Tuesday, April 22, 2014

Tentang Senja dan Sekantung Tanya

Ada tanya menyumbat kerongkongan
Tak tertelan, tak bisa dikeluarkan
Tentang senja yang kau kantongi kemarin dulu
: Untuk apa?  Kenapa matamu melihat jingganya begitu berbeda?
   Apakah kenangkenangan akan sepotong suasana akan membuatmu lebih  
   bahagia?

Aku bertanya sebab aku sudah lupa pada langit
dengan segala cahayanya yang kutinggalkan
Ketika aku memilih menyadari
Bahwa sayap yang ditumbuhkan hanyalah ilusi
Takkan mampu membawaku kepada purnama, bintang, atau matahari
Menyadari bahwa yang kurindu adalah terang itu saja, inspirasi
Yang mungkin hilang jika aku terbang

Saat ini, aku berbaring sambil mengingat rasa tanya yang tersangkut
Memandang awan
Menceritakan kenangkenangan
Mensyukuri bahagia yang diberi bumi
Berdo’a
: Semoga kau tak tercekik tanya.  Semoga kau tahu bahwa bahagia itu ada
  dalam hatimu.

Monday, April 21, 2014

Gaji Katarak Hari Senin (Ocehan untuk Sekedar Menyibukkan Diri)

Orang lain mungkin benci hari Senin karena bagi mereka hari Senin berarti kembali menghadapi setumpuk pekerjaan, padahal libur akhir pekan belum bisa memuaskan dahaga mereka akan waktu bersantai.  Bagi mereka yang masih menempuh jenjang pendidikan, hari Senin berarti kembali menjalankan rutinitas persekolahan atau perkuliahan yang memang cenderung menjenuhkan.  Bagi saya, sejak beberapa bulan terakhir ini, hari Senin pun terbukti bukan hari yang menyenangkan.

Dulu, nama-nama hari tak banyak berarti bagi saya karena pekerjaan saya tidak tergantung pada hari, baik Senin maupun Sabtu dan Minggu.  Sebagai penerjemah lepas, saya bekerja kapan saja ada proyekan.  Sekarang, saya bekerja enam hari dalam seminggu, dengan pilihan hari libur Rabu atau Kamis, tergantung kesepakatan dengan rekan kerja.  Dengan demikian, Sabtu dan Minggu tetap tidak berkonotasi 'liburan' bagi saya.  Namun, lain halnya dengan hari Senin (dan Selasa). Konotasi nama hari Senin (dan Selasa) adalah kejenuhan mutlak, meski dengan alasan yang berbeda dengan alasan-alasan yang saya sebutkan di paragraf pertama.

Dalam tim saya ada empat orang, dua pria dan dua wanita.  Kedua wanita tersebut memiliki tanggung jawab kerja yang berbeda dengan kedua orang pria ini.  Jadwal kerja mereka hanya 5 hari seminggu, dimana mereka diminta untuk tidak masuk pada hari Senin dan Selasa.  Karena kedua wanita tersebut libur, maka kedua pria ini tidak boleh libur pada Senin dan Selasa.  Bukan itu yang jadi masalah.  Lokasi kerja kami adalah di salah satu pusat perbelanjaan khusus elektronik di Bandung.  Percaya atau tidak, setiap Senin dan Selasa, jumlah pengunjung pusat perbelanjaan tersebut sangat sedikit.  Lebih sedikit lagi yang menghampiri booth tempat saya bekerja.  Ditambah lagi fakta bahwa pada hari Senin kami hanya berdua saja.  Ini lah yang memunculkan kejenuhan.

Jika orang lain benci hari Senin karena mereka jenuh menghadapi setumpuk pekerjaan, saya justru tidak suka hari Senin karena saya jenuh ketika tidak ada pengunjung yang mampir untuk bertanya-tanya.  Berdasarkan perjanjian kerja, tanggung jawab saya (selain memimpin tim di lapangan dan menyusun laporan serta berkoordinasi dengan atasan) adalah sebagai salah satu advisor.  Advisor bertugas memberikan informasi, menjawab pertanyaan, dan melayani para konsumen yang datang ke booth kami.  Nah, pada hari Senin, apalagi ketika cuaca di Bandung sedang sangat tidak bersahabat dengan para pejalan, jumlah orang yang datang ke booth teramat sangat sedikit sekali.  Sebagai contoh, hari ini saja baru ada TIGA orang yang berkunjung dan mengajukan pertanyaan.  Pertanyaannya pun tidak terlalu berbobot.  Saya jenuh karena pada hari Senin, saya hanya bengong menghabiskan waktu menanti ada yang sudi berkunjung dan bertanya.  Syukur kalau memang ada yang mampir.  Seringkali, penantian saya sia-sia belaka.

