Hari nanti ganti menangisi:
Manis yang habis
Sumpah yang sampah
Segaris sabit memahat pahit di langit:
Ingin melupa luka
Mendusta duka
Malam mencaci jika
Pagi memaki maka
Embun meluruk di pelupuk
Siang hilang cahaya
Asa tersia.
Tuesday, August 11, 2015
Saturday, July 25, 2015
maaf, tulisan saya masuk draft lagi
Maaf.
Tadinya saya ingin menulis agak panjang tentang karya-karya Chin Yong yang sedang saya baca ulang, yang dalam komputer saya dimasukkan dalam folder berjudul Heroes Series karena novel-novel tersebut merupakan semacam serial petualangan para jagoan silat, mulai dari Racun Barat dan kawan-kawan, Kwee Ceng dan Oey Yong, Yo Ko dan Siaw Long Lie, Thio Sam Hong dan Thio Bu Kie, dan seterusnya sampai beberapa generasi. Total ada sembilan buku. Saat ini saya baru membaca (ulang) sampai buku keempat, yaitu To Liong To alias Golok Pembunuh Naga.
Tadinya, sehabis mengajar hari ini, saya ingin mampir ke warnet barang sejam untuk menuliskan apa yang ingin saya tuliskan mengenai hal diatas. Tapi, berhubung saya sudah menjanjikan jam kepulangan kepada istri, dan berhubung warnet langganan sedang bermasalah, saya hanya punya waktu sekitar 20 menit saja. Dua puluh menit itu, saya rasa, tidaklah cukup untuk saya menguraikan pemikiran saya dengan baik tanpa terburu-buru. Oleh sebab itu, tulisan saya masuk draft lagi, untuk nanti saya perbaiki dan lengkapi sebelum "diterbitkan" disini.
Selamat siang dan
Maaf.
Tadinya saya ingin menulis agak panjang tentang karya-karya Chin Yong yang sedang saya baca ulang, yang dalam komputer saya dimasukkan dalam folder berjudul Heroes Series karena novel-novel tersebut merupakan semacam serial petualangan para jagoan silat, mulai dari Racun Barat dan kawan-kawan, Kwee Ceng dan Oey Yong, Yo Ko dan Siaw Long Lie, Thio Sam Hong dan Thio Bu Kie, dan seterusnya sampai beberapa generasi. Total ada sembilan buku. Saat ini saya baru membaca (ulang) sampai buku keempat, yaitu To Liong To alias Golok Pembunuh Naga.
Tadinya, sehabis mengajar hari ini, saya ingin mampir ke warnet barang sejam untuk menuliskan apa yang ingin saya tuliskan mengenai hal diatas. Tapi, berhubung saya sudah menjanjikan jam kepulangan kepada istri, dan berhubung warnet langganan sedang bermasalah, saya hanya punya waktu sekitar 20 menit saja. Dua puluh menit itu, saya rasa, tidaklah cukup untuk saya menguraikan pemikiran saya dengan baik tanpa terburu-buru. Oleh sebab itu, tulisan saya masuk draft lagi, untuk nanti saya perbaiki dan lengkapi sebelum "diterbitkan" disini.
Selamat siang dan
Maaf.
Monday, July 13, 2015
Kapan Kita Pun?
Kucing di genting, cicak di dinding
Bukan maling, bukan main-main
Burung di ranting
Riuh musim kawin
Ah, pusing . . . biarin!
Bukan maling, bukan main-main
Burung di ranting
Riuh musim kawin
Ah, pusing . . . biarin!
Saturday, June 27, 2015
Bayang Bulan di Muka Sungai
Beku di sungai itu
Mencermin bulan
Cahaya menjadi tanya:
Apa yang dilihat mata sebenarnya?
Di muka sungai ada bayang bulan.
Di langit ada cahaya bulan.
Dimana bulan?
Ilusikah bulan?
Matamu memantulkan sungai beku.
Sungai memantulkan yang kau sebut bayang bulan.
Bulan sendiri cermin yang memantulkan matahari.
Jadi apa yang dilihat mata sebenarnya, pantulan ilusi?
Bulan beku di sungai beku.
Tak di atas, tak di dalam.
Di mukanya membayang.
Di matamu menggenang.
Kenang.
Mencermin bulan
Cahaya menjadi tanya:
Apa yang dilihat mata sebenarnya?
Di muka sungai ada bayang bulan.
Di langit ada cahaya bulan.
Dimana bulan?
Ilusikah bulan?
Matamu memantulkan sungai beku.
Sungai memantulkan yang kau sebut bayang bulan.
Bulan sendiri cermin yang memantulkan matahari.
