama, ia juga mengagumi Bintang, Sabit, Hujan, Mendung, Matahari, Senja, Fajar, Debu, Kerikil, dan apapun yang ada di sekitarnya. Suatu saat nanti, ia mungkin akan meneruskan tradisi ayah dan kakeknya bercerita di bawah Purnama, mungkin juga ia malah akan membuat tradisi sendiri atau justru melupakan tradisi itu. Tak ada yang tahu. Lamunanku pun tidak sampai menyelesaikan kisah si Gadis Kecil, sebab istriku memanggil dan menyuruh istirahat, "Sudah tengah malam," katanya.
Di bawah purnama berwarna tembaga itu, aku kembali diingatkan bahwa tiap orang memiliki pemahaman dan pemaknaan berbeda tentang satu hal yang sama. Dan perbedaan itu menjadikan kita tidak bisa (tidak harusnya) menilai orang lain dengan standar nilai kita sendiri. Dan bahwa identitas kita dipengaruhi oleh orangtua (entah kita menyepakati nilai mereka, menentang nilai mereka, atau mengkompromi nilai mereka dengan nilai kita).
Selamat pagi.
Tuesday, June 2, 2015
Nisbi
Tak ada yang benar-benar nyata dari indera
pun dari rasa
semua hanya makna yang kau konstruksi sendiri dalam kerangka
yang berbeda-beda
Jadi kalau kau pergi, tak ada apa-apa yang terbawa
tak ada apa-apa yang menjadi
kecuali makna baru dalam konstruksimu sendiri
yang beda
Kebenaran ada di luar sana
sementara bahagia ada dalam hatimu sendiri
yang tak pernah berhenti bertransformasi
Thursday, May 28, 2015
Sindrom Entah-Apa-Namanya
Ini sindrom yang aneh, tapi umum. Orang-orang yang sering (dan suka) menulis kadang mengalaminya. Gejala sindrom ini adalah ide menghampirimu ketika kau sedang tidak bisa (atau tidak sempat) menulis, dan hilang ketika kau sudah benar-benar siap, Dan tak ada yang lebih menyebalkan dari itu; dari ketika kau sangat ingin menulis tapi ide meninggalkan kepalamu sekosong-kosongnya.
Kalau ada yang tahu nama sindrom ini, tolong beritahu saya.
Terima kasih.
Sunday, May 17, 2015
Apa yang Kubutuhkan untuk Menulis?
Apa yang kau butuhkan untuk menulis? Pertanyaan ini pernah saya baca di salah satu blog milik salah seorang dosen saya. Di tulisannya itu, beliau memaparkan apa-apa yang beliau butuhkan untuk menulis, baik yang memang berhubungan erat dengan kepenulisan maupun yang hanya sekedar pelengkap. Di akhir tulisannya, beliau mengajukan pertanyaan (yang sepertinya retoris) kepada pembaca tentang apa yang mereka butuhkan untuk menulis.
Akhir-akhir ini, saya sendiri mempertanyakan hal yang sama. Apakah yang kurang sehingga saya susah menulis? Apa yang perlu dibenahi agar saya bisa memaparkan pemikiran saya dengan lugas sekaligus lincah? Apa yang saya butuhkan untuk membuat tulisan saya menyenangkan untuk dibaca? Dan saya masih belum menemukan jawabannya.
Ada beberapa jawaban yang sudah saya pertimbangkan sebenarnya. Yang pertama adalah waktu. Waktu untuk berlatih (mengembangkan kemampuan dan keahlian) menulis serta waktu pribadi untuk menuliskan gagasan. Sejauh ini, saya merasa kemampuan kepenulisan saya masih sangat jauh dari kategori sempurna (atau minimalnya 'sangat bagus'). Bekerja sebagai penerjemah tidak lantas membuat saya jadi ahli menulis. Saya memang menyerap banyak pelajaran dari bahan-bahan yang saya terjemahkan, termasuk berbagai struktur dan gaya penulisan yang baik. Tapi itu belum benar-benar terinternalisasi dalam diri saya sehingga produk akhir tulisan saya tetap kurang baik. Untuk urusan teknis seperti tanda baca dan ejaan, bolehlah saya sedikit merasa yakin. Untuk urusan pemaparan gagasan, lain lagi ceritanya. Seperti saya katakan tadi, saya butuh waktu lebih banyak untuk berlatih menyusun tulisan. Waktu yang (meski sebenarnya bisa saja saya usahakan), sayangnya, terasa sulit disediakan.
