Monday, May 19, 2014

Saya Pelupa, Akut.

Saya pelupa. Akut. 

Tadi pagi, saya mendapat sebuah gagasan yang niatnya akan saya tuliskan disini.  Sambil menghabiskan kopi, saya merancang dan menyusun kerangka tulisan tersebut.  

Kopi saya habis. Saya berjalan menuju komputer tempat saya bisa menuliskan gagasan saya.  Tiba-tiba, otak saya memikirkan satu hal lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan gagasan tadi.  Dan saya melupakan semua yang telah saya susun dalam pikiran.

Sudah lebih dari lima jam saya menanti gagasan itu teringat kembali.  Tapi sepertinya ia sudah menghilang entah kemana.  Sayang sekali tadi saya tidak membawa buku wasiat dan pulpen andalan ketika ngopi.  Saya bahkan tidak ingat tentang apa gagasan itu tadi.  Saya rasa, ia takkan kembali dalam waktu dekat.  Tapi setidaknya saya masih bisa menulis tentang ini.

Selamat sore.

Sunday, May 18, 2014

Menonton Mia

Nama Femia Yamaniastuti (jamaniastoeti.blogspot.com) bagi saya selalu identik dengan pentas teater.  Bukan apa-apa, adik saya satu ini memang mengaktifkan diri menggeluti dunia keteateran sejak pertama saya mengenalnya bertahun-tahun lalu.  Ketika ia masih berstatus mahasiswa, ia terlibat aktif di UPT Teater Lakon (mudah-mudahan saya tak salah menulis nama, sebab saya tak yakin nama organisasi tersebut berubah atau tidak), sebuah organisasi teater di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia.  Di Teater Lakon, ia setidaknya aktif selama tiga tahun.  Tahun pertama, sebagai anggota baru, ia terlibat dalam pementasan di tingkat kampus sebagai pemain.  Tahun kedua, ia terlibat sebagai salah satu tim produksi (kalau saya tak salah, ia saat itu menjadi penata kostum).  Tahun ketiga, ia menjadi sutradara.  

Sebagai kakak, saya merasa wajib mendukung dan mengapresiasi usahanya untuk menjadi bermakna.  Sebab itulah saya selalu menyempatkan diri menonton pementasan yang melibatkan dirinya (sejauh saya bisa melakukannya).  Karena ia selalu berbaik hati menyediakan free-pass bagi saya, dan karena waktu itu saya memang berdomisili di kampus, maka saya tak pernah melewatkan undangannya untuk menonton pementasan.  Secara pribadi, saya menyenangi sastra dan seni, tapi saya tidak bisa menyebut diri sebagai penggemar seni teater.  Saya hadir dalam pertunjukan-pertunjukan tersebut semata-mata untuk menonton Mia, menunjukkan bahwa saya mendukungnya (dan jika saya ternyata mendapatkan suguhan tontonan yang memperkaya dan bisa dinikmati, itu saya anggap sebagai bonus).  Meski demikian, ketika ia ada di panggung, saya tidak melihatnya sebagai Mia, tapi sebagai salah satu bagian dari sebuah gambar besar berupa pertunjukan teater tersebut.  Dengan demikian, saya bisa fokus pada jalan cerita dan pementasan tersebut secara keseluruhan dan kedatangan saya tidak menjadi sia-sia.

Saya masih menyimpan beberapa potongan tiket pertunjukan Mia, beberapa lainnya hilang entah kemana.  Nyonya-Nyonya, adalah pertunjukan yang disutradarainya pada tahun 2010.  Kemudian ada Umang-Umang, sebuah pertunjukan kolosal yang sangat mengesankan.  Yang lainnya, saya lupa judulnya.  Beberapa sangat bisa saya nikmati, beberapa biasa saja.  Tapi saya tetap ada di sana untuk mendukung Mia.

