Sunday, May 11, 2014

just a quote from a movie

How do you pick up the threads of an old life?
How do you go on, when in your heart you begin to understand
there's no going back.
There are some things that time cannot mend:
some hurts that go too deep, that have taken hold.

--Frodo Baggins, The Lord of the Ring: Return of the King--

Friday, May 9, 2014

Ia Lewat, Tak Sempat Singgah

satu
jatuh
tumbuh
sayap sebelum sampai tanah

dua
luka
patah
ditembus panah

satu (yang sempat pecah jadi seribu)
pilu
menunggu
bekas luka rindu

(tawa tak berarti hilangnya luka;
  luka tak berarti hilangnya tawa;
  hanya, bahagia jadi entah.)

Morning Rituals on script

Act begins.

(Pagi hari.  Setelah jalan-jalan pagi dan memetik sejumlah bunga liar).

Zia:    "Ayah, Bunda mana?" (dengan nada penasaran)
Ayah: "Kan, Bunda kerja... kamu lupa?"
Zia:    "Lupa, Zianya. Hehehehe.... Ayah, lupa Zianya.... Ayah kerja?"
Ayah: "Iya, dong.  Kan Ayah mau mandi, terus ganti baju, terus kerja, deh."

Zia:    "Ayo masak-masakan, Ayaaah."
Ayah: "Jangan pake ngerengek, dong. Ayah ga mau kalo kamu ngerengek."
Zia:    "Ayo, masak-masakan, Ayah."
Ayah: "Sok, ambil kompornya."
Zia:    "Ama Ayah, dong."
Ayah: "Kok ama Ayah?  Ama Zia dong, Ayah kan mau mandi."
Zia:    "Minta tolong, Ayah. Ambilin kompor."
Ayah (sambil mengambilkan kompor mainan di kotak mainan): "Ama apa lagi, Putri Cantik?"
Zia:   "Ama sendok... ama minyak... ama bumbu... ama... apa lagi ya?"
Ayah: "Udah?"
Zia:    "Udah...... Sendoknya jangan yang itu, Ayah."
Ayah: "Yang mana, dong?"
Zia:    "Yang satu lagi, dong."
(Ayah mengambilkan sendok mainan lain.)
Zia:   "Yang ini simpen aja."
(Ayah menyimpan sendok mainan.)
Ayah: "Kamu masak-masak sendiri, ya.  Ayah mau mandi dulu.  Oke?"
Zia:    "Oke."

(Ayah selesai mandi dan ganti baju dengan seragam kerja.  Membawa tas dan kaos kaki.)
Zia:    "Ayah, siniin."
Ayah: "Siniin apa, Putri?"
Zia:    "Siniin... kaos kaki..."
Ayah: "Ini kan punya Ayah, dong.  Kamu pakai punya kamu, dong."
Zia (mengambil kaos kaki yang dibawa Ayah): "Zia pakai ini aja.  Kan mau kerja."
Ayah: "Nggak, dong.  Ayah yang kerja.  Kamu di rumah aja, belajar baca."
Zia:    "Mau ikut Ayah."
(Zia berjalan ke teras dan mengambil sepatu Ayah, kemudian mengenakan kaos kaki dan sepatu tersebut).
Ayah: "Siniin, Putri. Kamu pake sepatu kamu, dong.  Ayah pake sepatu Ayah."
(Zia melepas kaos kaki dan sepatu Ayah kemudian masuk ke rumah, Ayah mengenakan kaos kaki dan sepatu.  Zia kembali ke teras dengan menenteng sepatunya, Ayah bersiap berangkat.)

Zia:    "Ayah, tunggu.... Zia mau ikut kerja."
Ayah: "Ga boleh dong, Putri.  Masa kamu kerja?  Kamu di rumah aja, ya.  Nanti kalo Ayah pulang, kita baca buku lagi. Okay?"
Zia (dengan nada sedih, mengangsurkan tangannya): "salam.... cium dulu. Dadaah, Ayah."
Ayah: "Sini peluk dulu."
Zia: (Sambil memeluk Ayah): "Peluuuuk.  Zia jangan rewel ya. Iya, Ayah."

(Ayah berangkat sambil melambaikan tangan.)

