Tuesday, August 11, 2015

kau

kau adalah yang tiba tiba-tiba dari balik pelupuk:
airmata yang terdesak oleh rasa
yang membongkah dan membuncah pada malam-malam dimana jawab bermunculan tanpa tanya, sekedar demi mengisi keheningan yang terlalu pekat; keheningan yang kosong tapi begitu padat dan rapat sehingga sesak menyeruak di rongga-rongga kerinduan yang telah kulupa; memenuhi tiap ceruk serupa gema doa-doa yang dulu kuteriakkan ke udara di bawah mata Purnama purba.

kau adalah yang tiba tiba-tiba dari cahaya:
bayang-bayang yang melekat erat pada telapak kaki yang mengiringi kemana langkah berpindah pada hari-hari dimana lelah berkejaran dengan harapan yang dimentahkan entah, sekedar agar perjalanan seolah bertujuan; perjalanan yang sesungguhnya adalah kepergian dari himpitan ketiadaan yang begitu menekan sehingga kehilangan meruap dari celah-celah kenang pada diri, menggenangi tiap pori serupa gaung puisi-puisi yang dulu kubisikkan kepada hujan dan bintang-bintang yang berjatuhan.

kau adalah yang tiba tiba-tiba dari bawah kesadaran:
mimpi yang dijadikan oleh keinginan yang selalu menolak diwujudkan dalam bentuk sesederhana tatap mata atau genggam tangan pada kesempatan-kesempatan dimana pertemuan seharusnya adalah sebuah kebetulan yang indah; kebetulan yang seolah selalu sengaja menghindar agar tak bisa disebut pernah terjadi sehingga muntahan harap dari hati harus ditelan kembali serupa deru gelombang yang menelan dan menenggelamkan kidung-kidung yang kusenandungkan kepada senja.

kau adalah yang kini tiba tiba-tiba entah dari mana:
kata yang menyelinap ke dalam kidung do'a, memenuhi puisi seperti kau memenuhi hatiku. dulu, setelah matahari berlalu.

Patah Hati

Hari nanti ganti menangisi:
Manis yang habis
Sumpah yang sampah

Segaris sabit memahat pahit di langit:
Ingin melupa luka
Mendusta duka

Malam mencaci jika
Pagi memaki maka
Embun meluruk di pelupuk
Siang hilang cahaya

Asa tersia.


Saturday, July 25, 2015

maaf, tulisan saya masuk draft lagi

Maaf.

Tadinya saya ingin menulis agak panjang tentang karya-karya Chin Yong yang sedang saya baca ulang, yang dalam komputer saya dimasukkan dalam folder berjudul Heroes Series karena novel-novel tersebut merupakan semacam serial petualangan para jagoan silat, mulai dari Racun Barat dan kawan-kawan, Kwee Ceng dan Oey Yong, Yo Ko dan Siaw Long Lie, Thio Sam Hong dan Thio Bu Kie, dan seterusnya sampai beberapa generasi.  Total ada sembilan buku. Saat ini saya baru membaca (ulang) sampai buku keempat, yaitu To Liong To alias Golok Pembunuh Naga.

Tadinya, sehabis mengajar hari ini, saya ingin mampir ke warnet barang sejam untuk menuliskan apa yang ingin saya tuliskan mengenai hal diatas.  Tapi, berhubung saya sudah menjanjikan jam kepulangan kepada istri, dan berhubung warnet langganan sedang bermasalah, saya hanya punya waktu sekitar 20 menit saja. Dua puluh menit itu, saya rasa, tidaklah cukup untuk saya menguraikan pemikiran saya dengan baik tanpa terburu-buru.  Oleh sebab itu, tulisan saya masuk draft lagi, untuk nanti saya perbaiki dan lengkapi sebelum "diterbitkan" disini.

Selamat siang dan

Maaf.

Monday, July 13, 2015

Kapan Kita Pun?

Kucing di genting, cicak di dinding
Bukan maling, bukan main-main

Burung di ranting
Riuh musim kawin

Ah, pusing . . . biarin!

Saturday, June 27, 2015

Bayang Bulan di Muka Sungai

Beku di sungai itu
Mencermin bulan

Cahaya menjadi tanya:
Apa yang dilihat mata sebenarnya?

Di muka sungai ada bayang bulan.
Di langit ada cahaya bulan.
Dimana bulan?
Ilusikah bulan?

Matamu memantulkan sungai beku.
Sungai memantulkan yang kau sebut bayang bulan.
Bulan sendiri cermin yang memantulkan matahari.
Jadi apa yang dilihat mata sebenarnya, pantulan ilusi?

Bulan beku di sungai beku.
Tak di atas, tak di dalam.
Di mukanya membayang.
Di matamu menggenang.
Kenang.

Bulan Pucat

Kukira bulan bukan pengecut.
Mungkin ia takut ketika fajar tiba
Sebab selalu kulihat ia memucat.
Tapi tak pernah ia lari ke balik cakrawala,
Sembunyi dari pagi.
Ia tetap di langit sana, pucat
Semata karena kalah cahaya.

Bulan bukan pengecut;
Tak terang, memang,
Tapi tak hilang
Tak seperti bintang pada siang.

Sunday, June 7, 2015

Solitaire

cahaya pada cermin
menghidupkan iring-iringan angka di atas meja
seolah mereka memang barisan pengiring raja

tapi lembar-lembar kartu adalah bisu
yang meneriakkan kesendirian
keramaian itu cuma usaha untuk menghabiskan waktu
agar hari tak terasa terlalu sepi

cahaya pada cermin
menghidupkan arak-arakan warna di pangkuan
seolah mereka memang festival kebahagiaan

tapi lembar-lembar kartu adalah bisu
yang meneriakkan kesendirian
keceriaan itu cuma usaha untuk menipu diri
agar hati tak terlalu terasa sunyi

cahaya pada cermin
menghidupkan lompatan-lompatan badut pelawak
seolah ia memang penghibur yang diundang

tapi lembar kartu adalah bisu
yang meneriakkan kesendirian

kesendirian mata yang menatap cermin
yang hampir buta karena cahaya.

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.