Selain kejenuhan kerja (lebih tepatnya kejenuhan tidak kerja), saya merasa terbebani oleh ketidakmampuan menunaikan tanggung jawab kerja.  Saya merasa terbebani karena ketika tidak ada konsumen, saya takut dituduh makan gaji buta, atau minimalnya gaji setengah buta.  Saya merasa terbebani karena pada hari Senin (dan kadang Selasa), saya lebih banyak tidak bekerja daripada melakukan tanggung jawab kerja.  Ini menjadi beban karena Senin bukan waktu santai, melainkan jadwal kerja.  Saya harap kalian mengerti apa yang saya maksud.

Kesimpulannya, seperti banyak orang lain, saya tidak begitu suka hari Senin.  Bukan karena saya jenuh menghadapi tumpukan pekerjaan melainkan karena saya justru tidak bisa bekerja optimal.  Dan saya tidak mau dituduh makan gaji katarak karena ketidak-optimalan kerja pada hari Senin.

Selamat siang.

Kelelahan Kesendirian (part 2)

: 별 

Aku berfantasi bahwa ia mendatangiku dalam mimpi
membawakan segelas kopi.
lalu memintaku bercerita
mengajakku tertawa
dan menyuruhku menangis.  "Airmata," katanya,
"adalah yang akan menyampaikan dukamu padaku.
Dan do'a akan membawakan rindumu."

Fantasiku begitu nyata
sampai kopiku habis dan dasar gelas menjadi cermin:
kata-kata yang kudengar itu  adalah kata-kataku sendiri.
kesendirian ini membuatku lelah
dan kelelahan ini bukan mimpi.

Maka, kusampaikan airmata padanya:
"Aku butuh pundak
atau telinga untuk dibentak
sebab cerminku tak lagi tersenyum.  Aku tahu kau takkan kembali, tapi,
sebenarnya kau tak pernah pergi dari hati.
Bahkan fantasi tentangmu mampu menguatkanku lagi."

Dan kukirimkan rindu:
"Ayah, aku lelah.  Tapi aku takkan menyerah
aku akan menjadi. Sebab yang benar-benar mengikatkanku padamu tinggal satu.
Dan aku tahu apa itu."

(Puisi ini belum selesai.  Aku belum bisa benar-benar menyampaikan apa yang ingin kusampaikan.  Aku belum benar-benar bisa mengungkapkan emosi yang aku rasakan, sebab emosi itu adalah emosi pinjaman dari seorang teman.  Aku terbitkan tulisan ini hanya untuk berusaha menyemangatinya, mengingatkannya bahwa ada (tinggal) satu cara untuknya menuntaskan kerinduan itu: Menjadi.  Dan bahwa dalam kelelahannya saat ini, dia tak benar-benar sendiri. Jika nanti aku telah mampu benar-benar memahami emosi yang harusnya mendasari puisi ini, dan menemukan kata-kata yang lebih mengena untuk menyampaikannya, aku akan merevisi tulisan ini kembali.  Terima kasih.)

(P.S. 'part 2' dalam judul tulisan ini adalah karena aku pernah membuat puisi berjudul sama, meski ceritanya beda. Dan aku tidak menemukan judul lain yang lebih pantas untuk menjuduli tulisan ini.)

Sunday, April 20, 2014

Malu Menunggu Komentar

Jujur, aku malu pada diri sendiri ketika meminta (bahkan terkesan memohon dan memaksa) beberapa teman untuk membaca dan mengomentari tulisan-tulisanku di blog ini--aku masih belum menemukan padanan kata bahasa Indonesia untuk blog.

