Tuesday, May 6, 2014

Creating a Monster

Amazing Spiderman 2 is a story of creating your own demon and facing its consequences.  That's the theme i found recurring throughout the movie.  Starting from the ghost of Gwen Stacey's father Peter Parker sees everywhere he goes, the 'break-up' with Gwen, the choices and disappearance of Richard and Mary Parker's, up to the birth of Electro and Green Goblin (or is it Hobgoblin?).  Unbeknownst to him, Peter Parker choices ended up creating a monster he has to face in the end.  What seemed to be the right choice at one time proved to have dire consequences.

I was planning to elaborate this topic more.  However, words escaped me as of this moment.  So, I guess, I'll just say what I want to say: every choice you made and make has its own consequences, whether good, bad, or worse.  Sometimes, there's no such thing as the right choice.  Most of the times, the wisest choice is to choose one with consequences that you can bear.  The only thing you must always be prepared for when making a choice is to face whatever demon you create with that choice.

Good afternoon.

Monday, May 5, 2014

kembali tiada

maka, inilah aku
sebutir debu

pada satu waktu sempat masuk ke matamu
-ah, ironi itu; aku tak terlihat justru saat tepat di matamu-
menjadi sumber perih yang mengganggu
sebentar saja, sebab lalu airmata mengeluarkanku

hari ini, kembali, aku
-bahkan setelah berubah pada musim-musim yang berlalu-
sebutir debu,
(rindu) pada jejak sepatu
mu.

Sunday, May 4, 2014

The Truth is Out There

The truth is out there.  Saya percaya itu.  Jangan terburu-buru menganggap saya meyakini bahwa ada sesuatu di luar sana yang bersifat non-manusiawi atau non-bumi.  Meski dalam batas-batas tertentu saya memang meyakini hal tersebut, tulisan ini tidak ditujukan untuk membahas  tentang hal-hal yang bisa menjadi ide cerita serial X-Files.  Pemahaman saya mengenai kalimat tersebut sedikit lebih luas.

Saya meyakini bahwa kebenaran memang ada di luar sana, dengan penekanan pada kata Kebenaran dan Di Luar Sana.  Artinya, apa-apa yang ada dalam diri saya bukanlah Kebenaran.  Benak manusia adalah semacam katana bersisi ganda.  Ia digunakan untuk mencerna dan menyerap ilmu seluas-luasnya sekaligus membatasi pencernaandan penyerapan ilmu tersebut sesempit-sempitnya.  Kebenaran sejati memang ada di luar sana.  Tentang ini tak usah diragukan lagi.  Namun, kita harus menyadari bahwa sebagai manusia, kita tidak akan bisa benar-benar  mengetahui dan/atau memahami kesejatian kebenaran tersebut.

Manusia memahami berdasarkan hasil dari proses penalaran dan penafsiran yang dilakukan di dalam dirinya.  Proses penalaran dan penafsiran itu sendiri hanya bisa dilakukan dalam kerangka tertentu, yaitu kerangka yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai proses penalaran dan penafsiran sebelumnya. Tumpukan pengalaman manusia, sejak ia bayi sampai mati, akan membentuk sebuah kerangka dasar atau kerangka umum yang akan digunakannya untuk menafsirkan dan menginternalisasi pengalaman baru.  Hasil internalisasi ini kemudian akan memperkokoh atau memperlemah kerangka dasar tersebut.  Semakin banyak pengalaman, akan semakin kokoh atau lemah pula kerangka yang digunakan manusia untuk menafsirkan.  Intinya, ini adalah sebuah proses berkesinambungan yang tak pernah putus, kerangka dasar pemikiran akan mempengaruhi hasil penafsiran tanda (pengalaman) dan hasil penafsiran akan mempengaruhi pula kerangka tersebut.

Ketika manusia bertemu dengan kebenaran yang sejati, yang berada di luar dirinya, akan terjadi proses filterisasi.  Kerangka pikirnya akan berusaha mencerna dan menafsirkan kebenaran tersebut.  Proses menafsirkan itulah yang, mau tak mau, pasti mendistorsi keutuhan kebenaran.  Dengan demikian, hasil penafsiran yang diinternalisasi ke dalam diri manusia hanyalah sebagian dari kebenaran, dan bukan kebenaran yang utuh dan sejati.  The truth is out there, because what we understand and internalize is just a portion or a version of it, at best.

Semoga kalian paham apa yang ingin aku sampaikan.  Terima kasih

Selamat sore.

Celetukan di Smoking Room

Saya baru kembali dari smoking room.  Di tempat-tempat macam inilah seringkali saya menemukan cermin.  Kali ini, yang menjadi cermin adalah celetukan seorang kenalan.  Saya sebenarnya tidak akrab dengan orang ini, saya bahkan tidak tahu namanya.  Saya hanya tahu bahwa ia bekerja di salah satu toko komputer di BEC, sama seperti ia tahu bahwa saya bekerja di booth Intel.