Mia dulu sempat saya juluki wanita dengan seribu wajah.  Bukan topeng, tapi wajah.  Sebab ketika ia mengubah gayanya sedikit saja, apalagi ketika ia ada di panggung pementasan, auranya akan berubah.  Saya tak bisa menjelaskan apa yang saya maksud dengan lebih rinci, tapi auranya memang berubah.  Ia seolah menjadi seorang lain yang hanya saya kenal samar-samar.  Tapi bukan itu yang paling saya kagumi dari Mia, melainkan kekeraskepalaannya (jika kata ini terkesan negatif, Anda bisa mengubahnya menjadi 'dedikasi').  Ia salah satu makhluk yang saya ketahui memiliki keinginan kuat dan tak takut untuk mewujudkan keinginan tersebut.  Bisa dibilang hampir tak ada yang mampu menyurutkan semangatnya ketika ia telah memutuskan sesuatu.  Bahkan, demi kecintaan pada dunia yang dipilihnya itu, kuliahnya sempat sedikit terganggu.  Tapi tak lama, karena sekarang ia telah menyandang tiga huruf di belakang namanya.

Setelah lepas dari Teater Lakon, Mia bergabung dengan Mainteater (mudah-mudahan saya tak salah tulis).  Dunia teater dan pementasan sepertinya telah dijadikannya darah yang mengaliri nadi.  Ia bahkan sempat hijrah ke Bone selama beberapa bulan untuk sebuah proyek pementasan.  Sepulangnya dari Bone, ia kembali tidak hanya membawa kisah mengenai dunia teater dan perjuangannya, tapi juga  membawa sebuah kisah cinta (yang tak akan saya bahas disini karena tidak relevan). Beberapa tahun terakhir ini, saya jarang sekali bertemu Mia.  Bahkan kami sempat putus komunikasi selama beberapa lama.  Tapi saya tetap menganggapnya adik.  Ia adalah salah satu Mahmoud yang paling sibuk.  Yang bisa menyaingi kesibukannya hanya Black.  Bahkan, sekembalinya ia dari Bone, hanya dua kali saya bertemu Mia, pada sebuah pertemuan mendadak di sebuah warung kopi dan pada acara mensyukuri hari lahir Zia (dibandingkan dengan frekuensi pertemuan saya dengan para Mahmoud lainnya, ini sangat sedikit sekali).  Setelah kembali dari Bone, saya kira ia akan beristirahat sejenak dari kegiatannya berteater.  Namun ternyata tidak demikian.  Ia langsung terlibat dalam sebuah proyek pementasan naskah Cakar Monyet (yang sempat saya tonton juga).  Setelah mementaskan Cakar Monyet di Jakarta, ia kembali terlibat dalam penggarapan sejumlah pementasan.  

Ada banyak hal yang saya pelajari dari perjalanan Mia.  Salah satunya, untuk sebuah pementasan berdurasi satu sampai dua jam, dibutuhkan latihan berbulan-bulan.  Ini selalu mengingatkan saya bahwa kita tak bisa menilai sesuatu dari apa yang kita lihat saja, tanpa mengetahui latar belakang atau apa yang ada dibaliknya.  Kita tak boleh serta-merta meremehkan seseorang atau sesuatu hanya berdasarkan apa yang kita lihat atau dengar.  Mungkin saja di balik apa yang kita lihat atau dengar selama beberapa saat itu telah ada usaha dan perjuangan sangat keras atau sebuah proses yang sangat panjang.  Intinya, saya jadi selalu teringatkan untuk tidak menilai segala sesuatu dari hasil, melainkan dari prosesnya.

Demikianlah, menonton Mia bagi saya berarti mengingatkan diri untuk duduk diam menikmati pertunjukan.  Penonton tidak berhak protes atas tontonan yang disajikan (di atas panggung maupun dalam kehidupan), sebab penonton bukan pemain.  Kalaupun seorang penonton tidak puas atas apa yang ditontonnya, ia tidak berhak menghakimi pemain, sebab ia tak merasakan apa yang dirasakan oleh pemain tersebut.  Mudah-mudahan kalian mengerti maksud saya.  