Aku malu sebab sejak dulu aku selalu beranggapan bahwa aku menulis demi kepuasan diri, entah untuk sekedar mengeluarkan unek-unek, melepaskan beban pikiran, mengungkapkan gagasan, atau berpuisi.  Menulis bagiku adalah salah satu kegiatan yang bisa mencegahku menjadi gila.  Aku malu karena ketika meminta orang lain membaca dan mengomentari tulisan-tulisanku (dengan kesan memohon dan memaksa), aku seolah-olah membutuhkan stamp of approval dari mereka.  Seolah-olah makna tulisanku, makna gagasanku, dan makna diriku tergantung pada komentar mereka.  Seolah-olah keberadaan (eksistensi) ku berkurang jika mereka tidak memberikan pandangan mereka mengenai tulisan-tulisanku.

Aku malu, sebab aku menyadari bahwa yang mendasariku untuk meminta (dengan kesan memohon dan memaksa) mereka membaca dan mengomentari tulisanku bukan semata-mata menginginkan umpan balik yang bisa kugunakan sebagai bahan untuk memperbaiki diri.  Aku malu karena aku sadar bahwa dalam permintaanku (yang terkesan memohon dan memaksa itu) terselip sejumlah besar keinginan untuk dipuji.

Aku malu sebab kesadaran itu berarti aku tidak tulus lagi.  Memang ketika menulis aku hanya mencurahkan gagasan-gagasanku.  Sampai saat itu aku masih tulus, masih jujur pada diri sendiri.  Tapi ketika aku mulai meminta orang lain (bahkan memohon dan memaksa mereka) mengomentari tulisanku, aku menginjak-injak ketulusan dan kejujuranku sendiri.

Aku malu, sebab aku belum bisa menghilangkan kesan memohon dan memaksa itu dari permintaanku.  Aku malu sebab aku tahu, keberadaan kesan memohon dan memaksa itu akan sangat  mempengaruhi pengalaman membaca dan kejujuran komentar mereka.

Aku malu bukan karena aku meminta umpan balik dari mereka.  Aku malu karena adanya kesan memohon dan memaksa dalam permintaanku.

Selamat malam.


Kompromi

Jam kerja telah berakhir.  Sehabis membereskan semua unit demo dan display, aku dan teman-temanku beranjak.  Mereka menuju eskalator turun untuk kemudian keluar dan (kuduga) menaiki kendaraan umum ke tempat masing-masing.  Aku tak tahu apakah mereka memang naik kendaraan umum atau tidak, atau bahkan pulang atau tidak, sebab aku berpisah dengan mereka di eskalator.  Mereka turun, sementara aku menuju eskalator naik.  Naik ke tempat makan di lantai tiga.  Aku memang tak sabar ingin pulang, ingin bertemu Zia dan Dilla, tapi aku masih harus  mengunggah laporan mingguan.  Laporan ini harus masuk sebelum hari berganti, demikian perjanjianku dengan pihak yang membayarku untuk melakukan ini.  Demikianlah, satu-satunya cara agar perjanjian tersebut terpenuhi adalah dengan naik ke lantai tiga dan mengunggah laporan ini secepatnya.  

Ini adalah contoh kompromi.  Kompromi, jika didefinisikan secara bebas, adalah kegiatan menerima dan menyesuaikan diri dengan pihak lain (atau dengan suatu kondisi).  Semakin besar yang harus diterima, dan semakin banyak yang harus  disesuaikan, semakin sulit pula sebuah kompromi.  Tujuan sebuah kompromi adalah agar pihak-pihak yang terlibat bisa mencapai titik tengah dimana semuanya memperoleh keuntungan (relatif) dan tidak dirugikan (juga relatif).  Relativitas keuntungan dan kerugian  tersebut tergantung pada sejumlah faktor.  Selain tingkat kesulitan penerimaan dan besarnya penyesuaian yang harus dilakukan, relativitas tersebut juga tergantung pada motivasi dan tujuan dasar yang ada pada masing-masing pihak.  Hal ini berlaku untuk semua jenis kompromi (maksudnya untuk semua kompromi, terlepas dari apapun situasinya dan siapapun pihak yang terlibat).

