Wednesday, March 26, 2014

Tentang Katakata yang Jadi Dongeng

Tak bisalah kita menaksir kisahkisah lama
Dari katakata
Sebab semua cerita bermuara pada makna
Mewujud dalam Dharma dan Karma

Kita tak bisa membaca dongeng purba
Dengan kacamata hari ini
Sebab dongeng lahir dari masa dan kita
Takkan mampu menembus waktu

(Bukan tak mungkin buyutmoyangmu memang mengenal naga
  atau sembrani
  Seperti aku mengenal anjing kampung yang kini hanya kau temu
  dalam makian temantemanmu)

Dan makna sesungguhnya serupa samudera
Di muka, ia memantulkan mukamu saja
Di balik matamulah ia menjelma

Tuesday, March 12, 2013

Obrolan Angkot (Part 1)

Cermin ada dimana-mana, Kawan.  Tinggal kita yang memutuskan apakah mau melihat dan menyimak bayangan yang ada di sekitar kita, atau mengabaikannya.  Saya ingat seorang teman pernah menanyakan makna 'Omnia ab Uno'.  Setelah googling dan researching, saya tahu bahwa kalimat bahasa Latin ini berarti 'everything comes from one source.'  Segala sesuatunya berasal dari satu sumber yang sama.  Dan kalimat ini seringkali ditambah dengan 'omnia nodes arcana connexa' ('everything is connected to everything else')--segala sesuatu terhubung dengan segala hal lain. Saat saya membaca hal ini, secara otomatis otak saya menghubungkannya--lewat konsep intertextuality--dengan pemikiran Mohandas Gandhi, yang percaya bahwa semesta terbentuk dari hubungan antar segala sesuatu didalamnya.  Kedua konsep diatas juga ada dalam berbagai kebijaksanaan lokal di berbagai daerah di seluruh dunia.  Jika kalian mengira saya membicarakan tentang agama dan keyakinan, maka kalian benar.  Tapi tidak itu saja, kedua pemikiran filosofis mengenai asal usul segala sesuatu dan saling keterkaitan antara mereka memang ada dalam ajaran hampir semua agama, tapi juga disebutkan (dan diyakini) di berbagai bidang lain (misalnya matematika, kungfu, ilmu pengobatan, biologi, dan sebagainya).  Pertanyaan yang mungkin mulai muncul di pikiran kawan-kawan sekalian saat ini adalah: 'Kenapa tulisan ini berjudul Obrolan Angkot, sementara isinya membahas filsafat saling keterkaitan?'  :)

Tenang, ini baru pengantar.  Saya hanya ingin memberitahu bahwa saya meyakini kedua konsep diatas.  Dan sebab saya meyakini bahwa segala sesuatu di semesta ini saling berhubungan (dengan cara yang mungkin tidak atau belum saya pahami), maka judul tulisan ini menjadi relevan dengan isinya. 
Salah satu kegiatan favorit saya adalah mengamati manusia, terutama dari aspek perilaku dan interaksinya.  Dari hasil refleksi, saya menyadari bahwa ketertarikan awal saya terhadap manusia dan aspek psikologinya adalah dari novel Sherlock Holmes karangan Arthur Conan Doyle dan dari novel-novel Agatha Christie (terutama judul-judul dimana tokoh utamanya adalah Miss Jane Marple).  Kisah-kisah Sherlock Holmes mengajari saya untuk selalu memperhatikan rincian-rincian, sekecil apapun, dan menghubung-hubungkan mereka hingga terbentuk suatu gambar yang bisa dipahami dan bisa diyakini (setelah diuji).  Sementara kepercayaan Jane Marple bahwa manusia pada dasarnya adalah sama membuat saya terus menerus mempertanyakan dan ingin membuktikan kebenarannya.  Dan memang, saat ini saya percaya bahwa manusia memiliki sifat-sifat dasar (building blocks) yang sama, hanya komposisinya yang berbeda.

Perbedaan komposisi tersebut, menurut saya, diakibatkan oleh hasil penafsiran dan penyaringan masing-masing manusia atas input yang mereka terima.  Perbedaan hasil penafsiran itu sendiri dikarenakan oleh perbedaan filter yang digunakan untuk menyaring pengalaman dan peristiwa yang manusia temui, yang pada gilirannya dipengaruhi filter pertama dan pengalaman-pengalaman sebelumnya. (Jika ada waktu, tentang ini nanti akan saya bahas secara terpisah.)