Siang tadi, saya menerima sebuah undangan lagi dari Mia untuk menonton pementasan naskah berjudul Reformasi yang digarap oleh Teater Tarian Mahesa (semoga saya tak salah tulis) pada tanggal 21 Mei 2014 pukul 19.30 di kebun seni (pelataran kebun binatang Bandung).  Apapun pertunjukannya, menonton Mia akan selalu menyenangkan sebab, selain kesempatan untuk bertemu muka  dan saling sapa, selalu ada yang bisa saya pelajari dari tontonan tersebut, bahkan meski Mia hanya terlibat di belakang panggung.

Selamat sore.  


MLTR- Nothing to Lose

There are times when you make me laugh
there are moments when you drive me mad
there are seconds when I see the light
though many times you made me cry

There's something you don't understand
I want to be your man

Nothing to lose
your love to win
hoping so bad, that you'll let me in

I'm at your feet
waiting for you
I've got time and nothing to lose

There are times when I believe in you
these moments when I feel close to you
there are times I think that I am yours
though many times I feel unsure

There's something you don't understand
I want to be your man

Nothing to lose
your love to win
hoping so bad, that you'll let me in

I'm at your feet
waiting for you
I've got time and nothing to lose

I'll always be around you
keep an eye on you
'cause may patience is strong
and I won't let you run
'cause you are the only one

Nothing to lose
your love to win
hoping so bad, that you'll let me in

I'm at your feet
waiting for you
I've got time and nothing...

Saturday, May 17, 2014

Kebetulan

Otak saya sedang menolak untuk diajak melakukan perenungan mendalam.  Ia sedang lelah.  Saat ini ia hanya mau dan mampu menghubungkan titik-titik dan potongan-potongan konsep di level yang paling superficial.  Keterhubungan pada tataran bentuk.  Ia sedang tidak dalam kondisi prima untuk menelaah hubungan pada tataran esensi. Jadi, saat ini, saya hanya akan menuliskan sejumlah hal remeh-temeh yang kebetulan mampir di pikiran saya sejak beberapa hari kemarin.

Menurut saya, konsep kebetulan (coincidence) merupakan salah satu konsep yang muncul dari kebutuhan manusia akan makna (kebutuhan untuk memaknai).  Manusia merasa perlu memberikan makna dan menghubung-hubungkan agar tercipta suatu gambaran besar karena manusia memerlukan makna dan kerangka untuk memahami pengalamannya.  Ketika ada sejumlah kejadian acak yang setelah difilter ternyata bisa dianggap memiliki hubungan (se-arbitrer apapun hubungan itu) oleh pikiran, konsep kebetulan pun menjelma.

Ada tiga definisi kebetulan dalam KBBI: 1. tidak dengan sengaja terjadi, 2. tepat atau kena benar (dengan tidak sengaja); misalnya dalam kalimat 'Ia kebetulan sedang keluar ketika rumahnya kebakaran,' dan 3. keadaan yang terjadi secara tidak terduga.  Dari ketiga definisi ini, kita bisa menyimpulkan bahwa suatu kejadian bisa dikategorikan sebagai kebetulan jika tidak ada unsur kesengajaan dan/atau perencanaan (ekspektasi) manusia yang mengalaminya.  

Saya sendiri lebih senang mengartikan kebetulan dari kata bahasa Inggrisnya, coincidence.  Kita bisa melihat kata ini sebagai kata bentukan dari co-incident atau coincide.  Keduanya memiliki makna yang kurang lebih sama.  Yang pertama, co-incident, maknanya  adalah suatu kejadian yang terjadi bersamaan dengan atau menyertai (co-) suatu kejadian (incident) lain. Sementara yang kedua, coincide, bermakna: menempati posisi atau area yang sama pada suatu ruang atau waktu.  Di sini, yang menjadi penekanan adalah pada adanya dua hal (atau kejadian) yang terjadi pada waktu atau ruang yang sama, bukan pada unsur kesengajaan pihak-pihak yang terlibat pada kejadian tersebut.  Saya lebih menyenangi definisi yang ini karena penekanannya pada kejadian tidak menihilkan kemungkinan keterlibatan kesengajaan (pola/rancangan/peta/kerangka) pihak yang lebih besar (yang dalam keyakinan saya adalah Tuhan).

