Romantisme adalah gagasan tentang kebahagiaan,
tentang hujan yang turun sebelum senja
dan bintang yang jatuh dini hari
agar ada yang bisa dikenang dan dikisahkan.
Tapi, siapa yang masih butuh kisah
setelah kepasrahan, harapan, dan keyakinan mewujudkan mimpi hati?
Ah, romantisme. . .
Siapa yang butuh kisah dan kenangan
Jika langit telah mempertemukan bintang dengan awan!
Monday, September 21, 2015
Tuesday, August 11, 2015
kau
kau adalah yang tiba tiba-tiba dari balik pelupuk:
airmata yang terdesak oleh rasa
yang membongkah dan membuncah pada malam-malam dimana jawab bermunculan tanpa tanya, sekedar demi mengisi keheningan yang terlalu pekat; keheningan yang kosong tapi begitu padat dan rapat sehingga sesak menyeruak di rongga-rongga kerinduan yang telah kulupa; memenuhi tiap ceruk serupa gema doa-doa yang dulu kuteriakkan ke udara di bawah mata Purnama purba.
kau adalah yang tiba tiba-tiba dari cahaya:
bayang-bayang yang melekat erat pada telapak kaki yang mengiringi kemana langkah berpindah pada hari-hari dimana lelah berkejaran dengan harapan yang dimentahkan entah, sekedar agar perjalanan seolah bertujuan; perjalanan yang sesungguhnya adalah kepergian dari himpitan ketiadaan yang begitu menekan sehingga kehilangan meruap dari celah-celah kenang pada diri, menggenangi tiap pori serupa gaung puisi-puisi yang dulu kubisikkan kepada hujan dan bintang-bintang yang berjatuhan.
kau adalah yang tiba tiba-tiba dari bawah kesadaran:
mimpi yang dijadikan oleh keinginan yang selalu menolak diwujudkan dalam bentuk sesederhana tatap mata atau genggam tangan pada kesempatan-kesempatan dimana pertemuan seharusnya adalah sebuah kebetulan yang indah; kebetulan yang seolah selalu sengaja menghindar agar tak bisa disebut pernah terjadi sehingga muntahan harap dari hati harus ditelan kembali serupa deru gelombang yang menelan dan menenggelamkan kidung-kidung yang kusenandungkan kepada senja.
kau adalah yang kini tiba tiba-tiba entah dari mana:
kata yang menyelinap ke dalam kidung do'a, memenuhi puisi seperti kau memenuhi hatiku. dulu, setelah matahari berlalu.
airmata yang terdesak oleh rasa
yang membongkah dan membuncah pada malam-malam dimana jawab bermunculan tanpa tanya, sekedar demi mengisi keheningan yang terlalu pekat; keheningan yang kosong tapi begitu padat dan rapat sehingga sesak menyeruak di rongga-rongga kerinduan yang telah kulupa; memenuhi tiap ceruk serupa gema doa-doa yang dulu kuteriakkan ke udara di bawah mata Purnama purba.
kau adalah yang tiba tiba-tiba dari cahaya:
bayang-bayang yang melekat erat pada telapak kaki yang mengiringi kemana langkah berpindah pada hari-hari dimana lelah berkejaran dengan harapan yang dimentahkan entah, sekedar agar perjalanan seolah bertujuan; perjalanan yang sesungguhnya adalah kepergian dari himpitan ketiadaan yang begitu menekan sehingga kehilangan meruap dari celah-celah kenang pada diri, menggenangi tiap pori serupa gaung puisi-puisi yang dulu kubisikkan kepada hujan dan bintang-bintang yang berjatuhan.
kau adalah yang tiba tiba-tiba dari bawah kesadaran:
mimpi yang dijadikan oleh keinginan yang selalu menolak diwujudkan dalam bentuk sesederhana tatap mata atau genggam tangan pada kesempatan-kesempatan dimana pertemuan seharusnya adalah sebuah kebetulan yang indah; kebetulan yang seolah selalu sengaja menghindar agar tak bisa disebut pernah terjadi sehingga muntahan harap dari hati harus ditelan kembali serupa deru gelombang yang menelan dan menenggelamkan kidung-kidung yang kusenandungkan kepada senja.
kau adalah yang kini tiba tiba-tiba entah dari mana:
kata yang menyelinap ke dalam kidung do'a, memenuhi puisi seperti kau memenuhi hatiku. dulu, setelah matahari berlalu.
Patah Hati
Hari nanti ganti menangisi:
Manis yang habis
Sumpah yang sampah
Segaris sabit memahat pahit di langit:
Ingin melupa luka
Mendusta duka
Malam mencaci jika
Pagi memaki maka
Embun meluruk di pelupuk
Siang hilang cahaya
Asa tersia.
Manis yang habis
Sumpah yang sampah
Segaris sabit memahat pahit di langit:
Ingin melupa luka
Mendusta duka
Malam mencaci jika
Pagi memaki maka
Embun meluruk di pelupuk
Siang hilang cahaya
Asa tersia.
Saturday, July 25, 2015
maaf, tulisan saya masuk draft lagi
Maaf.