Kembali lagi ke judul tulisan ini, angkot (angkutan kota) adalah sarana kendaraan umum yang banyak dijumpai di kota-kota besar Indonesia, dan angkot adalah salah satu tempat terbaik untuk mengamati manusia dan interaksinya.  Bayangkan saja, dalam keadaan penuh, sebuah angkot akan berisi 13 orang manusia.  Sekarang bayangkan sebuah kondisi ideal untuk pengamatan dimana ke-13 orang itu tidak saling mengenal satu sama lain.  Bayangkan betapa uniknya interaksi yang terjadi di sebuah angkot penuh penumpang itu.  Mereka memiliki asal dan tujuan yang (mungkin) berbeda, kalaupun tujuan mereka sama maksud dan motivasi yang menggerakkan mereka menuju tujuan tersebut pastilah berbeda.  Namun, mereka dipersatukan oleh satu benang merah yang sama: sarana yang mereka gunakan untuk mencapai tujuan tersebut. 

Mereka mungkin akan saling mengobrol, atau saling berdiam diri.  Mereka mungkin akan sama-sama mencaci kemacetan jalan, atau memendam kesal ketika sopir memutuskan untuk menunggu penumpang hingga setengah jam.  Sopir mungkin akan memancing obrolan tentang segala hal, mulai dari harga bahan bakar, sikap polisi dan pengendara urakan, sampai soal politik dan pendidikan anak-anaknya.  Penumpang yang senang diskusi mungkin akan menimpali dan kemudian disambung lagi oleh penumpang lain.  Penumpang yang sedang banyak pikiran mungkin tidak akan peduli dengan obrolan itu dan sibuk dengan pikirannya sendiri.  Penumpang yang punya pendapat tapi malu mengutarakannya akan berdebat dengan dirinya sendiri apakah dia akan berbicara atau tidak sambil menanti kesempatan yang tepat untuk ikut serta.  Penumpang lain mungkin hanya berpartisipasi dengan mengangguk dan tersenyum.  Penumpang lain lagi mungkin sama sekali tidak peduli atau pura-pura tidak peduli karena dia merasa bahwa obrolan itu tidak relevan dan signifikan dengan perjalanan hidupnya.

Bagi saya, interaksi apapun yang terjadi (atau tidak terjadi) di dalam sebuah angkot adalah menarik untuk diamati.  Sebab saya beranggapan bahwa interaksi sosial yang terjadi di dalam angkot tidak kurang nilainya dari interaksi sosial yang terjadi di tempat-tempat lain, misalnya rumah atau ruang kelas atau kantin atau pasar atau dimanapun.  Apa yang terjadi di dalam angkot adalah cermin yang menggambarkan sepotong kecil dari gambar besar yang ada di semesta, kepingan puzzle kehidupan sosial manusia.  Dengan memperhatikan interaksi (atau ketiadaan interaksi) tersebut, saya bisa merefleksi diri sendiri.  Obrolan yang terjadi di dalam angkot mungkin memang tidak penting secara konten, tapi jika angkot dipandang sebagai sebuah konteks sosial dimana manusia berkesempatan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya, maka ada banyak hal yang bisa saya pertanyakan pada diri saya sendiri: kenapa saya tidak ikut mengobrol?  Apakah karena saya sombong atau justru karena saya rendah diri?  Ketika tidak ada bahan obrolan, kenapa saya tidak berusaha memulai? (Takut tidak ditanggapi oleh orang lain adalah konyol sebab sopir akan selalu menyambut bahan obrolan apapun yang kita tawarkan.  Coba saja kalau kawan tidak percaya.)  Jika alasannya adalah karena saya malu sebab saya tidak mengenal rekan-rekan sesama penumpang, kenapa saya tidak berkenalan saja?

Intinya, angkot, bagi saya, adalah cermin untuk berkaca: sebaik atau seburuk apakah saya ketika ditempatkan di sebuah situasi sosial dan memiliki pilihan serta hak penuh untuk berinteraksi?

Demikianlah, tak ada hal yang terlalu sepele dan terlalu istimewa ketika kita percaya bahwa segala sesuatu di semesta ini saling berhubungan dan saling membangun, bahkan angkot sekalipun. 

Wednesday, March 6, 2013

Ulang Tahun: Tentang Ketidakbiasaanku pada Kebiasaan Itu

Birthday... I never really grasped the idea of celebrating birthday with the whole cake-and-candle stuff.  It may be just my scepticism, but I do feel that nothing is special with a birthday, really.  I mean, it's just another day in a year and it's not even the same day with the day you were born.