Saya sedang merokok sambil berusaha mengajak sejumlah orang mengobrol via bbm.  Tak seorangpun dari yang saya ajak tersebut membalas sapaan saya.  Ketika saya menutup flip cover telepon genggam saya, kenalan yang duduk di sebelah saya berujar, "Wah, Garuda euy."  Ia mengomentari stiker Garuda Pancasila yang saya tempelkan di bagian depan flip cover saya.  Saya hanya tersenyum sebab bingung harus mengomentari apa.  Kemudian, ia bertanya kepada saya dan teman di sebelahnya, "Sila keempat, ingat ga?"

Temannya menjawab, "Ketuhanan yang Maha Esa."

"Itu sila pertama.  Itu sih gampang.  Ayo, sila keempat." Ujar kenalan tadi dengan nada bertanya agak memaksa.

"Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan..." jawab saya, sengaja menggantungkan jawabannya, karena saya berasumsi bahwa sedikit pancingan tersebut akan mampu memicu ingatan mereka.

"Iya itu," sambut kenalan tadi, "maklum saya lupa, sudah lama.  Sudah sejak jaman sekolah."

Saya paham maksudnya, terakhir ia bertemu dengan Pancasila adalah belasan tahun lalu ketika ia masih bersekolah.  Saya tersenyum lagi.  Rokok saya sudah selesai, jadi saya berpamitan dengan kedua orang tersebut untuk kembali ke booth tempat saya bekerja.

Dalam perjalanan beberapa menit menuju booth, satu hal sempat terlintas di benak saya.  Pancasila awalnya diniatkan sebagai nilai-nilai yang bisa dijadikan acuan.  Sementara, dari komentar kenalan tadi, saya berasumsi (mudah-mudahan asumsi ini tidak dalam kategori berprasangka buruk) bahwa sikap kolektif bangsa Indonesia yang memperlakukan Pancasila hanya sebagai hapalan di sekolah atau bagian dari ritual upacara pengibaran bendera masih berakar di masyarakat.  Melihat kondisi ekonomi, sosial, politik, dan keagamaan bangsa ini, saya kira tidak berlebihan jika saya berasumsi demikian.  Sebab saya yakin bahwa jika kelima nilai yang terkandung dalam Pancasila memang dipegang dan diterapkan dalam masyarakat (dengan diselaraskan dengan nilai moral apapun yang dianut oleh masing-masing individu), kondisi Indonesia tidak akan separah ini.

Sila pertama, misalnya, awalnya diniatkan sebagai nilai utama yang bisa mendasari keempat sila setelahnya.  Ketuhanan yang Maha Esa adalah sebuah nilai luhur yang mencakup dan merangkum semuanya.  Bahkan meskipun kita mengabaikan sila kedua sampai kelima dan hanya menerapkan sila pertama ini, itu sudah cukup untuk memperbaiki kehidupan.  Pengamalan sila Ketuhanan yang Maha Esa berarti kita meyakini keberadaan Tuhan yang Satu dan mengimaninya.  Keyakinan  dan  iman ini akan terwujud dalam bentuk pelaksanaan nilai-nilai keagamaan sesuai yang kita anut.  Dan, karena ajaran semua agama adalah untuk melaksanakan perintah Tuhannya (yang mencakup semua hal termasuk praktek kehidupan kita), maka pemahaman dan pengamalan sila pertama Pancasila berarti menanamkan, memahami, dan menjalankan perintah Tuhan kita dalam keseharian kita sebagai seorang manusia dan warga negara Indonesia.  Ketika kita meyakini suatu agama atau keyakinan, dan menjalankan perintah Tuhan sesuai agama dan keyakinan kita dengan baik dan benar, niscaya tidaklah akan muncul masalah-masalah besar dalam praktek kenegaraaan dan kemasyarakatan.  

Selain itu, agama dan keyakinan terhadap Tuhan yang Maha Esa bersifat sangat pribadi dan individual.  Ini berarti, pengamalan sila pertama Pancasila akan bermula di level paling dasar, yaitu level individu, pada diri kita sendiri.  Tak usahlah kita mencampuri urusan keyakinan orang lain, terapkan saja dulu sila pertama ini dalam kehidupan kita.  Jika tiap individu rakyat Indonesia mau dan mampu melaksanakannya, niscaya akan tercipta tatanan masyarakat yang sangat optimal demi perkembangan bangsa, apapun agama yang dianut oleh tiap individu tersebut.  Pemahaman mengenai sifat pribadi agama dan keyakinan akan membuat kita mampu menoleransi agama dan keyakinan orang lain.  Jika kita paham bahwa urusan agama adalah urusan antara seorang pribadi dengan Tuhannya, maka kita akan sadar bahwa tak ada hak kita untuk memaksakan agama dan keyakinan kita kepada orang lain.  Kita bisa mengajarkan, mengajak, berdiskusi, mencontohkan, tapi tidak bisa memaksakan.  Inilah yang disebut toleransi, menerima bahwa perbedaan itu  ada dan tidak menjadikannya alasan perpecahan.  Meski demikian, toleransi ini jangan disalahartikan sebagai sikap skeptis, apatis, atau ketidakpedulian.  Toleransi justru muncul dari pengetahuan,  pemahaman, dan penerimaan.