End of Act

Obrolan Angkot (part 2): pria yang memilih diburu

Selamat pagi.

Hari ini saya akan menuliskan lanjutan obrolan angkot yang telah tertunda sekian lama.  Pagi ini, saya duduk di bangku penumpang sebelah sopir.  Tidak benar-benar tepat di sebelah sopir, karena ada seorang pria berusia sekitar awal tiga puluhan di antara kami. 15 menit perjalanan setelah saya duduk disebelahnya, pria tersebut sedang tidur.  Saya rasa ia sedang kelelahan, sebab saya juga sering tidur di angkot, terutama ketika tubuh saya sedang sangat lelah.  Ketika ia terbangun, saya melihat dari spion samping kiri, matanya merah.  Merah dan berkaca-kaca.

Ia melihat saya melihatnya dan berusaha memulai percakapan di antara kami dengan berkata, "Jadi orang Islam ujiannya berat ya, Mas."

Saya tersenyum canggung.  Bukan hanya karena pernyataannya yang sulit ditimpali, tapi lebih karena saya tidak pernah merasa nyaman membicarakan hal yang bersifat teramat sangat pribadi dengan orang yang tidak saya kenal dekat.  Yang terlintas di pikiran saya adalah "Pemilihan topik yang aneh untuk sebuah obrolan ringan."  Untuk menutupi kekurangsopanan saya dan untuk mendorongnya terus bercerita, saya bertanya, "Maaf, mas, gimana?"

"Jadi orang Islam itu ujiannya berat.  Saya sekarang sedang diburu.  Mau dibunuh," ujarnya.

Pikiran skeptis saya kembali beraksi, semacam sistem pertahanan diri otomatis, "Agama, buronan, akan dibunuh?  Teroris?"

Tapi pikiran kritis saya menimpali, "Ini bisa jadi bahan menarik."

Saya menatap matanya yang merah dan berkaca-kaca.  Saya sadar bahwa ia sedang butuh teman untuk mendengarkan ceritanya.  Saya sudah cukup sering mendengarkan cerita orang untuk tahu bahwa ia butuh melepaskan beban yang menyesakkan.  Dan kebetulan kapasitas saya memadai untuk membantunya: sebagai pendengar.  Saya diam, tapi menunjukkan ekspresi bahwa saya siap mendengar ceritanya.

Ia melanjutkan, "Saya sedang dicari oleh keluarga.  Mau dibunuh.  Mereka tidak setuju saya masuk Islam."

"Sampai segitunya, Mas?" ujar saya.

"Iya, saya dari Manado.  Masuk Islam di Salman ITB.  Saya dapat kabar dari adik saya, dua orang, yang kuliah di sini.  Kata mereka, 'Jangan terlalu vokal di Bandung, Bang, abang mau dibunuh.'  Bahkan di rumah, keluarga besar saya sudah memasang karangan bunga di depan rumah.  Di Manado, itu menandakan ada anggota keluarga yang meninggal.  Mereka bukan hanya menganggap saya sudah mati, tapi mereka benar-benar mencari saya untuk dibuat benar-benar mati."

Otak saya berhenti berputar, atau justru berputar lebih cepat, berusaha mencerna ucapannya dan betapa besar makna ucapan tersebut terhadap kehidupannya.  Saya tak bisa berkata-kata selama beberapa menit.  Mungkin ia menganggap kediaman saya sebagai tanda bahwa saya tidak berminat lagi mendengarkannya.  Ia pun diam selama beberapa menit.  Beberapa kali saya berusaha bicara, namun saya tak menemukan kalimat yang cukup tepat untuk mengungkapkan apa yang ingin saya ungkapkan; bahwa saya ikut berduka atas kesulitannya, bahwa saya sungguh berharap ia tak sampai ditemukan oleh keluarganya, dan bahwa saya masih terganggu oleh kalimat pembukanya tadi.  Akhirnya, saya berkata, "Terus, sekarang Mas gimana?"

"Iya, kemarin saya cerita ke Ustadz di Salman.  Beliau menyarankan saya untuk ke pesantren saja.  Segala biaya beliau yang tanggung.  Makanya sekarang saya mau ke Salman."