I understand the reasoning behind the celebration: we gather our beloved to show our appreciation and gratitude for the gift of living.  What I don't get, and don't particularly agree with, is the full-blown celebration most people seem so keen to throw whenever they have a birthday.

What I really want to say is I don't mind to gather with people I love to say thanks and appreciate life--perhaps with some sort of reflections on what we've achieved so far in life.  But such gathering has nothing whatsoever to do with birthday.  We gather to appreciate life--that's the point, and we can do that at any day of the year.  When you shift the focus to 'celebrate birthday' . . . I don't know, I just don't get it.  Because, most of the time, you forget about the life-appreciation altogether and you just lose yourself in the celebration.  

I honestly feel worried whenever parents (or other prominent figure of a family) instill in a child's mind that his/her birthday is coming and that he/she should celebrate it.  What worries me is that they often forget to tell the child that it is not the birthday celebration that's important.  They forget to explain why there's a celebration in the first place.  The child will think that a birthday is very important, but he/she will fail to see that it is but one form of life-appreciation.  That's what worries me the most. 

For me, if I throw a birthday party/celebration for a child, it will be a fun-enjoyable format to teach him/her to appreciate life; to appreciate what he/she has, what he/she has become, to make him/her realize that he/she should be grateful because there are people who love him/her and that he/she should share that happiness and gratitude to others.  And I do hope that the child will one day understand that intention, not just blindly believing that birthday party is a must while missing its meaning entirely.

Good morning.

Thursday, February 28, 2013

Buku-Bukuku yang Entah ada Dimana

Berikut ini adalah daftar judul buku-bukuku dari era Pentagon yang dipinjam, hilang, atau entah apa yang terjadi padanya... yang sampai saat ini belum kembali:

1. Mahabharata
2. Life of Pi
3. Death in Vienna
4. Horeluya (Arswendo Atmowiloto)
5. Supernova: Akar (Dewi 'Dee' Lestari)
6. Supernova: Petir (Dewi 'Dee' Lestari)
7. Perpustakaan Ajaib Bibi Bokken (Jostein Gaarder)
8. Misteri Solitaire (Jostein Gaarder)

Sebenarnya masih ada beberapa lagi, tapi aku sudah lupa apa-apa saja judulnya.  Buku-buku itu entah dipinjam dan dipinjamkan lagi oleh sang peminjam, hilang diambil orang atau salah simpan, atau entah apa lagi yang terjadi sehingga tak bisa kutemukan lagi.  Mereka telah kurelakan... tapi akan selalu kukenang.


Just Another Song from the Good Old Time

I don't know why, but lately, this song pops out in my head and keeps repeating itself... For old time's sake, I'm just gonna post it here.

Natalie Imbruglia

"Torn"

 

I thought, I saw a man brought to life
He was warm, he came around and he was dignified
He showed me what it was to cry

 

Well, you couldn't be that man I adored
You don't seem to know
Seem to care what your heart is for
 

But I don't know him anymore
There's nothing where he used to lie
The conversation has run dry
That's what's going on
Nothing's fine, I'm torn

 

I'm all out of faith
This is how I feel
I'm cold and I am shamed
Lying naked on the floor

 

Illusion never changed
Into something real
I'm wide awake and I can see
The perfect sky is torn
You're a little late, I'm already torn

 

So I guess the fortune teller's right
Should have seen just what was there
And not some holy light

 

It crawled beneath my veins
And now I don't care, I had no luck
I don't miss it all that much
There's just so many things
That I can touch, I'm torn

 

I'm all out of faith
This is how I feel
I'm cold and I am shamed
Lying naked on the floor

 

Illusion never changed
Into something real
I'm wide awake and I can see
The perfect sky is torn
You're a little late, I'm already torn, torn

 

There's nothing where he used to lie
My inspiration has run dry
That's what's going on
Nothing's right, I'm torn

 

I'm all out of faith
This is how I feel
I'm cold and I am shamed
Lying naked on this floor

 

Illusion never changed
Into something real
I'm wide awake and I can see
The perfect sky is torn

 

I'm all out of faith
This is how I feel
I'm cold and I'm ashamed
Bound and broken on the floor
You're a little late, I'm already torn, torn 


And, here's a free translation of that song in Bahasa Indonesia:



"Terkoyak"
Kurasa, aku (ingin) melihat seorang pria muncul ke dunia
Dia hangat, muncul disini, dan sikapnya sangat terpuji
Dia mengajariku ada makna apa dalam tangisanku

 

Well, kau tak bisa jadi orang yang kukagumi
Kau seolah tidak tahu
Tidak peduli untuk apa hatimu
 