Jadi apa yang dilihat mata sebenarnya, pantulan ilusi?
Bulan beku di sungai beku.
Tak di atas, tak di dalam.
Di mukanya membayang.
Di matamu menggenang.
Kenang.
Bulan Pucat
Kukira bulan bukan pengecut.
Mungkin ia takut ketika fajar tiba
Sebab selalu kulihat ia memucat.
Tapi tak pernah ia lari ke balik cakrawala,
Sembunyi dari pagi.
Ia tetap di langit sana, pucat
Semata karena kalah cahaya.
Bulan bukan pengecut;
Tak terang, memang,
Tapi tak hilang
Tak seperti bintang pada siang.
Mungkin ia takut ketika fajar tiba
Sebab selalu kulihat ia memucat.
Tapi tak pernah ia lari ke balik cakrawala,
Sembunyi dari pagi.
Ia tetap di langit sana, pucat
Semata karena kalah cahaya.
Bulan bukan pengecut;
Tak terang, memang,
Tapi tak hilang
Tak seperti bintang pada siang.
Sunday, June 7, 2015
Solitaire
cahaya pada cermin
menghidupkan iring-iringan angka di atas meja
seolah mereka memang barisan pengiring raja
tapi lembar-lembar kartu adalah bisu
yang meneriakkan kesendirian
keramaian itu cuma usaha untuk menghabiskan waktu
agar hari tak terasa terlalu sepi
cahaya pada cermin
menghidupkan arak-arakan warna di pangkuan
seolah mereka memang festival kebahagiaan
tapi lembar-lembar kartu adalah bisu
yang meneriakkan kesendirian
keceriaan itu cuma usaha untuk menipu diri
agar hati tak terlalu terasa sunyi
cahaya pada cermin
menghidupkan lompatan-lompatan badut pelawak
seolah ia memang penghibur yang diundang
tapi lembar kartu adalah bisu
yang meneriakkan kesendirian
kesendirian mata yang menatap cermin
yang hampir buta karena cahaya.
menghidupkan iring-iringan angka di atas meja
seolah mereka memang barisan pengiring raja
tapi lembar-lembar kartu adalah bisu
yang meneriakkan kesendirian
keramaian itu cuma usaha untuk menghabiskan waktu
agar hari tak terasa terlalu sepi
cahaya pada cermin
menghidupkan arak-arakan warna di pangkuan
seolah mereka memang festival kebahagiaan
tapi lembar-lembar kartu adalah bisu
yang meneriakkan kesendirian
keceriaan itu cuma usaha untuk menipu diri
agar hati tak terlalu terasa sunyi
cahaya pada cermin
menghidupkan lompatan-lompatan badut pelawak
seolah ia memang penghibur yang diundang
tapi lembar kartu adalah bisu
yang meneriakkan kesendirian
kesendirian mata yang menatap cermin
yang hampir buta karena cahaya.
Saturday, June 6, 2015
Purnama Tembaga
Purnama tembaga
malu pada pucuk-pucuk jambu
menyapa, "Apa kabarmu?"
Pemuda itu bersiap jadi pemuja
mengirim harap lewat asap
semoga ia ingat
Purnama tembaga
menguning di puncak kepala
mengajak kenang naik ke permukaan
Pemuja itu menyiapkan kisah
merapal do'a purna
semoga ia tak hilang
--Lalu malam jadi kabut, mengundang embun.
Puja pemuda itu terjebak antara do'a dan dosa
Antara dulu dan nanti, menjelang dini
Matahari mata hati--
Purnama tembaga
diselimut kabut dini hari
menyelip senyum pada fajar hujan,
"Sampai jumpa lagi."
Pemuda pemuja itu jadi tua
jadi kenang yang terselip dibalik kata-kata
pagi melupa malam.
malu pada pucuk-pucuk jambu
menyapa, "Apa kabarmu?"
Pemuda itu bersiap jadi pemuja
mengirim harap lewat asap
semoga ia ingat
Purnama tembaga
menguning di puncak kepala
mengajak kenang naik ke permukaan
Pemuja itu menyiapkan kisah
merapal do'a purna
semoga ia tak hilang
--Lalu malam jadi kabut, mengundang embun.
Puja pemuda itu terjebak antara do'a dan dosa
Antara dulu dan nanti, menjelang dini
Matahari mata hati--
Purnama tembaga
diselimut kabut dini hari
menyelip senyum pada fajar hujan,
"Sampai jumpa lagi."
Pemuda pemuja itu jadi tua
jadi kenang yang terselip dibalik kata-kata
pagi melupa malam.
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
- Verly Hyde
- seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.