Kebetulan, ada sejumlah kebetulan yang saya amati pada beberapa hari kemarin:

1. Saya sedang memperkenalkan Zia pada Purnama, kebetulan, pada purnama bulan ini, saya bertemu kembali dengan seseorang yang saya identikkan dengan purnama pada referensi memori saya.  

2. Saya sedang memikirkan dan merumuskan gagasan tentang intertekstualitas semesta (saling keterhubungan dalam skala yang lebih besar) semalam.  Kebetulan, ketika saya sedang menonton salah satu serial tv, salah satu tokohnya menguraikan gagasan yang sama (Jemma Simmons dalam Marvel's Agents of S.H.I.E.L.D mengutip hukum pertama termodinamika, mengenai energi yang tidak hilang melainkan hanya berubah).

3.  Saya sedang benar-benar meyakini konsep karma-dharma, yin-yang, keseimbangan semesta, yaitu bahwa semesta selalu berusaha kembali ke keadaan seimbang.  Kebetulan, ketika saya mengobrol dengan sejumlah teman, keyakinan saya dipertegas oleh sebuah bukti cerita yang muncul secara tiba-tiba.

4.  Akun Wifi yang biasa tim saya gunakan di tempat kerja tiba-tiba bermasalah dan tidak bisa digunakan lagi.  Kebetulan, istri saya baru mengaktifkan paket internet dengan menggunakan salah satu provider yang kebetulan memberikan sebuah akun wifi baru yang bisa saya gunakan di tempat kerja.

5.  Saya sudah dua hari pulang terlalu malam, sehingga ketika tiba di rumah, Zia sudah terlelap dan saya tidak sempat membacakannya cerita.  Tapi, kebetulan, dua malam ini ia mengigau dan dalam kondisi setengah sadar ia meminta saya membacakan buku favoritnya.  Ketika cerita telah melewati bagian yang ia senangi, ia pun terlelap kembali tanpa basa-basi.

Mungkin masih ada sejumlah kasus kebetulan lain yang sempat saya lihat, tapi saat ini otak saya tidak bisa mengingat selain yang sudah saya tuliskan diatas.  Jadi, saya kira sekian saja.  Kebetulan, sudah mulai banyak pengunjung lagi yang harus saya layani.

Selamat siang.

Friday, May 16, 2014

Over (another) Coffe

Semalam, Mahmouds kembali berkumpul. (Mahmouds adalah sebuah nama yang dipilih secara acak berdasarkan celetukan yang dulu sering kami keluarkan, oleh saya nama itu kemudian dijadikan singkatan dari 'merely a human motivated on useful deeds' agar memiliki makna. Demikianlah saya dan teman-teman menyebut keluarga kecil kami dengan harapan kami bisa benar-benar berguna.)  Kemarin, saya memang sedang suntuk, jadilah saya menggulirkan sebuah rencana dengan tujuan akhir agar saya bisa mengobrol bersama teman-teman.  Saya mulai dengan mengabarkan kepada Citra bahwa saya sudah mengunduh episode terbaru dari beberapa serial tv yang sama-sama kami ikuti.  Saya tahu bahwa Citra pasti akan ingin segera menontonnya dan karena Citra bekerja, ia pasti akan meminta suaminya, Gege, untuk menjemput file-file tersebut ke tempat saya bekerja.  Saya sudah cukup kenal Gege untuk tahu bahwa ia enggan bepergian sendirian, dan saya tahu ia pasti akan mengajak serta Oom Arun.  Saya sudah cukup hapal pola dan mekanismenya, keberadaan Oom pasti akan mengundang Tew juga.  Selebihnya, tinggal menghubungi Erin dan Mia.  Jadilah semalam kami berkumpul, saya, Dilla, Gege, Oom, Tew, dan Erin, serta Nurul yang dibawa oleh Oom.  Citra tak ikut karena bekerja, Mia sedang membereskan kegiatan teaternya, Black lupa saya kabari.

