Orang lain mungkin benci hari Senin karena bagi mereka hari Senin berarti kembali menghadapi setumpuk pekerjaan, padahal libur akhir pekan belum bisa memuaskan dahaga mereka akan waktu bersantai. Bagi mereka yang masih menempuh jenjang pendidikan, hari Senin berarti kembali menjalankan rutinitas persekolahan atau perkuliahan yang memang cenderung menjenuhkan. Bagi saya, sejak beberapa bulan terakhir ini, hari Senin pun terbukti bukan hari yang menyenangkan.
Dulu, nama-nama hari tak banyak berarti bagi saya karena pekerjaan saya tidak tergantung pada hari, baik Senin maupun Sabtu dan Minggu. Sebagai penerjemah lepas, saya bekerja kapan saja ada proyekan. Sekarang, saya bekerja enam hari dalam seminggu, dengan pilihan hari libur Rabu atau Kamis, tergantung kesepakatan dengan rekan kerja. Dengan demikian, Sabtu dan Minggu tetap tidak berkonotasi 'liburan' bagi saya. Namun, lain halnya dengan hari Senin (dan Selasa). Konotasi nama hari Senin (dan Selasa) adalah kejenuhan mutlak, meski dengan alasan yang berbeda dengan alasan-alasan yang saya sebutkan di paragraf pertama.
Dalam tim saya ada empat orang, dua pria dan dua wanita. Kedua wanita tersebut memiliki tanggung jawab kerja yang berbeda dengan kedua orang pria ini. Jadwal kerja mereka hanya 5 hari seminggu, dimana mereka diminta untuk tidak masuk pada hari Senin dan Selasa. Karena kedua wanita tersebut libur, maka kedua pria ini tidak boleh libur pada Senin dan Selasa. Bukan itu yang jadi masalah. Lokasi kerja kami adalah di salah satu pusat perbelanjaan khusus elektronik di Bandung. Percaya atau tidak, setiap Senin dan Selasa, jumlah pengunjung pusat perbelanjaan tersebut sangat sedikit. Lebih sedikit lagi yang menghampiri booth tempat saya bekerja. Ditambah lagi fakta bahwa pada hari Senin kami hanya berdua saja. Ini lah yang memunculkan kejenuhan.
Jika orang lain benci hari Senin karena mereka jenuh menghadapi setumpuk pekerjaan, saya justru tidak suka hari Senin karena saya jenuh ketika tidak ada pengunjung yang mampir untuk bertanya-tanya. Berdasarkan perjanjian kerja, tanggung jawab saya (selain memimpin tim di lapangan dan menyusun laporan serta berkoordinasi dengan atasan) adalah sebagai salah satu advisor. Advisor bertugas memberikan informasi, menjawab pertanyaan, dan melayani para konsumen yang datang ke booth kami. Nah, pada hari Senin, apalagi ketika cuaca di Bandung sedang sangat tidak bersahabat dengan para pejalan, jumlah orang yang datang ke booth teramat sangat sedikit sekali. Sebagai contoh, hari ini saja baru ada TIGA orang yang berkunjung dan mengajukan pertanyaan. Pertanyaannya pun tidak terlalu berbobot. Saya jenuh karena pada hari Senin, saya hanya bengong menghabiskan waktu menanti ada yang sudi berkunjung dan bertanya. Syukur kalau memang ada yang mampir. Seringkali, penantian saya sia-sia belaka.
Selain kejenuhan kerja (lebih tepatnya kejenuhan tidak kerja), saya merasa terbebani oleh ketidakmampuan menunaikan tanggung jawab kerja. Saya merasa terbebani karena ketika tidak ada konsumen, saya takut dituduh makan gaji buta, atau minimalnya gaji setengah buta. Saya merasa terbebani karena pada hari Senin (dan kadang Selasa), saya lebih banyak tidak bekerja daripada melakukan tanggung jawab kerja. Ini menjadi beban karena Senin bukan waktu santai, melainkan jadwal kerja. Saya harap kalian mengerti apa yang saya maksud.
Kesimpulannya, seperti banyak orang lain, saya tidak begitu suka hari Senin. Bukan karena saya jenuh menghadapi tumpukan pekerjaan melainkan karena saya justru tidak bisa bekerja optimal. Dan saya tidak mau dituduh makan gaji katarak karena ketidak-optimalan kerja pada hari Senin.
Selamat siang.
No comments:
Post a Comment