Dugaan saya benar, ia hanya butuh teman cerita untuk mengeluarkan beban pikirannya.  Saya ingin menanyakan sejumlah hal dan memberinya semangat, namun angkot yang kami tumpangi telah sampai ke tempat dimana saya harus turun.  Saya permisi, mengharapkan ia berhasil, dan turun.  Saya jelas tak tahu dan mungkin takkan pernah tahu kelanjutan cerita pria ini.  Tapi ada banyak hal yang bisa saya pikirkan dari cermin yang ia sodorkan.

Pertama, mengenai kalimat pembukanya, "Jadi orang Islam ujiannya berat."  Yang terutama mengganggu saya dari kalimat ini adalah frase 'jadi orang Islam'.  Saya tahu maksudnya berkata demikian adalah karena masalahnya (ujian yang ia hadapi) muncul setelah dan karena ia memilih jadi orang Islam.  Namun saya tetap merasa tidak bisa menyetujuinya seratus persen.  Menurut saya, jadi  orang manapun, agama apapun, kita akan tetap menghadapi ujian.  Cara ia mengucapkan kalimat ini memberikan kesan bahwa seolah-olah sumber masalah ini adalah agama.  Padahal menurut saya, agama disini hanya pemicu.  Ini adalah masalah keluarga yang berakar pada ketidakmampuan menerima pandangan orang lain dan egoisme kelompok yang merasa dikhianati oleh pilihan salah satu anggota kelompoknya.  Mungkin pria ini tidak bermaksud menyalahkan Islam (atau agama keluarganya) atas ujian yang ia hadapi, tapi saya khawatir ia telah melakukannya secara tidak sadar.  Saya tak sampai hati mengungkapkan pemikiran ini padanya sebab saya tahu pengungkapan itu hanya akan menambah beban pikirannya.  Atau saya yang berpikiran terlalu negatif.

Kedua, mengenai pilihan dan konsekuensi.  Saya selalu kagum pada orang yang memilih dan berani (terlepas dari ia sanggup atau tidak) menghadapi konsekuensi dari pilihannya  tersebut.  Seremeh apapun pilihan, dan sekecil apapun konsekuensi, ketika ia berani memutuskan untuk menghadapi konsekuensi tersebut maka, menurut saya, ia adalah termasuk orang yang hebat.  Tak semua orang memiliki keberanian untuk dengan jantan menghadapi hasil dari apa yang ia tuai.  Banyak orang yang justru menghindar ketika konsekuensi menghampirinya, terutama jika konsekuensi tersebut dinilai 'sulit' dan menyulitkan.  Pria ini secara sadar mengetahui konsekuensi dari pilihannya dan tetap memilih pilihan tersebut.  Bukankah ini sesuatu yang hebat?  Saya bicara terlepas dari apakah pilihannya benar atau tidak (mungkin sebagian orang di luar sana justru menganggap pilihannya salah dan tidak bijak).  Saya bicara tentang keberaniannya memilih meski ia tahu konsekuensi apa yang akan dihadapinya.

Ketiga, mengenai pentingnya memiliki teman.  Ketika ia sudah tidak sanggup lagi menahan atau menanggung bebannya, pria ini sampai bercerita kepada  seseorang yang sama sekali tidak ia kenal, hanya untuk melepaskan sesak yang ia rasakan.  Jika saya melakukan apa yang dilakukannya, maka berarti masalah dan beban saya benar-benar menyesakkan.  Saya tidak pernah bisa menceritakan hal-hal yang bersifat teramat sangat pribadi pada orang-orang  yang tidak saya kenal dekat, apalagi pada orang yang tidak saya kenal sama sekali.  Ini membuat saya berempati kepada pria ini.  Berapa besarkah beban yang dimunculkan oleh keluarganya, hingga ia sampai bercerita kepada orang asing?  Keluarga yang harusnya menjadi pendukung utama tingkah laku seseorang justru menjadi tempat terakhir yang ingin disinggahinya, bahkan untuk sekedar bercerita.  Saya tak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi saya rasa fenomena ini makin marak.  Fenomena dimana yang paling jauh dari seseorang, secara emosional, (saya tidak bicara tentang remaja yang memang pemikirannya masih labil dan rebellious) justru adalah keluarganya sendiri.  Betapa malangnya mereka yang mengalami hal demikian.