Pada pertemuan terakhir, saya menginisiasi sebuah usaha untuk memunculkan kembali komunikasi yang berkualitas.  Saya mengajak teman-teman untuk sama sekali tidak memeriksa telepon pintar kami ketika kami berkumpul, kecuali jika jelas bahwa ada yang menghubungi. Saya tidak mau kami benar-benar total mengabaikan perangkat komunikasi tersebut karena saya tahu beberapa dari kami sangat mengandalkan device guna kepentingan usaha.  Jika memang ada telepon masuk dan kami abaikan, saya tak mau itu berakibat fatal.  Jadi kesepakatannya adalah, semua perangkat diletakkan di meja dan dibiarkan.  Orang pertama yang memeriksa perangkatnya (tanpa indikasi jelas bahwa ada yang menghubunginya lewat perangkat tersebut) harus membayar setengah dari jumlah bill kami semua.  Saya merasa perlu melakukan ini bukan hanya untuk memperoleh kualitas obrolan, menikmati kebersamaan kami, tapi juga untuk mencegah diri sendiri agar tidak terjebak ke dalam tren terkini dimana memeriksa device setiap beberapa menit merupakan sebuah norma.

Obrolan-obrolan kami semalam adalah obrolan ringan.  Sekedar menghabiskan malam bersama teman-teman dan melepaskan penat dalam pikiran.

Pada akhir pertemuan, saya mendapat sebuah kabar.  Karma, yaitu balasan atas suatu tindakan yang mungkin (mungkin juga bukan) merupakan konsekuensi langsung tindakan tersebut (bahkan seringkali justru tidak ada korelasi antara tindakan dengan pembalasan tersebut), terjadi.  Ini definisi karma menurut saya. Menurut KBBI, karma adalah 1. perbuatan manusia ketika hidup di dunia dan 2. hukum sebab akibat. Saya tak mau menceritakan rinciannya karena ini adalah kisah orang lain yang sifatnya (menurut saya) teramat sangat pribadi.  Tapi inti dari ceritanya adalah ini, ia yang mengirimkan luka pada gilirannya memperoleh luka, dan kami, para penyaksi, memperoleh tawa.  (Tawa memang bukan reaksi dewasa pada kasus ini, tapi saya tak peduli.  Saya tertawa bukan karena ia luka, saya tertawa karena ironi semesta selalu lucu dan sebab keyakinan saya benar: kita tak perlu melakukan apa-apa untuk membalas seseorang, cukup diamkan saja. Semesta akan membalasnya untuk kita.) Semoga ia belajar dari apa yang ia alami.

Kopi malam tadi bisa membuat kepenatan saya sejenak mereda.  Masih akan ada lagi, saya tahu, tapi untuk saat ini, cukup dulu.

Selamat siang.

Wednesday, May 14, 2014

Bahagia Pinjaman dan Masa Lalu

Selamat sore,

Saya sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa apa-apa yang pribadi harus disimpan dekat hati dan ranah publik adalah untuk ide-ide yang berguna saja.  Tapi untuk kali ini, biarkan saya berbagi.

Saya adalah salah satu yang hidup di masa lalu.  Maksudnya, semua makna diri saya telah saya masukkan ke mesin waktu dan saya tinggalkan disana, pada titik itu.  Saya kuburkan pada titik ketika saya memutuskan untuk maju.  Sejak titik itu, makna diri saya tak lagi ada, saya tak lagi berarti apa-apa bagi diri saya sendiri.  Saya mungkin berarti bagi orang lain, bagi dunia, bagi sesuatu yang ada di luar diri saya, tapi tidak bagi diri saya.  Saya memilih seperti ini sebab saya lebih bahagia seperti ini, mencangkokkan kebahagiaan diri pada kebahagiaan orang lain, bahagia pinjaman dari orang-orang yang memang berarti.

