Lelaki itu duduk memandang cermin;
mempertanyakan diri pada refleksi.
Rasa-rasa yang mengakar diingat oleh tanah
rasa yang tak sempat tumbuh, rasa yang mati muda,
dan rasa yang serupa anak panah: melesat lewat tiba-tiba
menghunjam untuk langsung pergi lagi, tak pernah lama singgah.
Rasa-rasa itu diingat oleh tanah untuk kemudian dijadikan kenang
atau bahan cerita kepada batu, angin, samudera
sebagai pelajaran bahwa rasa-rasa tak pergi kemana-mana
bagaimanapun mereka mencoba menghilangkannya.
Rasa-rasa yang mengakar tetap di tempatnya,
menunggu
menanti Bintang atau Purnama atau Senja atau Pelangi
memunculkan kembali hangat yang pernah ada
pengingat bahwa mereka pernah mengakar di dalam tanah,
meski yang sekarang ditumbuhkan telah sangat berbeda.
Lelaki itu duduk memandang cermin;
mengenang kisah yang tak usai.
No comments:
Post a Comment