Ada yang mengirim luka dalam amplop
Ditandai dua inisial; satu asing, satu sangat kukenal
Dilengkapi petunjuk arah dan denah lokasi
Seolah ingin aku tahu pasti dimana bisa menemui
Belati untuk hati
Ini sial,
Sebab tak sopan menolak undangan
Aku tak bisa tak datang sebab mereka menjanjikan jamuan
Aku harus mengantarkan senyuman, menjabat tangan,
Menikmati kudapan dan hiburan,
Membawa pulang kenang-kenangan
: Luka tusukan
Ini sial,
Dilema simalakama.
Tak muncul adalah kalah
Tapi tiba disana dan menelan ludah?!
Sama saja.
Entahlah.
Sepertinya aku memang harus datang, jadi pecundang.
Amplop berinisial ini sial!
Thursday, October 2, 2014
Wednesday, October 1, 2014
[stub]born
Kau ingin tahu sekeras apa kepalaku?
Biar kuberi tahu:
Semalam cerminku pecah!
Sederhana saja,
Kami berdebat; ia kalah.
Biar kuberi tahu:
Semalam cerminku pecah!
Sederhana saja,
Kami berdebat; ia kalah.
Pesanan Puisi
Kau pikir inspirasi itu makanan cepat saji
Dengan layanan pesan antar malam ke pagi?
Tidak begitu! Kau seharusnya tahu
Ia lebih serupa petir atau gempa
Muncul dari ketidakseimbangan semesta
Menjelma tibatiba di titik kulminasi
Mengetuk minta masuk, untuk segera pergi lagi
Kau bisa membeli katakata, dicetak dan dibungkus rapi
Tapi kau tak bisa memesan paksa emosi
Ia adalah akumulasi; kelelahan harihari, harapan hati,
Mimpimimpi, refleksi.
Jadi maaf, ulang tahun kali ini,
Aku tak bisa mengirimimu puisi.
Dengan layanan pesan antar malam ke pagi?
Tidak begitu! Kau seharusnya tahu
Ia lebih serupa petir atau gempa
Muncul dari ketidakseimbangan semesta
Menjelma tibatiba di titik kulminasi
Mengetuk minta masuk, untuk segera pergi lagi
Kau bisa membeli katakata, dicetak dan dibungkus rapi
Tapi kau tak bisa memesan paksa emosi
Ia adalah akumulasi; kelelahan harihari, harapan hati,
Mimpimimpi, refleksi.
Jadi maaf, ulang tahun kali ini,
Aku tak bisa mengirimimu puisi.
Monday, September 22, 2014
LDR (I'm Done Playing Games)
I'm done playing games, you see,
You are no trophy or prize money.
Not that i don't want to court properly
Or am obsessed with brutal honesty,
I just think we can agree
That we'll be better off with old fashioned clarity.
Don't get me wrong, I'm not opposed to the beauty
Of unraveled mistery
Or the fun of throwing the ball back and forth relentlessly
It's just that I'm no master of semiotics or psychology
And a wrong reading could cost us dearly.
I'm done playing games because distance is a known enemy
And I want this to be real, not a fantasy.
You are no trophy or prize money.
Not that i don't want to court properly
Or am obsessed with brutal honesty,
I just think we can agree
That we'll be better off with old fashioned clarity.
Don't get me wrong, I'm not opposed to the beauty
Of unraveled mistery
Or the fun of throwing the ball back and forth relentlessly
It's just that I'm no master of semiotics or psychology
And a wrong reading could cost us dearly.
I'm done playing games because distance is a known enemy
And I want this to be real, not a fantasy.
Sunday, September 14, 2014
say no more
Jangan katakan apa-apa lagi
Sebab kata adalah garam pada luka saat ini
Jangan katakan lagi
Sebab kata yang penuhi udara menyesakkan
Jangan katakan
Sebab do'a mungkin tak terkabul sementara hati berekspektasi
Jangan
Sebab ini pun sudah terlalu.
Sebab kata adalah garam pada luka saat ini
Jangan katakan lagi
Sebab kata yang penuhi udara menyesakkan
Jangan katakan
Sebab do'a mungkin tak terkabul sementara hati berekspektasi
Jangan
Sebab ini pun sudah terlalu.
Friday, September 12, 2014
Disana
Disana,
harapan serupa ulat hibernasi
dalam kepompong ketakutan
ia tak berani keluar, tak berani dikeluarkan
bukan karena ia bodoh
tapi sebab ia cukup bijak untuk tahu
waktunya belum tiba
Disana,
tujuan serupa nada terakhir
sebuah konser simfoni
ia ada, tapi tak dinanti
bukan karena ia tak penting
tapi sebab banyak yang harus dinikmati sebelum ia sampai
Disana,
sebuah hati duduk di tepi hujan
memandang bintang
ia tak bermimpi, ia tak berlari
ia menikmati sebelum tiba ketika itu
harapan serupa ulat hibernasi
dalam kepompong ketakutan
ia tak berani keluar, tak berani dikeluarkan
bukan karena ia bodoh
tapi sebab ia cukup bijak untuk tahu
waktunya belum tiba
Disana,
tujuan serupa nada terakhir
sebuah konser simfoni
ia ada, tapi tak dinanti
bukan karena ia tak penting
tapi sebab banyak yang harus dinikmati sebelum ia sampai
Disana,
sebuah hati duduk di tepi hujan
memandang bintang
ia tak bermimpi, ia tak berlari
ia menikmati sebelum tiba ketika itu
Friday, September 5, 2014
Lagi
Writing is a luxury. Writing is a privilege.
Menulis itu adalah sebuah kemewahan. Menulis adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah belajar--dan berhasil belajar--menulis. Tapi kemampuan merangkai huruf menjadi kata dan merumuskan kalimat hanya sebagian kecil dari kemewahan menulis. Menulis adalah kemewahan. Kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang mampu mengendalikan diri. Bagaimana tidak? Untuk menghasilkan tulisan yang baik, seseorang harus memiliki pola pikir yang baik pula. Tulisan yang runut muncul dari pikiran yang runut. Pikiran yang tidak tenang akan tercermin pada hasil tulisan yang kacau.
Menulis adalah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang bahagia. Bahagia karena mampu merasa cukup. Bahagia bukan karena tidak ada lagi yang kurang, tapi karena meyakini bahwa kekurangan itu akan bisa ditutupi seraya mensyukuri dan menikmati yang telah ada. Ketika hati--atau jiwa, atau otak, atau diri--telah merasa cukup, ia akan mampu mengalihkan energinya untuk berkarya, mencipta. Menulis adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang tenang--yang mampu menenangkan diri. Dalam keadaan tenanglah sebuah tulisan tercipta.
Menulis adalah sebuah kemewahan. Menulis adalah sebuah hak khusus yang dimiliki oleh mereka yang mampu tenang, yang mampu menyusun dan merapikan, yang mampu menemukan mata badai untuk duduk sejenak dan menikmati kedamaian di tengah hempasan.
Kemewahan dan hak khusus yang saat ini tidak saya miliki.
Selamat siang.
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
- Verly Hyde
- seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.