Tapi, aku tidak lagi mengenal pria tadi   
Tidak apa-apa lagi di tempat dia biasa berbaring
Obrolan kami mengering
Itulah yang terjadi
Tidak ada lagi yang baik-baik saja, aku terkoyak

 

*) Aku kehilangan keyakinan
    Inilah yang kurasakan
    Aku kedinginan dan dipermalukan
    Berbaring telanjang di lantai

    

    Ilusi takkan berubah
    Jadi kenyataan
    Aku sudah terbangun dan aku bisa melihat
    Langit yang sempurna itu terkoyak
    Kau sedikit telat, aku (hatiku) sudah terlanjur terkoyak

Kurasa peramal itu benar
Harusnya aku melihat kenyataan apa adanya
Bukan malah berharap akan ada keajaiban

Ucapan itu merasuk ke nadiku
Dan sekarang, aku tidak peduli lagi, aku memang tidak beruntung
Sebenarnya, aku tidak terlalu merindukannya lagi
Ada begitu banyak hal
Yang bisa kusentuh, aku terkoyak

*)

Tidak ada apa-apa lagi di tempat dia biasa berbaring
Inspirasiku mengering
Inilah yang terjadi
Semuanya salah, aku terkoyak

*)

Aku tak lagi yakin
Inilah yang kurasa
Aku kedinginan dan aku malu
Terikat dan hancur di lantai
Kau sedikit telat, aku sudah terlanjur terkoyak

Monday, February 25, 2013

Kata-Kata yang Berlari, Hanya Setengah Sampai

Enam buku tulis telah terisi penuh sejak pertama aku memutuskan untuk menuangkan gagasan dan pemikiran-pemikiranku (yang penting maupun yang konyol, yang memperkaya maupun yang sekedar membuat tertawa) dalam bentuk tulisan dan puisi-puisi.  Tapi setelah buku keenam itu, coretan gagasan-gagasanku berceceran dimana-mana.  Di carikan-carikan kertas, di sela-sela catatan kuliah, di WOH (Whisper of the Heart, buku curhat bersama anggota Hima Bahasa Inggris era Pentagon), di mana-mana.  Sebagian terselamatkan dan masih kusimpan.  Sebagian lagi menghilang.  

Sekarang, aku telah beberapa kali membeli buku tulis ketujuh.  Buku tulis dengan kriteria yang sama seperti yang selalu kugunakan: tebalnya lebih dari 100 lembar.  Tapi, baik buku tulis keluaran PT. S*nar D*nia, buku tulis berjudul 'Campus', buku tulis bersampul tebal dengan pola kotak-kotak (kurasa kalian tahu buku mana yang kumaksud), maupun buku tulis berjuluk 'agenda' yang biasa digunakan oleh orang-orang kantoran, tetap tidak bisa benar-benar menjadi buku yang ketujuh.  Kali ini, sebabnya adalah gagasan-gagasanku yang jadi pemalu.  

Aku bisa saja beralasan bahwa aku tak punya ruang atau waktu lagi untuk menulis panjang dan merenung lama.  Tapi itu tidak benar.  Kata-kata yang dulu selalu mengalir bebas sampai semua emosi terwakili sekarang seperti sedang sprint berkelompok.  Mereka berlarian begitu cepat mewakili semua emosi... tapi tak semuanya sampai.  Sebagian berhenti sebelum sampai di ujung jari.  Dan emosi yang diwakili oleh kata-kata yang kelelahan itu pun tak tertuliskan. 

Entahlah... mungkin aku mulai bosan, atau mulai merasa bahwa kata-kata itu takkan kemana-mana.  Mungkin pula karena aku mengutuk diri sendiri dengan menargetkan bahwa kumpulan puisiku berikutnya akan berjudul 'Janin Tak Lahir' (dan sebab nama adalah do'a, puisi-puisi itupun tak sampai lahir ke dunia).  Mungkin juga karena aku telah kehabisan cerita untuk dijadikan pemantik inspirasi.  Apapun alasannya, akhir-akhir ini semangat menulisku seolah api yang membakar spiritus:  menyala terang, tapi cepat padam.  Gagasan-gagasan hasil perenungan mendalam hanya tertulis pengantarnya saja, sebab begitu sampai pada paragraf kelima, aku seperti kehilangan kata-kata.  Kalaupun jadi tulisan panjang, itu cuma kumpulan berbagai gagasan yang saling tumpang tindih tanpa kejelasan mana ujung mana pangkalnya.

