Hafhsah Zi, kalau aku memarahimu ketika kau membuat kesalahan, itu bukan berarti aku tak memperbolehkanmu berbuat salah. Aku tak benar-benar sepenuhnya sepakat dengan orang-orang yang beranggapan bahwa memarahi anak adalah sebuah kesalahan. Bahwa bentuk rasa sayang harus diungkapkan dengan kelemahlembutan. Tapi, aku juga tahu bahwa aku takkan pernah bisa secara sengaja menyakitimu. Jadi, ketika kau berbuat sesuatu yang menurut standar nilai yang sedang kuajarkan padamu adalah sebuah kesalahan, aku merasa perlu memarahimu. Itu adalah bagian dari tugasku mengajarimu.
Hafshah Zi, percayalah, aku memarahimu bukan semata karena aku perlu mengungkapkan rasa kesal atau emosi. Ada banyak cara lain untuk melakukan itu, tak harus dengan mengorbankanmu. Aku memarahimu sebab kau perlu tahu bahwa setiap tindakanmu memiliki konsekuensi yang harus kau tanggung sendiri. Kau perlu tahu bahwa tak semua konsekuensi itu menyenangkan. Itu sebabnya aku memarahimu.
Memang kau nanti mungkin akan menyadari sendiri, tapi aku tak mau berjudi dengan kemungkinan. Aku ingin kau menanamkan dalam sistem kesadaranmu bahwa konsekuensi tindakanmu mungkin pahit, bahkan meski tindakan itu sendiri tak sepenuhnya salah. Sebab aku percaya bahwa apa yang sudah ada dalam kesadaranmu takkan lenyap sepenuhnya.
Ada versi lain untuk mengajarimu hal ini, aku tahu. Tapi aku memilih cara ini karena cara inilah yang menurutku paling berpotensi memberikan hasil, meski juga paling beresiko. Kau tahu, aku meyakini bahwa tugas utamaku sebagai ayahmu adalah mempersiapkanmu untuk hidup, untuk menjalani hidupmu sendiri, dengan nilai dan caramu sendiri, bukan dengan nilai dan caraku. Aku juga meyakini bahwa meski kau akan membentuk nilaimu sendiri, dasar-dasarnya harus dipersiapkan olehku. Pada akhirnya, identitasmu adalah kumpulan pengalaman yang kau filter lewat pemahamanmu. Filter itulah yang jadi dasar pembentukan semua maknamu. Oleh sebab itu, aku ingin membantumu memiliki filter yang baik. Dan cara yang kupilih adalah ini.
Hafshah Zi, saat ini ada dua hal yang ingin kuajarkan padamu. Dua hal yang kuyakini akan membantumu memiliki filter pembentuk makna yang baik. Pertama, aku ingin kau ingat bahwa tiap tindakanmu memiliki konsekuensi yang harus kau tanggung sendiri. Kedua, aku ingin kau sadar bahwa tak semua yang kau inginkan bisa kau dapat. Aku bukan ingin mengajarimu untuk tidak melakukan sesuatu karena takut konsekuensinya. Aku ingin mengajarimu untuk memikirkan konsekuensi sebelum bertindak, dan menjalani konsekuensi tindakanmu, sesulit apapun itu. Aku bukan ingin menyuruhmu untuk tak menginginkan apa-apa, aku ingin mengajakmu untuk berharap dan mengejar mimpimu, sekaligus menjagamu agar tak terlalu kecewa ketika harap itu tak mewujud.
Aku adalah jaring pengaman sementara kau berusaha menyeimbangkan diri meniti tali. Sebab seperti itulah hidup, kau meniti tali, berusaha menyeimbangkan diri, salah langkah akan menjatuhkanmu begitu keras, mungkin sampai kau tak bisa bangkit lagi. Karena aku berkewajiban menyiapkanmu untuk menjalani hidupmu sendiri, aku takkan membiarkanmu jatuh hancur sebelum kau siap menjalani hidupmu. Saat ini, kau bebas meniti tali hidupmu dengan cara apapun yang kau inginkan. Kalau kau salah langkah dan jatuh, aku akan menangkapmu sebelum kau terhempas. Tapi, semakin kau beranjak dewasa, jaringku akan semakin mengecil. Semakin besar kesalahanmu nanti, semakin parah pula akibat yang harus kau derita. Oleh sebab itu, aku ingin melatihmu meniti tali itu, dengan caramu sendiri, dengan cara yang aman. Agar nanti, ketika kau harus berjalan tanpa pengaman lagi, kau sudah tahu cara untuk menghindari jatuh yang membuatmu tak mampu bangkit lagi. Nanti kau pasti akan tetap jatuh, mungkin terkilir, mungkin patah kaki, mungkin patah hati, sebab tali itu memiliki caranya sendiri untuk menjatuhkanmu. Tapi, ketika kau jatuh, kau akan tetap bisa bangkit lagi.
Itulah bentuk sayangku padamu, Hafsah Zi. Dan di akhir tulisan ini, aku ingin memintamu untuk tak sepenuhnya mempercayai mereka yang berkata bahwa caraku mengajarimu bukanlah cara yang benar untuk menunjukkan kasih sayang. Kau harus putuskan sendiri siapa yang ingin kau percayai, sebagaimana aku memutuskan cara apa yang kupakai untuk mempersiapkanmu meniti tali. Terakhir, aku ingin kau menyadari bahwa proses mendidik dan mengajarimu ini juga adalah sebuah pelajaran baru bagiku, dan sebab aku baru belajar, akan ada beberapa kesalahan yang pasti kulakukan. Aku ingin kau memakluminya sebagaimana aku pasti menjalani konsekuensi pilihanku ini, apapun itu nantinya.
Aku sayang kau, Hafsah Zi.
No comments:
Post a Comment