Ada sejumlah hal lain yang muncul di otak saya dari pengalaman tadi pagi, tapi saya rasa takkan saya tuliskan disini saat ini.  Mereka masih perlu saya olah lagi di benak saya.

Terima kasih

P.S. saya teramat ingin sekali membuat sebuah cerita pendek dari kisah ini, sekedar untuk memberikan akhir yang bahagia pada tokoh utamanya.... andai saja saya bisa.

Wednesday, May 7, 2014

Solar Plexus

Disana, pada simpul antara iga dan diafragma,
Kantung airmata. Tepat di hulu hati.
Berisi nama nama.
Ia tak hangus oleh sejuta bara. Tak koyak oleh seribu sembilu.
Tapi, satu saja nama itu luka, ia kan pecah.

Ketakberdayaan tumpah ruah.
Menjadi bandang gelisah.
Resah yang basah
pada sudut mata. Sesungguhnya:
Tangis adalah permohonan maaf,
sebab aku tak cukup kuat untuk membantu.
Aku hanya bisa ada.
Menjaga do'a agar nama nama tak luka.

Disana, antara iga dan diafragma,
pusat segala rasa. Dengan kau didalamnya.
Bersama mereka.
Dijaga do'a.

Tuesday, May 6, 2014

Kura-Kuraku, Kurasa (bagian pertama)

Aku memelihara kura-kura.  Jika ditanya kenapa aku memelihara kura-kura, aku biasa menjawab, "Karena aku ingin punya hewan peliharaan."  Jika kemudian ditanya lagi, "Kenapa kura-kura?", aku punya sejumlah jawaban standar yang biasa kuberikan.  Pertama, memelihara kura-kura tidak terlalu rumit.  Kura-kura tak berkeliaran kemana-mana karena ia kuletakkan dalam kontainer (semacam tupperware besar) berisi air.  Aku hanya perlu menguras tempatnya (mengganti air) dan memberi makan (mencemplungkan berbagai bahan makanannya begitu saja, mulai dari makanan ikan yang dibeli sampai bangkai kecoa dan serangga besar lainnya) sekali sehari.  Aku hanya perlu memandikannya (menyikat tempurung dan kontainernya) seminggu sekali.  Intinya, alasan pertamaku untuk memelihara kura-kura adalah karena proses pemeliharaannya praktis dan sedikit sekali berkemungkinan mengganggu pihak-pihak lain.

Kedua, kenangan masa lalu.  Pada kemarau panjang pertama yang kualami, aku masih bersekolah di tingkat dasar, kelas lima.  Kemarau tersebut terjadi tepat ketika liburan kenaikan kelas tahun 1995.  Salah satu dampak kemarau panjang tersebut adalah keharusan untuk menggali sumur baru.  Di keluarga (alm.) pamanku, tempat aku selalu menghabiskan liburan sekolah, penggalian sumur ini dilakukan di kebun keluarga.  Pada masa itu, kami memiliki sebuah kebun yang cukup luas yang kami tanami kacang tanah, ubi, dan jagung.  Aku tidak ingat rincian proses penggalian sumur baru tersebut.  Yang aku ingat hanya sejumlah kejadian yang memang menonjol.  Pertama, aku ingat kekesalan para sepupuku yang bertugas menggali sumur.  Meski sudah digali sangat dalam, airnya masih belum ada juga.  Ketika akhirnya airnya mulai muncul, air tanah tersebut ternyata payau.  Kedua, pada hari ketiga penggalian, kami menemukan lima ekor kura-kura air tawar (di daerahku dikenal dengan julukan kura-kura bakau atau kura-kura sungai, sejenis dengan yang dikenal sebagai kura-kura Brazil di Bandung).  Demikianlah, aku memiliki peliharaan pertama berupa seekor kura-kura.  Tak lama, (alm) pamanku memutuskan untuk melepaskan kelima ekor kura-kura tersebut kembali ke alam.  Salah satu alasannya adalah karena aku masih terlalu kecil (terlalu kekanak-kanakan maksudnya) untuk mempertanggungjawabkan pemeliharaanku.  Agar aku tidak merasa dizholimi, maka kelima kura-kura tersebut harus dilepaskan semua.  Meski ketika itu aku hanya sempat memelihara kura-kura selama seminggu, kenangannya terus terbawa sampai aku dewasa.