Saya tak pernah lagi peduli pada kebahagiaan diri sendiri, sebab saya merasa bahwa diri saya tidaklah penting bagi skema keseluruhan semesta ini.  Saya masih ada hanya untuk berusaha membahagiakan mereka yang saya anggap pantas bahagia.  Berusaha berkontribusi pada semesta dengan berusaha membantu mereka.  Mungkin yang saya lakukan tetap sama sekali tak berarti bagi semesta, tapi setidaknya saya bisa bahagia ketika saya bisa membantu mereka untuk tersenyum.  (Mereka disini adalah segelintir orang yang kebetulan saya temui dalam perjalanan saya dan kebetulan sedang berada dalam masalah. Sebab saya merasa bahwa dunia sudah cukup banyak masalah, saya berusaha meringankan masalah mereka.  Dan sebab saya paling tidak bisa melihat mata yang luka, apalagi jika mata itu saya kenal.)

Saya hidup dalam masa lalu.  Dan kebahagiaan sejati saya berada pada para masa lalu itu.  Masa lalu yang saya simpan dalam kotak memori.  Dan tidak ada yang lebih menghancurkan saya daripada ketidakmampuan untuk membantu mereka mencapai bahagia, apapun definisi bahagia bagi mereka.

Tuesday, May 13, 2014

Tentang Pertanyaan dan Pilihan

Beberapa waktu lalu saya mendengar dua pertanyaan yang diajukan oleh dua orang berbeda.  Terlepas dari kepada siapa pertanyaan itu diajukan (sebenarnya lebih ditujukan kepada semesta, saya rasa), saya merasa tertarik untuk memikirkan jawabannya.

