Sehabis hujan,
Janji
menyiram jejak-jejak
debu di pekarangan.
Aku bertanya: kapankah kita?
Sebab ada ciuman yang tertunda.
Tungguku usai, tapi
Hujan
menguapkan kelabu awan
di langit bintang-bintang.
Aku bertanya: kapankah kita?
Sebab rasa ini harus dibagi.
Sehabis hujan,
Dingin
membekukan kenangan tangis
luka di pipi mimpi.
Aku bertanya: kapankah kita?
Sebab ada hutang kebersamaan.
Kapankah kita membalas hujan
yang menyuburkan kerinduan?
~memisahkan.
Monday, October 12, 2015
Thursday, October 1, 2015
Teman-teman (1)
Saya senang. Teman-teman saya sedang senang. Saya senang sebab teman-teman saya sedang senang.
Salah dua dari mereka menikah. Saya sebut salah dua sebab keduanya adalah teman saya, dan mereka menikah. Bagi kalian yang menganggap saya melebih-lebihkan, mungkin kalian benar. Dalam skala semesta, sebuah pernikahan tidaklah terlalu istimewa; banyak yang telah dan akan menikah, banyak yang berhasil dan banyak yang gagal. Tak ada satu pun aspek pernikahan kedua teman saya ini yang bisa membedakannya dari beratus juta pernikahan sebelum dan setelahnya. Tapi, dalam skala pribadi saya, pernikahan mereka istimewa.
Alasan pertama, keduanya teman dekat saya. Alasan kedua, circumstances menjelang dan pada hari pernikahan mereka cukup penuh kisah yang membuat pernikahan ini menjadi sebuah kelegaan. Mereka berkenalan ketika si wanita sedang belajar di luar negeri. Pertemuan tatap muka mereka mungkin bisa dihitung jari (kalau jari tangan kaki saya tak cukup untuk menghitungnya, saya akan pinjam jari tangan kaki Zia). Keterpisahan jarak hanya salah satu yang membuat hubungan mereka luar biasa (setidaknya bagi saya). Ketika ada kesalahpahaman, jarak 6000 km lebih itu tentu menghambat penyelesaian masalah. Bahkan ketika tak ada masalah pun, jarak sejauh itu tetap menghambat komunikasi. Saya ingat ketika si pria terbaring di ambang sadar di rumah sakit, si wanita sangat kelabakan mengkhawatirkan nasibnya. Saya juga ingat ketika si wanita sedang sangat sibuk dengan tugas-tugas dari para pengajarnya, si pria mencemaskan kesehatan fisik dan mentalnya. Ketika si pria mendapat keputusan bahwa ia bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri, kerumitan hubungan mereka seketika menjadi sederhana. Sebuah pernikahan pun berlangsung. Saya bahagia karena saya tahu mereka bahagia, meski saya sedikit sedih karena saya tahu mereka cukup menyesali ketidakhadiran teman-teman dekat mereka pada hari pernikahan itu.
Tak ada alasan khusus kenapa saya menuliskan tentang ini disini. Saya hanya ingin mereka tak lupa bahwa saya teman mereka.
Monday, September 21, 2015
Bahagia Berdua
Romantisme adalah gagasan tentang kebahagiaan,
tentang hujan yang turun sebelum senja
dan bintang yang jatuh dini hari
agar ada yang bisa dikenang dan dikisahkan.
Tapi, siapa yang masih butuh kisah
setelah kepasrahan, harapan, dan keyakinan mewujudkan mimpi hati?
Ah, romantisme. . .
Siapa yang butuh kisah dan kenangan
Jika langit telah mempertemukan bintang dengan awan!
tentang hujan yang turun sebelum senja
dan bintang yang jatuh dini hari
agar ada yang bisa dikenang dan dikisahkan.
Tapi, siapa yang masih butuh kisah
setelah kepasrahan, harapan, dan keyakinan mewujudkan mimpi hati?
Ah, romantisme. . .