Tiga buku tentang kepenulisan yang ada di rak buku saya (Pokoknya Menulis dari Chaedar dan Senny Alwasilah, Mengarang Itu Gampang dari Arswendo Atmowiloto, dan Stephen King on Writing dari Stephen King) mengemukakan satu hal yang sama: hampir tak ada cara lain untuk menjadi penulis selain menulis. Proses pengembangan kemampuan lewat pembelajaran (kuliah, seminar, membaca buku dan artikel, menerjemahkan) memang memiliki dampak terhadap kepenulisan seseorang, namun dampak tersebut hanya pada level pengetahuan, bukan level praktek. Untuk bisa menjadi penulis yang mumpuni, pengetahuan-pengetahuan ini harus diinternalisasi lewat praktek menulis sesering mungkin. Dan untuk sering menulis, saya harus bisa menyediakan waktu. Jam kerja yang menghabiskan sepanjang hari saya jelas tidak memadai untuk menulis, oleh sebab itu saya biasanya hanya mencatat ide-ide yang terlintas saja ketika jam kerja. Sore hari adalah jatah Zia, ini mutlak tak bisa diganggu-gugat. Saya tak mau ikatan kami kendor hanya karena waktu kebersamaan kami berkurang. Malam hari barulah saya bisa sedikit-sedikit menyusun tulisan di kepala saya dan mengetiknya. Tapi itupun tak selalu, sebab seringkali otak saya terlalu lelah untuk diajak melakukan perjalanan penelusuran labirin gagasan. Intinya, saya harus bisa memaksakan diri menyediakan waktu untuk menulis.
Yang kedua, yang saya butuhkan untuk menulis adalah 'percik semangat' ('spark') yang bisa membangunkan jiwa penulis yang tertidur dalam diri saya. Ketika di SMA, saya banyak menulis puisi (meski kualitasnya sangat standar puisi remaja yang baru belajar menulis). Kebanyakan tulisan itu berasal dari apa yang saya rasakan sendiri dan dari apa yang saya rumuskan dari cerita yang teramati oleh saya. Di masa SMA, jiwa remaja saya banyak melakukan pengamatan dan penelusuran yang berhubungan dengan identitas. Pengamatan dan penelusuran itulah yang menjadi 'percik' awal yang membuat saya menulis. Saya, ketika itu, menulis untuk lebih memahami apa yang saya amati, sama seperti seorang siswa yang mencatat penjelasan gurunya untuk lebih mengerti apa yang ia pelajari. Di masa kuliah, saya masih menulis puisi. Beberapa kali mencoba menulis cerpen dengan hasil yang tidak memuaskan. Kebanyakan cerpen saya tidak selesai. Hanya ada dua cerpen yang cukup bisa saya banggakan, keduanya memberikan saya nilai A untuk mata kuliah Writing. 'Percik' semangat dari dosen dan kebutuhan akan nilai serta gengsi pribadi membuat saya bisa menghasilkan dua kisah yang bagus. Dua cerpen itu menyadarkan saya bahwa sebenarnya saya bisa menulis cerpen, jika saya benar-benar memaksakan diri. Tapi, setelah itu, saya tidak pernah lagi bisa menulis cerita pendek yang baik, meski ada beberapa gagasan yang menurut saya cukup bagus untuk di-cerpen-kan. Saya kehilangan 'spark' untuk menulis.
Hal ketiga yang saya rasa saya butuhkan untuk menghasilkan tulisan yang baik adalah keresahan dan kegelisahan. Salah seorang teman saya yang tulisan-tulisannya sudah berkali-kali dimuat media pernah mengomentari sejumlah puisi terbaru saya. Isi komentarnya kurang lebih menyatakan bahwa ia lebih suka puisi-puisi saya semasa kuliah dulu; "lebih bernyawa," katanya. Komentar itu dilanjutkan dengan pendapatnya bahwa "kamu mungkin sudah terlalu mapan sekarang, tulisanmu tidak lagi menguarkan kegelisahan," sehingga terkesan datar. Menurutnya, harusnya kemapanan saya termanifestasi dalam bentuk kematangan puisi. Kalau memang saya tak lagi bisa membuat puisi yang 'jahil', 'nakal', atau menyentil emosi, itu harusnya karena puisi saya sudah lebih matang, lebih dewasa, bukan malah jadi selongsong kosong yang biasa-biasa saja. Saya rasa pendapat teman saya itu memang benar. Saya butuh keresahan untuk bisa menyelipkan emosi dalam tulisan saya sehingga karya itu bisa menggugah emosi pembaca. Dan jabatan sebagai kepala rumah tangga membuat saya secara aktif menghindari keresahan dan kegelisahan, sebab keresahan akan membuat saya goyah. Saya harus belajar membelah diri agar keresahan yang saya butuhkan untuk menulis tidak menjadi keresahan personal, tidak mewujud dalam kehidupan keseharian saya. Faktor inilah yang paling sulit saya olah.
Jadi, agar saya bisa menghasilkan tulisan yang baik lagi, saya harus menggali keresahan (sekaligus mengkotakkannya dalam kerangka yang tepat), menjadikan keresahan itu sebagai 'percik' untuk menulis, dan menyediakan waktu untuk berlatih menulis.
Itu saya. Kalau Anda, bagaimana? Apa yang Anda butuhkan untuk menulis?
Friday, May 1, 2015
Banyak
Banyak yang terlewat
ketika waktu menjadi benang yang meregang tegang
ketat
tak cukup panjang
melewatkan dirinya pada lubang-lubang hariku
liang-liang hatiku yang tak sempat menjadi cukup cepat
untuk tak hilang
Banyak...
semoga tak lagi kurang
apa kabar?
ketika waktu menjadi benang yang meregang tegang
ketat
tak cukup panjang
melewatkan dirinya pada lubang-lubang hariku
liang-liang hatiku yang tak sempat menjadi cukup cepat
untuk tak hilang
Banyak...
semoga tak lagi kurang
apa kabar?
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
- Verly Hyde
- seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.