Demikianlah, bahkan pemahaman tentang dan pengamalan sila pertama saja sudah menjamin akan muncul keselarasan dan kedamaian kehidupan berbangsa dan bernegara, apalagi jika kita mampu memahami  dan mengamalkan keempat sila lainnya.  Ketika Pancasila, yang dirancang dan ditujukan sebagai dasar negara, direduksi menjadi sebuah hapalan untuk ditampilkan pada upacara pengibaran bendera, maka mubazirlah ia.

Over Coffee

Tadi malam, saya dan beberapa teman memutuskan (mendadak) untuk berkumpul dan mengobrol di salah satu warung kopi di daerah purnawarman Bandung.  Meski tak semua bisa datang, (yang ada hanya Arun, Tew, Agerin, Dilla, dan saya), pertemuan tadi malam sangat menyenangkan.  Seperti biasa, obrolan kami tak pernah terstruktur, tapi justru dari ketidakterstrukturan itulah muncul berbagai bahan pemikiran dan suasana menyenangkan.

Salah satu yang kami obrolkan semalam adalah bahan penelitian mengenai bahasa (linguistik).  Saya mengusulkan tentang pertumbuhkembangan bahasa, terutama bahasa tulis, mulai dari gambar gua purba sampai emoticon yang dilahirkan oleh teknologi.  Banyak yang bisa diamati dari fenomena perkembangan bahasa ini; proses dan circumstances kelahirannya, survival dan kematian sejumlah unsurnya, dampaknya terhadap bahasa formal baku yang terstruktur, dan lain lain.  Yang terutama menarik bagi saya adalah analisis kualitatif mengenai persepsi berbagai generasi terhadap bahasa-bahasa baru tersebut.  Maksudnya, saya dibesarkan dalam generasi bahasa terstruktur. Bahasa 'teknologi' (yaitu bahasa yang muncul dari pembatasan dan pembebasan yang diberikan oleh teknologi dan berbagai device komunikasi) baru masuk ke kehidupan saya setelah bahasa terstruktur saya (yaitu bahasa Indonesia dan Inggris formal dan informal) telah terbentuk.  Bagi saya, bahasa baru ini merupakan bahasa pelengkap yang bersifat kontekstual.  Artinya, saya hanya menggunakan bahasa teknologi ketika saya memang harus menggunakannya.  Misalnya berbagai jargon yang lahir dan tumbuh di dunia maya, seperti  LOL, BRB, dsb, hanya saya gunakan ketika berinteraksi di dunia maya.

Lain halnya dengan generasi setelah saya.  Mereka yang tumbuh bersamaan dengan bahasa teknologi tersebut cenderung memandang bahasa baru ini sebagai bagian integral dari khazanah bahasa mereka.  Dengan demikian, spektrum pemanfaatan dan penggunaan bahasa baru tersebut lebih luas dibandingkan dengan saya.  Ini saya simpulkan dari interaksi dengan sejumlah murid SMU yang sempat saya ajar beberapa tahun lalu.  Saya rasa, akan sangat menarik mengamati dampak kemunculan, perkembangan, dan keberadaan bahasa baru (yang tak bisa dilepaskan dari kemajuan teknologi komunikasi) terhadap bahasa terstruktur pada dua generasi tersebut.

Terlepas dari seperti apa penelitiannya, saya pikir ide ini cukup pantas untuk dikejar dalam format tesis.

Bahan obrolan lain yang sempat muncul adalah mengenai closure, moving on, dan letting go dalam konteks perasaan.  Mengenai hal ini pernah saya tuliskan juga di blog ini.  Dan ketika kami bahas semalam, ada satu kesimpulan yang muncul, yaitu bahwa proses merelakan harus melibatkan penerimaan.  Termasuk didalamnya kesadaran bahwa meski luka telah sembuh, bekasnya akan terus ada.  Tanpa kesadaran dan penerimaan tersebut, proses merelakan tidak akan terjadi.  Kesadaran akan adanya bekas luka akan berarti kita tidak akan berusaha menutupi atau mencari penggantinya.  Sudut pandang ini akan sangat bermanfaat dalam membangun hubungan yang lebih sehat nantinya. Kesadaran dan penerimaan ini akan berarti bahwa tidak akan ada penyangkalan, dalam bentuk apapun.  Bahkan, mendeklarasikan bahwa diri dan hati kita telah sembuh bisa jadi merupakan salah satu bentuk penyangkalan, ketika kita masih tidak menerima bahwa hati itu pernah terluka, dan bahwa di dalam hati itu masih ada bekasnya.  Obrolan mengenai hal ini kami tutup dengan sebuah kalimat , "wounds heal but the scars will remain.  And men wear their scars proudly."