Ketiga, aku senang kura-kura karena alasan filosofis.  Mereka makhluk damai yang tidak pernah mencari masalah dengan makhluk-makhluk lainnya.  Bahkan ketika diserang pun, mereka memilih untuk bertahan dalam cangkangnya.  Bagi sebagian orang, ini mungkin  dianggap kepengecutan.  Bagiku, ini semacam kebijaksanaan.

Setelah kura-kura pertamaku dilepaskan kembali ke alam, aku tak pernah bertemu kura-kura lagi.  Sampai aku kuliah di Bandung.  Pada 2006, pacarku waktu itu (yang sekarang jadi istriku) membelikanku dua ekor kura-kura Brazil sebagai hadiah ulang tahun.  (Ia memahami kerinduanku pada kura-kura tapi masih belum terlalu memahami bahwa aku tidak terbiasa dengan konsep perayaan ulang tahun, termasuk pemberian hadiah).  Kami tak tahu apakah kura-kura tersebut sepasang (jantan dan betina) atau satu jenis, penjualnya pun tak tahu.  Pada masa itu, aku masih tinggal di kampus, di sebuah ruangan yang menjadi sekretariat organisasi Himpunan Mahasiswa jurusanku.  Kedua kura-kura itu pun ikut tinggal bersamaku.   Keduanya aku namai, masing-masing, 'Abang' dan 'Ade'.  

Pada malam keenam aku memelihara 'Abang' dan 'Ade', terjadi tragedi.  Kedua kura-kura tersebut aku letakkan di dalam boks kecil (semacam boks tupperware berukuran kecil) dan kusimpan di atas dispenser air minum.  Boks plastik tersebut sengaja tidak kututup, entah karena alasan apa.  Aku yang biasa tidur pukul tiga pagi, pada malam itu terlelap sebelum tengah malam.  Menjelang dini hari, sekitar pukul satu, aku terbangun oleh sebuah suara keras.  Suara benda jatuh di kakiku.  Kulihat, di lantai sudah tergeletak boks yang tadinya kuletakkan di atas dispenser.  Kerikil-kerikil kecil yang menjadi penghias dan alas dalam boks tersebut berserakan.  Tak kulihat jejak kura-kuraku.  Emosi pertama yang kurasakan adalah panik.  Setelah menenangkan diri, kubongkar semua lemari dan tumpukan arsip untuk menemukan kedua kura-kuraku.  'Ade' kutemukan di bawah rak tivi, dengan cangkang retak dan leher terkoyak. Ia telah mati.  Entah mati kehabisan darah atau mati karena isi tubuhnya tersedot, sebab cangkangnya kosong melompong.  Hanya tersisa kepala yang masih melekat di sisa lehernya.  

Melihat kondisi 'Ade' yang mengenaskan itu, aku tak sanggup menahan emosi.  Aku tersedu.  Menyalahkan diriku sendiri.  Beberapa menit aku hanya mampu tergugu.  Setelah emosiku reda, dan logika  mulai memasuki benakku, aku berusaha menenangkan diri, berusaha mencari penyebab kejadian ini.  Aku tak perlu menduga, aku tahu luka-luka itu pasti akibat gigitan tikus.  Selama aku tinggal di sana, belum pernah sekalipun aku menemukan tikus dalam ruangan ini.  Malam itu, kura-kuraku jadi korban sekaligus bukti bahwa ada tikus yang harus kuenyahkan.  

Masih dengan sisa tangis, aku berusaha menyusun prioritas langkah.  'Ade' telah kutemukan, tapi 'Abang' masih belum ketahuan nasibnya.  Aku sudah bersiap untuk yang terburuk; ia dibawa ke sarang tikus sialan itu dan dimakan disana, dan aku takkan menemukannya lagi.  Saat ini, yang paling penting adalah menemukannya.  Pembalasan dendam bisa kulakukan nanti, setelah 'Abang' jelas nasibnya.  Dengan lebih teliti, kubongkar semua sudut. Kusenteri semua tempat gelap di bawah lemari arsip.  Akhirnya 'Abang' kutemukan di dalam lemari pakaianku.  Di rak terbawah, bersembunyi di sela baju.  Untungnya ia masih hidup.  Aku bersyukur tak henti.  Meski cangkangnya retak-retak bekas gigitan, tapi ia masih hidup.  Kubersihkan  luka-luka di kepalanya, dan kukembalikan ia ke boksnya.  Boks itu kututup dan kusimpan di rak teratas lemari bajuku.  Tempat yang kurasa takkan bisa dijangkau oleh tikus sialan itu.  