1. Dari mana romantisme itu seharusnya bermula?

Saya berusaha merumuskan jawaban untuk pertanyaan ini, meski saya masih belum bisa mengatakan bahwa saya berhasil menemukannya.  Ini adalah salah satu fenomena yang sulit dijelaskan, hanya bisa dialami.  
Dari apa yang saya baca, (for references to what i read, just google the key words 'what happens when we fall in love') pada dasarnya kita jatuh cinta untuk meneruskan kelangsungan keberadaan kita.  Singkatnya, proses terpesona, jatuh cinta, dan mencintai adalah bagian dari rantai reproduksi manusia yang memiliki tujuan akhir untuk mempertahankan kelangsungan hidup spesiesnya.  
Meski demikian, manusia adalah makhluk yang berpikir dan memerlukan konseptualisasi untuk memahami pengalamannya.  Maka, proses yang sejatinya bersifat teknis praktis dan biologis tersebut perlu diberikan sentuhan romantisasi agar bermakna lebih dari sekedar bagian pengalaman reproduksi.  Inilah yang melahirkan konsep 'jatuh cinta', 'romantisme', 'hubungan romantis', 'hubungan bermakna', dan sebagainya.
Ketika muncul pertanyaan dari mana romantisme itu seharusnya berawal, maka kita perlu menelusuri proses ini (baik dengan bumbu romantisme maupun tidak) sampai ke awalnya.  Ada tiga proses atau tahap yang umumnya dialami ketika seseorang jatuh cinta; ketertarikan (attraction), keterikatan (attachment), dan komitmen (commitment).  Masing-masing tahap ini memiliki level keterlibatan emosi dengan tingkat kedalaman berbeda-beda.  Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mengamati proses ini di level yang paling awal, yaitu ketertarikan.
Kenapa kita tertarik (suka) pada seseorang lebih dari orang lainnya?  Apa sebenarnya yang membuat kita 'suka'?  Jawabannya, menurut para ahli psikologi dan ahli perilaku serta ahli hormon, berada pada tataran bawah sadar pikiran kita.  Pengalaman dan proses pertumbuhkembangan kita baik secara fisik maupun emosional pada akhirnya akan memunculkan sebuah peta atau kerangka (template) mengenai pasangan ideal.  Kerangka ini, dan proses pembentukannya, mungkin kita sadari mungkin juga tidak, tapi ia ada.  Sebagian besar psikolog sepakat bahwa kita mendasari pembentukan kerangka ideal partner ini pada figur orangtua atau sosok dominan yang dekat dengan kita pada masa kecil.  Mereka menyederhanakan faktor-faktor pembentuk ini menjadi tiga unsur utama: penampilan (appearance), kepribadian (personality), dan hormon (lebih spesifik lagi, hormon feromon).
Mengenai penampilan, para peneliti menemukan bahwa kita cenderung tertarik pada orang yang penampilannya mengingatkan kita pada orangtua kita (atau sosok dominan masa kecil) atau bahkan pada diri kita sendiri.  Secara bawah sadar, ketika kita melihat seseorang di kerumunan orang, kita secara otomatis menganalisis fitur-fitur penampilannya dan membandingkan dengan fitur-fitur yang kita akrabi (entah dari orangtua, sosok dominan, maupun dari diri kita sendiri).  Semakin banyak fitur yang kita  kenali, akan semakin tertarik pula kita kepada orang tersebut.
Hal yang sama juga berlaku untuk kepribadian (personality).  Semakin banyak sifat (termasuk didalamnya sense of humor, kesukaan dan ketidaksukaan, selera musik, dsb) yang kita akrabi, semakin cocok orang tersebut dengan template yang kita  miliki, dan akan semakin menarik pula ia bagi kita.
Faktor ketiga yang bersifat hormonal, mempengaruhi kerangka pasangan ideal kita dengan cara yang sedikit berbeda.  Meski masih ada sejumlah perdebatan mengenai keterlibatan feromon dalam proses 'jatuh cinta', tapi saya rasa ini perlu disebutkan disini.  Feromon (pheromone) adalah hormon yang secara literal berarti pembawa ketertarikan (excitement carrier, dari bahasa Yunani pherein dan hormone).  Zat ini merupakan semacam sidik bau (bayangkan sidik jari tapi berupa aroma) yang membantu hewan dan manusia menentukan mana individu yang paling cocok untuk dijadikan pasangan berdasarkan perbedaan tingkat dan jenis kekebalan tubuhnya.  Individu yang memiliki sistem imun tubuh yang cukup berbeda dengan sistem imun tubuh kita akan lebih menarik.  Hal ini merupakan salah satu rancangan alam untuk memastikan bahwa suatu spesies memiliki kemungkinan besar untuk memperoleh keturunan yang sehat, karena sistem imun kedua orangtuanya cukup beragam.  Feromon tidak berbau, tapi organ penciuman kebanyakan hewan dan manusia (meski tidak semua) memiliki veromonasal organ, yaitu organ di dalam hidung yang mampu mendeteksi feromon.  
Ketiga hal inilah yang mempengaruhi ketertarikan kita pada seseorang.  Ketertarikan ini kemudian akan memunculkan keterikatan (attachment) jika ditindaklanjuti, yang pada gilirannya akan berkembang menjadi sebuah hubungan berkomitmen (commitment) ketika kedua individu yang terlibat memutuskan  demikian.
Kembali ke tujuan semula.  Untuk menjawab pertanyaan darimana romantisme seharusnya bermula, kita perlu mendefinisikan dulu kata 'romantisme'.  Jika Anda mendefinisikan kata 'romantisme' pada pertanyaan ini sebagai hubungan yang didasari cinta antara dua individu manusia, maka pemaparan saya diatas bisa menjawab pertanyaan ini.  Romantisme itu bermula dari kerangka mengenai pasangan ideal yang tersimpan di alam bawah sadar pikiran manusia dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang bertujuan untuk memastikan keberlangsungan hidup spesies manusia.  Jika Anda mendefinisikan 'romantisme' sebagai sesuatu yang lain, maka maaf, penjabaran dan pendekatan yang saya gunakan dalam tulisan ini tidak bisa memberi jawaban untuk Anda.

