Sunday, April 13, 2014

Menunggu Hujan Reda

Saya sedang duduk di foodcourt lantai tiga Istana BEC Bandung.  Apa yang saya lakukan disini saat ini?  Saya sedang mengunggah laporan mingguan yang berukuran sangat besar sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan di rumah.  (Sekedar penjelasan bagi yang membutuhkan, di sini saya menggunakan jaringan internet super cepat dengan akun wifi gratis sementara di rumah saya menggunakan modem super lambat dengan kuota terbatas.)

Sambil menunggu proses upload selesai, seperti biasa saya berselancar di dunia maya.  Tadinya saya ingin mengunduh sejumlah tontonan, tapi beberapa pertimbangan membuat saya urung melakukannya.  (Untuk mereka yang penasaran, pertimbangan pertama adalah bahwa episode terbaru dari beberapa serial yang saya ikuti--Games of Thrones, Running Man, Bones, The Big Bang Theory--baru akan tayang malam ini, yang berarti bahwa link unduhannya baru akan ada esok hari; pertimbangan kedua, harddisk eksternal saya sudah hampir penuh--hanya tersisa 20 gb yang saya alokasikan untuk episode-episode baru serial-serial yang saya ikuti diatas--sehingga mengunduh film terasa percuma; pertimbangan ketiga, meski ada sejumlah film yang ingin saya tonton, film-film tersebut masih relatif 'baru' sehingga versi bluray-nya belum beredar di internet.)  Saya juga tadinya berniat mengunduh sejumlah e-book, tapi setelah mencari di berbagai situs selama setengah jam, saya tidak menemukan judul yang cukup menarik.  Demikianlah, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan sesuatu di sini.

Beberapa waktu lalu, saya memanjakan diri dengan membeli sejumlah buku karya Dee (Dewi Lestari, salah satu penulis favorit saya), diantaranya adalah Filosofi Kopi, Madre, dan Rectoverso.  Sebenarnya saya sudah pernah membaca buku-buku tersebut, namun kesukaan saya dengan cara penulisan dan pemikiran Dee membuat saya merasa bahwa saya perlu membeli buku-buku tersebut untuk menambah koleksi saya.

Membaca Dee bagi saya adalah seperti melihat cermin.  Dia selalu berbicara (menulis) tentang pencarian, pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai manusia dan kemanusiaannya, dan evolusi.  Terlepas dari apa yang ditulisnya, saya menyenangi buku-buku Dee karena tiap kali selesai membaca tulisannnya, ada sensasi tertentu yang jarang saya dapatkan dari tulisan-tulisan lain.  Jika dari tulisan lain saya mendapatkan hiburan, dari tulisan Dee saya mendapatkan hiburan dan pertanyaan.  Tiap selesai membaca tulisan Dee, saya selalu tertegun mempertanyakan diri saya sendiri.

Misalnya dalam Filosofi Kopi, Dee menyampaikan (atau lebih tepatnya saya menerima) konsep tentang kebahagiaan.  Jika dirangkum kurang lebih seperti ini: bahagia itu berasal dari dalam diri, ketika kau lupa pada apa yang sebenarnya kau cari, kau tak akan menemui bahagia sejauh apapun kau berlari atau sebanyak dan sebesar apapun pencapaianmu.

Setelah membaca cerita pendek tersebut, saya terpaksa menanyai diri sendiri: "Apa sebenarnya yang kau cari?  Apa definisi bahagiamu?" Ternyata jawabannnya belum berubah dari yang dulu saya yakini: "Aku mencari bahagia dan bahagiaku adalah ketika aku bisa memunculkan kebahagiaan pada diri orang-orang yang kupedulikan."  Saat ini, orang-orang yang ada dalam daftar tersebut memang terbilang sedikit; orangtua,  istri dan anak saya, dan teman-teman dekat (yang sudah saya anggap saudara).  Kesadaran akan hal ini membawa saya ke pertanyaan lain: "Kenapa daftarmu berisi tak sampai dua puluh orang?"  Agak sulit bagi saya untuk menjawab--atau mengelak--dari pertanyaan ini.

Awalnya saya mencoba berargumen bahwa (mengutip Ayah saya) tidak mungkin saya bisa menyenangkan semua orang karena tiap orang memiliki pemikiran dan penafsiran masing-masing.  Tapi saya segera sadar bahwa itu hanya alasan saja.  Jawaban sebenarnya adalah karena saya sudah menjadi seorang yang skeptis terhadap dunia.

Saya sendiri lupa sejak kapan saya seperti ini, tapi karena sikap adalah akumulasi pengalaman dan penafsiran, pertanyaan 'sejak kapan' tidaklah relevan.  Apapun penyebab dan sumbernya, sikap skeptis saya   ternyata sudah kronis.  Saya tidak lagi mempedulikan dunia di luar dunia kecil saya (Dilla, Zia, kedua orangtua, dan sahabat-sahabat terdekat itu).  Yang berarti bagi saya hanya semesta kecil itu saja.  Sisanya hanya background noise yang tak terlalu saya pedulikan karena saya selalu beranggapan bahwa mereka tidak terlalu berpengaruh pada hidup saya.

Namun, kegiatan saya beberapa bulan terakhir ini (yang membuat saya harus banyak bersosialisasi dan membuka diri terhadap dunia di luar zona nyaman saya) menghadirkan sebuah kesadaran baru.  Selama ini saya membodohi diri dengan beranggapan bahwa dunia di luar sana tak berarti banyak bagi diri saya sendiri. Dan tak ada makhluk yang lebih malang daripada mereka yang membodohi diri sendiri.

Saya harus berubah; harus mengubah pola pikir, menggeser sudut pandang.

Memang, saat saya mengetik kalimat-kalimat ini, saya masih sama skeptisnya dengan diri saya beberapa bulan lalu.  Meski demikian, saya perlahan-lahan telah mulai kembali mempertanyakan segala sesuatu.  Sebab perbedaan skeptis dan kritis adalah pada pertanyaan yang diajukan. Mereka yang kritis akan bertanya, mencari tahu, sebelum menerima atau menolak, sementara mereka yang skeptis akan langsung menerima atau menolak, atau sekedar bertahan di zona abu-abu ketidakpedulian, tanpa mempertanyakan.

Sekedar info saja, saya semasa SMA pernah meyakinkan diri sendiri bahwa saya harus bisa selalu (atau paling tidak sesering mungkin) bersikap kritis.  Berbagai pengalaman dan penafsiran yang muncul setelah masa itu lah yang membuat saya lupa pada keyakinan tersebut.

Ah, laporan telah selesai terunggah dengan sempurna.  Hujan di luar pun sudah reda.  Sudah saatnya saya mengemas notebook ini dan mengembalikannya ke tempat penyimpanan (ini inventaris dari tempat kerja yang tak boleh saya bawa-bawa).  Sekarang saya akan pulang dan bermain dengan Zia, mungkin membacakannya cerita dan mengajarinya bertanya.

Maaf jika tulisan saya kali ini tidak memperkaya kalian.

Sampai jumpa.

No comments:

Post a Comment

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.