Setelah itu, aku mengurusi 'Ade'.  Kubersihkan bekas darahnya, kukeringkan dengan kapas, kututupi ia dengan kain dan tisu, dan kusimpan.  Esok ia akan kumakamkan.  Aku menelepon pacarku, mengabarkan kejadian ini.  Ia menenangkanku dan berjanji akan ke kampus pagi-pagi untuk menemaniku menguburkan 'Ade'.  Kemudian ia memintaku tidur kembali, sebab saat itu sudah pukul setengah tiga pagi.  Aku tak berniat tidur sedikit pun.  Aku akan berjaga kalau-kalau tikus pembunuh itu berani kembali.  Kalau ia muncul, akan kuakhiri hidupnya saat itu juga.  Namun, entah karena beban emosional yang terlalu berat, entah memang aku sedang sial, aku tertidur juga akhirnya.

Pukul enam pagi, pacarku datang membangunkanku.  Aku segera menunjukkan cangkang kosong 'Ade' kepadanya.  Lalu mengambil boks berisi 'Abang' dari dalam lemari.  Saat itulah aku tersadar, 'Abang' juga menjadi korban.  Lututku tiba-tiba lemas melihat kepalanya terkulai.  Aku terjatuh ke lantai sambil memegang cangkangnya yang terbelah di bagian perut.  Aku berteriak dan menangis sesenggukan.  Tak kupedulikan apapun lagi.  Hatiku hancur.  Perihnya bahkan lebih sakit daripada ditinggalkan kekasih.  Selama setengah jam, aku tak bisa melakukan apa-apa kecuali menangis dan menyesali diri.  Aku tak bisa berhenti menyalahkan diri sendiri.  Tadi malam ia masih hidup, masih bisa diobati, masih bisa dipulihkan.  Kalau saja aku tak tertidur.  Kalau saja ia tak kusimpan di lemari.  Kalau saja ia kupeluk dan kujaga sampai pagi.  Beribu kalau saja menyerangku.  Pacarku berusaha menenangkanku diantara isaknya.  Akhirnya aku bisa tenang.  Kesedihanku aku telan.  Kedua kura-kuraku kubersihkan kembali dan kubungkus dengan tisu dan kain.  Lalu kumasukkan kedalam sebuah kotak kertas.  Kotak itu kemudian kukuburkan di belakang gedung tempatku tinggal tersebut.  Tak ada yang tahu tentang hal ini, hanya aku dan pacarku.  Terlalu perih bagiku untuk menceritakannya kepada teman-temanku.  Sampai pada tahun 2008, ketika aku sudah tinggal di kosan sendiri, gedung itu kebakaran dan kemudian dibangun menjadi lapangan parkir kampus.  Kuburan kura-kuraku hilang tanpa jejak.


bersambung

Creating a Monster

Amazing Spiderman 2 is a story of creating your own demon and facing its consequences.  That's the theme i found recurring throughout the movie.  Starting from the ghost of Gwen Stacey's father Peter Parker sees everywhere he goes, the 'break-up' with Gwen, the choices and disappearance of Richard and Mary Parker's, up to the birth of Electro and Green Goblin (or is it Hobgoblin?).  Unbeknownst to him, Peter Parker choices ended up creating a monster he has to face in the end.  What seemed to be the right choice at one time proved to have dire consequences.

I was planning to elaborate this topic more.  However, words escaped me as of this moment.  So, I guess, I'll just say what I want to say: every choice you made and make has its own consequences, whether good, bad, or worse.  Sometimes, there's no such thing as the right choice.  Most of the times, the wisest choice is to choose one with consequences that you can bear.  The only thing you must always be prepared for when making a choice is to face whatever demon you create with that choice.

Good afternoon.

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.