Siapa yang butuh kisah dan kenangan
Jika langit telah mempertemukan bintang dengan awan!
Tuesday, August 11, 2015
kau
kau adalah yang tiba tiba-tiba dari balik pelupuk:
airmata yang terdesak oleh rasa
yang membongkah dan membuncah pada malam-malam dimana jawab bermunculan tanpa tanya, sekedar demi mengisi keheningan yang terlalu pekat; keheningan yang kosong tapi begitu padat dan rapat sehingga sesak menyeruak di rongga-rongga kerinduan yang telah kulupa; memenuhi tiap ceruk serupa gema doa-doa yang dulu kuteriakkan ke udara di bawah mata Purnama purba.
kau adalah yang tiba tiba-tiba dari cahaya:
bayang-bayang yang melekat erat pada telapak kaki yang mengiringi kemana langkah berpindah pada hari-hari dimana lelah berkejaran dengan harapan yang dimentahkan entah, sekedar agar perjalanan seolah bertujuan; perjalanan yang sesungguhnya adalah kepergian dari himpitan ketiadaan yang begitu menekan sehingga kehilangan meruap dari celah-celah kenang pada diri, menggenangi tiap pori serupa gaung puisi-puisi yang dulu kubisikkan kepada hujan dan bintang-bintang yang berjatuhan.
kau adalah yang tiba tiba-tiba dari bawah kesadaran:
mimpi yang dijadikan oleh keinginan yang selalu menolak diwujudkan dalam bentuk sesederhana tatap mata atau genggam tangan pada kesempatan-kesempatan dimana pertemuan seharusnya adalah sebuah kebetulan yang indah; kebetulan yang seolah selalu sengaja menghindar agar tak bisa disebut pernah terjadi sehingga muntahan harap dari hati harus ditelan kembali serupa deru gelombang yang menelan dan menenggelamkan kidung-kidung yang kusenandungkan kepada senja.
kau adalah yang kini tiba tiba-tiba entah dari mana:
kata yang menyelinap ke dalam kidung do'a, memenuhi puisi seperti kau memenuhi hatiku. dulu, setelah matahari berlalu.
airmata yang terdesak oleh rasa
yang membongkah dan membuncah pada malam-malam dimana jawab bermunculan tanpa tanya, sekedar demi mengisi keheningan yang terlalu pekat; keheningan yang kosong tapi begitu padat dan rapat sehingga sesak menyeruak di rongga-rongga kerinduan yang telah kulupa; memenuhi tiap ceruk serupa gema doa-doa yang dulu kuteriakkan ke udara di bawah mata Purnama purba.
kau adalah yang tiba tiba-tiba dari cahaya:
bayang-bayang yang melekat erat pada telapak kaki yang mengiringi kemana langkah berpindah pada hari-hari dimana lelah berkejaran dengan harapan yang dimentahkan entah, sekedar agar perjalanan seolah bertujuan; perjalanan yang sesungguhnya adalah kepergian dari himpitan ketiadaan yang begitu menekan sehingga kehilangan meruap dari celah-celah kenang pada diri, menggenangi tiap pori serupa gaung puisi-puisi yang dulu kubisikkan kepada hujan dan bintang-bintang yang berjatuhan.
kau adalah yang tiba tiba-tiba dari bawah kesadaran:
mimpi yang dijadikan oleh keinginan yang selalu menolak diwujudkan dalam bentuk sesederhana tatap mata atau genggam tangan pada kesempatan-kesempatan dimana pertemuan seharusnya adalah sebuah kebetulan yang indah; kebetulan yang seolah selalu sengaja menghindar agar tak bisa disebut pernah terjadi sehingga muntahan harap dari hati harus ditelan kembali serupa deru gelombang yang menelan dan menenggelamkan kidung-kidung yang kusenandungkan kepada senja.
kau adalah yang kini tiba tiba-tiba entah dari mana:
kata yang menyelinap ke dalam kidung do'a, memenuhi puisi seperti kau memenuhi hatiku. dulu, setelah matahari berlalu.
