Friday, September 5, 2014

Lagi

Writing is a luxury.  Writing is a privilege.

Menulis itu adalah sebuah kemewahan.  Menulis adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah belajar--dan berhasil belajar--menulis.  Tapi kemampuan merangkai huruf menjadi kata dan merumuskan kalimat hanya sebagian kecil dari kemewahan menulis.  Menulis adalah kemewahan.  Kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang mampu mengendalikan diri.  Bagaimana tidak?  Untuk menghasilkan tulisan yang baik, seseorang harus memiliki pola pikir yang baik pula.  Tulisan yang runut muncul dari pikiran yang runut.  Pikiran yang tidak tenang akan tercermin pada hasil tulisan yang kacau.  

Menulis adalah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang bahagia.  Bahagia karena mampu merasa cukup.  Bahagia bukan karena tidak ada lagi yang kurang, tapi karena meyakini bahwa kekurangan itu akan bisa ditutupi seraya mensyukuri dan menikmati yang telah ada.  Ketika hati--atau jiwa, atau otak, atau diri--telah merasa cukup, ia akan mampu mengalihkan energinya untuk berkarya, mencipta.  Menulis adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang tenang--yang mampu menenangkan diri.  Dalam keadaan tenanglah sebuah tulisan tercipta.  

Menulis adalah sebuah kemewahan.  Menulis adalah sebuah hak khusus yang dimiliki oleh mereka yang mampu tenang, yang mampu menyusun dan merapikan, yang mampu menemukan mata badai untuk duduk sejenak dan menikmati kedamaian di tengah hempasan.  

Kemewahan dan hak khusus yang saat ini tidak saya miliki.

Selamat siang.

1 comment:

  1. Menulis tak hanya kemewahan, tapi kepuasan. Tidak harus runut, tidak harus yang mampu menenangkan diri. Karena menulis adalah bagian dari cara yang bisa menenangkan diri. Menurut saya ^^

    ReplyDelete

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.