Tuesday, February 3, 2015

ocehan warung kopi. lagi.

Saya sedang di sebuah warung kopi (inisialnya gbx) di daerah taman pramuka. Sendiri. Kok sendiri? Bukannya saya ga suka sendirian di tempat umum yang bukan zona nyaman saya? Saya sendiri karena teman saya sudah pergi dan istri saya belum datang.

Tadi, teman saya yang bekerja di daerah sekitar sini menunggu waktu kerjanya sendirian di warung kopi ini. Ia lalu menghubungi kami (teman-temannya) untuk menemani. Hanya saya yang bisa (yang lain bersedia, tapi tidak bisa). Datanglah saya kesini. Istri saya yang masih dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya bilang ia akan menyusul kesini. Baru mengobrol beberapa menit, ternyata teman saya salah ingat jadwal. Ia harus bekerja pukul tiga, bukan pukul empat. Jadilah ia buru-buru beranjak dan giliran saya yang sendiri disini. Menunggu istri ditemani kopi.
Bicara soal kopi, saya termasuk pecandu kafein. Dan memang seringkali saya dan teman-teman nongkrong di warung kopi. Mereka mungkin memesan minuman apa saja, tapi saya selalu memesan kopi. Selain kafein, saya juga pecandu nikotin. Sudah sejak lama. Pembuluh darah saya serasa sangat sempit (yang mengakibatkan pusing) jika saya tidak bertemu salah satu atau keduanya.  Ini kebodohan saya. Menjebak diri sendiri sampai tak bisa lepas lagi.  Bisa sebenarnya, tapi proses detoksifikasi akan makan waktu dan sangat sakit. Saya tahu sebab saya pernah mencoba.  Selain itu, saya menyaksikan sendiri betapa sakitnya proses detoksifikasi itu pada seorang teman saya (satu-satunya orang yang saya kenal yang bisa berhenti merokok secara total).
Tapi saya berencana berhenti. Segera. Dan ini bukan karena saya mau, tapi karena saya harus. Ada banyak alasan yang bisa dipilih. Tapi ada dua pendorong utama yang mendasari keputusan saya ini: dua celetukan tak sengaja dari dua orang dalam hidup saya.
Yang pertama, Zia, yang suatu hari bertanya, "Ayah, Zia boleh ngerokok, ga?"
Saya jawab, "Ga boleh dong."
"Kalo pura-pura aja, boleh ga, Yah?"
Saya tahu bahwa saya harus berhenti merokok saat itu juga.  Sebab banyak hal yang dilakukan Zia ditirunya dari saya.  Dan saya tak mau jadi orangtua yang berstandar ganda.  Kalau saya tidak memperbolehkannya merokok, saya juga harus tidak memperbolehkan diri saya merokok.  Apapun caranya.
Yang kedua, seorang teman yang pada suatu obrolan lewat BBM menulis, "I don't think you're a good dad." (Saya memparafrase).  Ujaran itu tidak kami bahas. Sama sekali. Tapi efeknya adalah bola salju refleksi dalam kepala saya.  Cermin yang ia sodorkan memaksa saya melihat wajah (dan hati) saya sendiri, dan betapa jeleknya wajah itu...
Inti dari ocehan saya ini adalah, sometimes we have to do things not because we want to, but because we have to. And if we have to do it, anyway, it's better to enjoy it.
Selamat sore.

2 comments:

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.