Patah Hati
Hari nanti ganti menangisi:
Manis yang habis
Sumpah yang sampah
Segaris sabit memahat pahit di langit:
Ingin melupa luka
Mendusta duka
Malam mencaci jika
Pagi memaki maka
Embun meluruk di pelupuk
Siang hilang cahaya
Asa tersia.
Manis yang habis
Sumpah yang sampah
Segaris sabit memahat pahit di langit:
Ingin melupa luka
Mendusta duka
Malam mencaci jika
Pagi memaki maka
Embun meluruk di pelupuk
Siang hilang cahaya
Asa tersia.
Saturday, July 25, 2015
maaf, tulisan saya masuk draft lagi
Maaf.
Tadinya saya ingin menulis agak panjang tentang karya-karya Chin Yong yang sedang saya baca ulang, yang dalam komputer saya dimasukkan dalam folder berjudul Heroes Series karena novel-novel tersebut merupakan semacam serial petualangan para jagoan silat, mulai dari Racun Barat dan kawan-kawan, Kwee Ceng dan Oey Yong, Yo Ko dan Siaw Long Lie, Thio Sam Hong dan Thio Bu Kie, dan seterusnya sampai beberapa generasi. Total ada sembilan buku. Saat ini saya baru membaca (ulang) sampai buku keempat, yaitu To Liong To alias Golok Pembunuh Naga.
Tadinya, sehabis mengajar hari ini, saya ingin mampir ke warnet barang sejam untuk menuliskan apa yang ingin saya tuliskan mengenai hal diatas. Tapi, berhubung saya sudah menjanjikan jam kepulangan kepada istri, dan berhubung warnet langganan sedang bermasalah, saya hanya punya waktu sekitar 20 menit saja. Dua puluh menit itu, saya rasa, tidaklah cukup untuk saya menguraikan pemikiran saya dengan baik tanpa terburu-buru. Oleh sebab itu, tulisan saya masuk draft lagi, untuk nanti saya perbaiki dan lengkapi sebelum "diterbitkan" disini.
Selamat siang dan
Maaf.
Tadinya saya ingin menulis agak panjang tentang karya-karya Chin Yong yang sedang saya baca ulang, yang dalam komputer saya dimasukkan dalam folder berjudul Heroes Series karena novel-novel tersebut merupakan semacam serial petualangan para jagoan silat, mulai dari Racun Barat dan kawan-kawan, Kwee Ceng dan Oey Yong, Yo Ko dan Siaw Long Lie, Thio Sam Hong dan Thio Bu Kie, dan seterusnya sampai beberapa generasi. Total ada sembilan buku. Saat ini saya baru membaca (ulang) sampai buku keempat, yaitu To Liong To alias Golok Pembunuh Naga.
Tadinya, sehabis mengajar hari ini, saya ingin mampir ke warnet barang sejam untuk menuliskan apa yang ingin saya tuliskan mengenai hal diatas. Tapi, berhubung saya sudah menjanjikan jam kepulangan kepada istri, dan berhubung warnet langganan sedang bermasalah, saya hanya punya waktu sekitar 20 menit saja. Dua puluh menit itu, saya rasa, tidaklah cukup untuk saya menguraikan pemikiran saya dengan baik tanpa terburu-buru. Oleh sebab itu, tulisan saya masuk draft lagi, untuk nanti saya perbaiki dan lengkapi sebelum "diterbitkan" disini.
Selamat siang dan
Maaf.
Monday, July 13, 2015
Kapan Kita Pun?
Kucing di genting, cicak di dinding
Bukan maling, bukan main-main
Burung di ranting
Riuh musim kawin
Ah, pusing . . . biarin!
Bukan maling, bukan main-main
Burung di ranting
Riuh musim kawin
Ah, pusing . . . biarin!
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
- Verly Hyde
- seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.