Sebagai contoh, dalam pekerjaan ini aku harus menerima aturan dan jam kerja yang (jika dibandingkan dengan pekerjaan sebagai penerjemah lepas) lebih ketat.  Berkurangnya kebebasan dalam bekerja tersebut aku kompromikan dengan upah yang (jika dibandingkan dengan pekerjaan sebagai penerjemah lepas) lebih lumayan.  Ketika kemudian ada penambahan tanggung jawab kerja, misalnya keharusan untuk menyelesaikan laporan meski jam kerja telah berakhir, maka harus ada kompromi tambahan.  Dalam hal ini, pihak-pihak yang terlibat sepakat dengan penambahan upah kerja.

Sebuah kompromi tidak berdiri sendiri.  Tiap kompromi pasti disertai oleh kesepakatan dan komitmen.  Kesepakatan merupakan hasil akhir sebuah proses kompromi, sementara komitmen merupakan tindak lanjut agar kompromi dan kesepakatan yang telah tercapai bisa dijalankan.  Kedua hal ini sama pentingnya dengan kompromi itu sendiri.  Jika tidak ada kesepakatan, berarti proses kompromi yang dilakukan gagal sebab pihak-pihak yang terlibat tidak bisa mencapai posisi imbang dimana masing-masing bisa memperoleh keuntungan relatif dengan kerugian relatif yang masih bisa ditanggung.  Kalaupun kesepakatan telah tercapai, kesepakatan tersebut tidak akan berguna tanpa komitmen untuk menghargai dan melaksanakan kesepakatan tersebut.  Komitmen merupakan bagian terberat karena, jika kompromi dan kesepakatan (mungkin) bisa tercapai dalam waktu relatif singkat, komitmen harus terus menerus dipegang dan dijalankan.

Sebagai ilustrasi, seorang suami yang berkompromi dan sepakat dengan istrinya (misalnya tentang cara membesarkan anak atau tentang cita rasa masakan di rumah) harus bisa memegang komitmen atas kesepakatan tersebut.  Misalnya, sang suami ingin membesarkan anak dengan pendekatan keras (menghukum anak sejak dini sesuai dengan kesalahannya agar si anak tahu  bahwa ia berbuat salah) sementara sang istri ingin membesarkan anak dengan pendekatan halus (menghindari hukuman sebisa mungkin ketika anak berbuat salah dan menggantinya dengan memberikan penjelasan dan pengarahan).  Kompromi yang dilakukan adalah membahas pro dan kontra kedua pendekatan tersebut  (misalnya, pendekatan keras bisa membuat anak menjadi tidak manja sementara pendekatan halus bisa menghindari trauma emosional pada diri anak).  Mungkin kedua belah pihak mencapai kesepakatan dimana hukuman boleh diberikan ketika anak secara sengaja berbuat kesalahan besar, meski telah diberikan penjelasan dan pengarahan sebelumnya.  Bagian terberat dalam hubungan ini justru pada komitmen kedua belah pihak untuk melaksanakan kesepakatan sebaik mungkin secara terus menerus.

Jadi, meski kompromi, kesepakatan, dan komitmen bukan penentu utama keberhasilan, keberhasilan seseorang akan sangat dipengaruhi oleh kemampuannya berkompromi, mencapai kesepakatan, dan berkomitmen dalam menghargai dan melaksanakan kesepakatan hasil kompromi.

Selamat malam.  

Friday, April 18, 2014

Hole in a Heart

Apa yang bisa lebih pedih dari sebuah hati
yang kehilangan hidupnya?

Sebuah lubang tiba-tiba menganga
menghancurleburjungkirbalikkan dunia
--yang menjadi asing dengan begitu seketika--

Tak ada manusia, apalagi hanya kata-kata,
yang bisa mengutuhkan lagi hati itu
Tak juga waktu

Dan detak jantung menjadi pengingat
betapa satu jiwa memiliki dua nyawa
dan itulah sebenarnya yang kita cari selama ini
sebuah hati untuk menggenapi rongga,
sebuah nyawa yang melengkapi langkah

Tak ada yang lebih pedih dari sebuah hati
yang harus hidup dengan lubang menganga
--kehilangan makna yang selama ini ada--

Mind's a Mess

Mind's a mess.
A maze. 
No escape.
Plotting, planning, and still
Trapped in memories. 
Chained by the past
to the high, thick, hard walls of hopelessness.

Mind's a mess.
Always.

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.