Tadinya saya ingin menulis agak panjang tentang karya-karya Chin Yong yang sedang saya baca ulang, yang dalam komputer saya dimasukkan dalam folder berjudul Heroes Series karena novel-novel tersebut merupakan semacam serial petualangan para jagoan silat, mulai dari Racun Barat dan kawan-kawan, Kwee Ceng dan Oey Yong, Yo Ko dan Siaw Long Lie, Thio Sam Hong dan Thio Bu Kie, dan seterusnya sampai beberapa generasi. Total ada sembilan buku. Saat ini saya baru membaca (ulang) sampai buku keempat, yaitu To Liong To alias Golok Pembunuh Naga.
Tadinya, sehabis mengajar hari ini, saya ingin mampir ke warnet barang sejam untuk menuliskan apa yang ingin saya tuliskan mengenai hal diatas. Tapi, berhubung saya sudah menjanjikan jam kepulangan kepada istri, dan berhubung warnet langganan sedang bermasalah, saya hanya punya waktu sekitar 20 menit saja. Dua puluh menit itu, saya rasa, tidaklah cukup untuk saya menguraikan pemikiran saya dengan baik tanpa terburu-buru. Oleh sebab itu, tulisan saya masuk draft lagi, untuk nanti saya perbaiki dan lengkapi sebelum "diterbitkan" disini.
Selamat siang dan
Maaf.
Tadinya saya ingin menulis agak panjang tentang karya-karya Chin Yong yang sedang saya baca ulang, yang dalam komputer saya dimasukkan dalam folder berjudul Heroes Series karena novel-novel tersebut merupakan semacam serial petualangan para jagoan silat, mulai dari Racun Barat dan kawan-kawan, Kwee Ceng dan Oey Yong, Yo Ko dan Siaw Long Lie, Thio Sam Hong dan Thio Bu Kie, dan seterusnya sampai beberapa generasi. Total ada sembilan buku. Saat ini saya baru membaca (ulang) sampai buku keempat, yaitu To Liong To alias Golok Pembunuh Naga.
Tadinya, sehabis mengajar hari ini, saya ingin mampir ke warnet barang sejam untuk menuliskan apa yang ingin saya tuliskan mengenai hal diatas. Tapi, berhubung saya sudah menjanjikan jam kepulangan kepada istri, dan berhubung warnet langganan sedang bermasalah, saya hanya punya waktu sekitar 20 menit saja. Dua puluh menit itu, saya rasa, tidaklah cukup untuk saya menguraikan pemikiran saya dengan baik tanpa terburu-buru. Oleh sebab itu, tulisan saya masuk draft lagi, untuk nanti saya perbaiki dan lengkapi sebelum "diterbitkan" disini.
Selamat siang dan
Maaf.
Monday, July 13, 2015
Kapan Kita Pun?
Kucing di genting, cicak di dinding
Bukan maling, bukan main-main
Burung di ranting
Riuh musim kawin
Ah, pusing . . . biarin!
Bukan maling, bukan main-main
Burung di ranting
Riuh musim kawin
Ah, pusing . . . biarin!
Saturday, June 27, 2015
Bayang Bulan di Muka Sungai
Beku di sungai itu
Mencermin bulan
Cahaya menjadi tanya:
Apa yang dilihat mata sebenarnya?
Di muka sungai ada bayang bulan.
Di langit ada cahaya bulan.
Dimana bulan?
Ilusikah bulan?
Matamu memantulkan sungai beku.
Sungai memantulkan yang kau sebut bayang bulan.
Bulan sendiri cermin yang memantulkan matahari.
Jadi apa yang dilihat mata sebenarnya, pantulan ilusi?
Bulan beku di sungai beku.
Tak di atas, tak di dalam.
Di mukanya membayang.
Di matamu menggenang.
Kenang.
Mencermin bulan
Cahaya menjadi tanya:
Apa yang dilihat mata sebenarnya?
Di muka sungai ada bayang bulan.
Di langit ada cahaya bulan.
Dimana bulan?
Ilusikah bulan?
Matamu memantulkan sungai beku.
Sungai memantulkan yang kau sebut bayang bulan.
Bulan sendiri cermin yang memantulkan matahari.
Jadi apa yang dilihat mata sebenarnya, pantulan ilusi?
Bulan beku di sungai beku.
Tak di atas, tak di dalam.
Di mukanya membayang.
Di matamu menggenang.
Kenang.
Bulan Pucat
Kukira bulan bukan pengecut.
Mungkin ia takut ketika fajar tiba
Sebab selalu kulihat ia memucat.
Tapi tak pernah ia lari ke balik cakrawala,
Sembunyi dari pagi.
Ia tetap di langit sana, pucat
Semata karena kalah cahaya.
Bulan bukan pengecut;
Tak terang, memang,
Tapi tak hilang
Tak seperti bintang pada siang.
Mungkin ia takut ketika fajar tiba
Sebab selalu kulihat ia memucat.
Tapi tak pernah ia lari ke balik cakrawala,
Sembunyi dari pagi.
Ia tetap di langit sana, pucat
Semata karena kalah cahaya.
Bulan bukan pengecut;
Tak terang, memang,
Tapi tak hilang
Tak seperti bintang pada siang.
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
- Verly Hyde
- seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.