Dan beberapa minggu terakhir, ada satu pertanyaan baru yang mengusikku: Adakah penjelasan kenapa aku merasa seolah penyebab hal diatas adalah kombinasi antara kertas dan pena?  Sebab, ketika kata-kata kuketik di komputer (baik offline maupun online), mereka bisa mengalir lancar, berlari dengan santai, dan semua tersampaikan.  Tapi ketika aku memegang pena, mereka berhenti di paragraf ketiga.

Mungkin, aku memang harus berubah dari penulis jadi pengetik... :p

(Ya, kalimat terakhir itu hanya bercanda, sebab toh esensi hasil keduanya sama saja: sesuatu yang bisa kalian baca.)

Sunday, February 24, 2013

The Soundtrack for the Story

Jika hidup adalah seperti dalam film, maka haruslah ada sebuah lagu yang bisa merangkum keseluruhan jalan ceritanya (minimal, merangkum tiap bagian utamanya).  Dalam hidupku, ada satu bagian yang sangat penting bagi makna eksistensi dan identitas yang kubentuk.  Aku selalu berusaha menempatkan diri sebagai cermin, tempat mereka (yang ingin) bisa melihat diri mereka sendiri.  Tempat mereka bisa mengamati dan menyadari apa-apa yang ada, yang belum mereka sadari.  Seperti yang seringkali kubilang, tujuanku melakukan itu ada dua: pertama, untuk bercermin dari mereka, dan kedua, untuk merasa bahagia karena telah sedikit berperan dalam perjalanan mereka menjadi lebih baik.  Dan lagu yang kurasa tepat untuk merangkum hal itu adalah Fix You dari Coldplay (2005).  Berikut adalah lirik dan terjemahan bebas bahasa Indonesianya (untuk mereka yang kurang memahami bahasa Inggris):

"Fix You"  
When you try your best, but you don't succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can't sleep
Stuck in reverse

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

And high up above or down below
When you're too in love to let it go
But if you never try you'll never know
Just what you're worth

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Tears stream down your face
When you lose something you cannot replace
Tears stream down your face
And I...

Tears stream down your face
I promise you I will learn from my mistakes
Tears stream down your face
And I...

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you 

Terjemahan bebasnya:

"Menyembuhkanmu"
Ketika kau telah berusaha sebaik mungkin, namun belum berhasil
Ketika kau mendapatkan yang kau ingin, tapi bukan yang kau butuhkan
Ketika kau merasa sangat letih, tapi tak bisa memejamkan mata
(karena) Terjebak di perputaran arus yang terus membalik (Tak membawaku maju)
Dan airmata pun mengaliri wajahmu
Saat kau kehilangan sesuatu yang tak tergantikan
Saat kau menyayangi seseorang, tapi rasa itu tersia-siakan
Saat kau merasa tak ada lagi yang lebih parah dari itu

Cahaya akan membimbingmu pulang
Dan menyalakan semangat sampai ke tulangmu
Dan aku akan mencoba menyembuhkanmu

Baik ketika kau di atas maupun di bawah,
Ketika kau terlalu sayang untuk merelakan dan melepasnya
Jika kau tidak mencoba, kau tidak akan pernah tahu
Seberapa besar arti dirimu

Cahaya akan membimbingmu pulang
Dan menyalakan semangat sampai ke tulangmu
Dan aku akan mencoba menyembuhkanmu

Airmata pun mengaliri wajahmu
Saat kau kehilangan sesuatu yang tak tergantikan
Airmata mengaliri wajahmu
Dan aku...

(Ketika) Airmata mengaliri wajahmu
Aku berjanji padamu bahwa aku akan belajar dari kesalahan-kesalahanku
Airmata mengaliri wajahmu
Dan aku...

Cahaya akan membimbingmu pulang
Dan menyalakan semangat sampai ke tulangmu
Dan aku akan mencoba menyembuhkanmu

Inti dari lagu ini adalah, seberapa parahpun keadaanmu, seberapa terpurukpun jatuhmu, jika kau mau melihat kedalam, kau akan bisa menemukan cahaya semangat itu di dalam dirimu.  Dan akan selalu ada orang yang berusaha membantumu.  Semata-mata karena dia peduli.

Dan aku berusaha menjadi orang itu, orang yang ingin menyembuhkan mereka.  Berusaha untuk menjadi cermin dimana mereka bisa menemukan cahaya untuk membimbing mereka pulang.  Cahaya itu bukan dariku, tapi dari dalam mereka sendiri.  Sebab aku yakin, jawaban untuk segala pertanyaan kita ada dalam diri kita sendiri, meski mungkin kita butuh mata orang lain untuk bisa melihatnya....

 

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.