2. Kenapa kita tidak bisa memilih pada siapa kita jatuh cinta?

Ini juga pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab.  Berdasarkan pada pemaparan saya untuk pertanyaan pertama, pada dasarnya kitalah yang memilih kepada siapa kita jatuh cinta.  Hanya saja, kita memang tidak bisa mengendalikan atau menentukan pilihan tersebut.  Bingung?  Paradoksal memang, tapi biar saya jelaskan.  Sederhananya, konsep kendali adalah konsep yang berada pada tataran sadar, yaitu kemampuan otak dan tubuh untuk menentukan arah suatu objek yang berada diluar dirinya.  Memiliki kendali berarti memiliki kemampuan untuk menentukan arah objek tersebut.  
Dengan kerangka  pemahaman bahwa jatuh cinta merupakan bagian dari rangkaian proses reproduksi manusia, maka sejatinya yang memilih kepada siapa kita jatuh cinta memang adalah diri kita sendiri, berdasarkan template bawah sadar yang kita miliki (seperti yang saya  paparkan di atas).  Tahap ketertarikan kemudian akan berevolusi menjadi keterikatan ketika emosi yang terlibat semakin besar dan dalam.  Pada tahap keterikatan ini (attachment) yang menjadi pemeran utama masih diri kita sendiri, dalam artian bahwa terlepas dari apakah objek ketertarikan kita balas menyukai kita juga atau tidak, emosi kita telah tumbuh ke level yang lebih dalam, yaitu level dimana kita merasa (kebahagiaan) kita terikat pada objek tersebut.  Jika ada respon dan kesepakatan dengan objek rasa suka kita, maka tahap keterikatan mungkin bisa berkembang ke level selanjutnya, yaitu komitmen.
Kenapa kemudian muncul anggapan bahwa kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta, saya rasa jawabannya adalah jelas.  Kita memilih berdasarkan kerangka bawah sadar, dan kerangka tersebut terbentuk diluar kendali kita.  Kerangka ini muncul dan berubah berdasarkan rangkaian pengalaman yang terinternalisasi oleh pikiran bawah sadar kita sejak kecil hingga seterusnya.  Karena bukan pikiran sadar kita yang membentuk kerangka ini, maka kesan yang muncul di pikiran sadar adalah kita tidak memiliki kemampuan untuk menentukan kepada siapa kita jatuh cinta.  Ini sebenarnya hanya salah satu ilusi pikiran.  Jika kita mau bercermin  dan merefleksi, niscaya kita akan sadar bahwa kita tidak perlu seratus persen mempercayai apa yang dikatakan oleh pikiran sadar kita dan lebih meyakini serta menerima apa yang ditawarkan oleh alam bawah sadar kita.  Kita yang memilih pada siapa kita jatuh cinta, meski memang bukan kita yang mengendalikan pilihan tersebut.  
Saya rasa, pemaparan ini bisa sekaligus menjawab (menjelaskan) kemunculan konsep 'jodoh di tangan Tuhan'.  Intinya, alam bekerja sedemikian rupa untuk membentuk suatu kerangka bagi diri kita guna menentukan pilihan kepada siapa kita akan jatuh cinta (bahasa teknisnya: siapa yang paling cocok untuk dijadikan pasangan dalam meneruskan kelangsungan hidup manusia), dan karena alam selalu bekerja dalam kerangka yang lebih besar dari satu individu manusia, kita tidak selalu bisa memahami dan menyadari kekuatan yang menggerakkan kita atau tujuan pergerakan tersebut.

Demikianlah usaha saya untuk menjawab dua pertanyaan yang saya dengar diajukan (mungkin kepada semesta), dengan harapan mudah-mudahan apa yang saya sampaikan tidak terdistorsi oleh cara penyampaian yang membingungkan.  

Sebagai penutup, jangan menganggap apa yang Anda baca disini sebagai kebenaran (atau bahkan sebagian benar) karena hidup tidak bisa dikondensasi lewat satu kerangka saja.  Lihatlah tulisan ini sebagai sebuah cermin, dimana jawaban yang saya tawarkan bisa terpantul sebagai pertanyaan di pikiran Anda.  Terima kasih.

Selamat siang.

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.