Demikianlah, obrolan kami mengalir.  Obrolan serius, bercanda, serius dicampur canda, canda dengan maksud serius, semuanya kami nikmati, termasuk obrolan mengenai tafsir mimpi, live music yang selalu lupa lirik, pengamat bahasa yang gatal telinga, penyeleksian pasangan hidup, kecongkakan versus ignorance, analisis psikologis, perlunya cuci otak karena otak sudah kotor, dan masih banyak lagi.  Bagi saya, obrolan warung kopi seperti ini, yaitu obrolan tak terstruktur dan tanpa kerangka yang dilakukan tanpa keinginan untuk memaksakan pendapat sambil minum kopi, memang selalu menghasilkan banyak hal yang bisa dipikirkan, dari yang paling sepele sampai paling kompleks.  Dan obrolan warung kopi, dengan orang-orang yang tepat, bisa menjadi semacam senam otak untuk mencegah saya menjadi gila dan kehilangan pikiran sehat ketika rutinitas mengakumulasi kelelahan dalam benak.  Suasana seperti semalam lah yang selalu saya nantikan dan saya butuhkan, suasana yang dihasilkan bukan dari tempat, tapi dari interaksi dengan teman mengobrol.  Pertemuan semalam ditutup dengan bersama-sama mengapresiasi dua pengunjung yang nge-jam di panggung live music warung kopi tersebut.  Dua pengunjung yang, meskipun hanya nge-jam empat lagu, jauh lebih keren daripada penyanyi live yang mengiringi obrolan kami selama berjam-jam.  Dua pengunjung yang membuat kami dengan sukarela memberikan standing ovation sebelum pulang.

Selamat siang.

Friday, May 2, 2014

Selamat Tinggal

Sungguh, ini adalah kali terakhir
aku mengucap salam perpisahan

Bara itu takkan padam, seperti juga bara lainnya
dan aku sudah berdamai dengan rasa
tapi ialah ia, si anak bajang yang bersarang di kepala
dan ruci yang ada di hati
tak mau menerima, menolak menyadari

Mereka berkonspirasi untuk menyalakan api
meniup-niup bara itu dengan puisi
dan asapnya menyesakkanku
membuat batuk berairmata
menjadi risau yang harusnya tak ada

Sungguh, ini adalah terakhir kali
aku mengucap salam perpisahan
agar kau membalasnya

Maaf, kau harus terbawa-bawa, tapi aku perlu ini
untuk mendiamkan dua suara itu
biar mereka mati dalam mimpi
tak mengganggu lagi.

salah satu dari buku pertamaku

Berikut ini adalah salah satu puisi yang kutulis tahun 2005, bulan-bulan awal.  Puisi ini aku tujukan untuk seseorang yang, sayang sekali, sama sekali belum pernah membacanya.  Demikianlah, aku tuliskan disini dengan sedikit harap bahwa orang tersebut akan membacanya.  Tanpa maksud apa-apa, aku hanya ingin ia tahu bahwa aku menghargainya dengan menjadikannya bagian dari karya-karyaku.

Sendiri; Berjalan Menuju Akhir

Berjalan menuju akhir dalam bayang-bayang kemarin.  
Usir mendung itu pergi, sebelum kita dihujani lagi,
sebab hati sudah terlalu kuyup untuk menerima
airmata lagi, Sayang.  Kau tahu itu

Berjalan menuju akhir dalam dekapan angin
dingin sambil mengertakkan gigi.  Aku
menunggumu menyusul dan berjalan di sisiku, 
Sayang,
cepatlah, sebab jika aku berhenti, beku ini akan jadi pembunuh
dan kau tahu aku belum mau mati

Berjalan menuju akhir dengan luka di punggung yang belum 
sepenuhnya sembuh.  Aku tak tahu kenapa dingin ini
tak mampu membekukannya.  Bukankah kau bilang ingin
memasangkan sayap untuk menutup luka itu?  Cepatlah,
perih ini terlalu pedih untuk diacuhkan
tak akan hilang hanya dengan sekedar mencoba melupakan

Berjalan menuju akhir dengan hujan yang makin kencang dan beku.  Aku tahu
kau telah tiba di sisiku, tapi aku tak bisa melihatmu.
Aku sendiri; berjalan menuju akhir.

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.