I've been to Neverland
Flown with Peter Pan
Filled my tummy with imaginations and
Gone to countless wars
(It was during that worst
Moments when I was lost
In my deepest love and foolish hopes
For you)
Now I have come back
To this world of growing old
That bittersweet time of missing what I'd never owned
Lingers in the dark
(You know that place, just behind my eyelids,
The gate through which you always visit
Every night, every day, every time I have them closed)
I am a Lost Boy, expelled from Neverland
Trapped in this body of a man
Still secretly missing what I left behind
Note : This is supposed to be about what I sometimes feel; that somehow there's a little kid inside me, a part that never grows. Whether or not this piece represents what I intended, I do not know. I just need to write it.
Saturday, December 19, 2015
Saturday, November 21, 2015
Dalam Kepalaku
: hZ
Waktu dalam kepalaku, selalu, maju lebih lama
dari dunia di luar sana
seolah ada yang sesekali menekan tombol jeda
Itu sebabnya sembilan tahun pernah tak terasa ada
itu pula kenapa Mia, dalam kepalaku, masih gadis yang menangis di sudut tangga
meski ia telah lama didewasakan dunia
Dan tentangmu, Hafshah Zi, waktu dalam kepalaku dijeda di titik ini
--meski di luar sana ia tak berhenti
Kau akan tetap gadis kecilku, meski kau telah memberiku tiga cucu
Kau akan selalu mencariku ketika waktu
menyisipkan mimpi buruk di kepalamu
Dan aku akan selalu menjawab semua keingintahuanmu
Kau akan terus belajar dari kisah-kisahku
dan aku akan tetap menyimak ceritamu,
Sebab waktu dalam kepala bisa dijeda,
kau gadis kecilku, selalu,
dalam kepalaku
dalam hatiku.
Waktu dalam kepalaku, selalu, maju lebih lama
dari dunia di luar sana
seolah ada yang sesekali menekan tombol jeda
Itu sebabnya sembilan tahun pernah tak terasa ada
itu pula kenapa Mia, dalam kepalaku, masih gadis yang menangis di sudut tangga
meski ia telah lama didewasakan dunia
Dan tentangmu, Hafshah Zi, waktu dalam kepalaku dijeda di titik ini
--meski di luar sana ia tak berhenti
Kau akan tetap gadis kecilku, meski kau telah memberiku tiga cucu
Kau akan selalu mencariku ketika waktu
menyisipkan mimpi buruk di kepalamu
Dan aku akan selalu menjawab semua keingintahuanmu
Kau akan terus belajar dari kisah-kisahku
dan aku akan tetap menyimak ceritamu,
Sebab waktu dalam kepala bisa dijeda,
kau gadis kecilku, selalu,
dalam kepalaku
dalam hatiku.
Friday, November 13, 2015
Hujan dan Payung
Aku suka hujan. Aku menikmati hujan bukan dengan duduk di balik selimut di balik kaca jendela ruang tamu dan ditemani secangkir coklat hangat dan sebuah buku. Aku akan berada di luar sana menyambutnya.
Hujan selalu membawakanku sebuah suasana syahdu; bukan suasana penuh sedih dan pilu, tapi lebih seperti ketika kau sedang merasakan rindu. Tirai air yang turun itu serupa helai-helai tabir yang memisahkanku dari orang-orang lain; menjadi semacam kelambu waktu yang memisahkanku dari mereka. Seolah kami ada di ruang yang sama, tapi di dimensi berbeda. Hujan selalu memindahkanku ke dimensi nostalgia dimana yang ada adalah kenangan (dan sisa-sisa rasa yang tak kuingat lagi sumbernya). Dalam kepompong itu, aku berlari-lari mengejar puisi di padang ilalang setinggi mata kaki, melompat-lompat agar genangan air menciprat ke bunga-bunga liar yang selalu tiba-tiba mekar. Hanya di dimensi ini aku bisa menghirup aroma hijau, menikmati gelak daun-daun yang kegirangan, dan merasakan debar kelabu yang perlahan memudar. Hanya dalam hujan aku bisa menjadi kanak-kanak lagi; menjadi mata yang penuh kekaguman dan tanda tanya.
Dan payung adalah serupa logika yang menyuruhku berhenti dan berteduh; berusaha menghalangi tetes hujan mencumbui wajahku sebab ia tahu bahwa dingin akan membuatku sakit. Tentu saja ia mungkin benar, tapi, aku lebih memilih menikmati hujan dengan merengkuhnya, atau membiarkannya memelukku. Sakit adalah bagian dari nanti, bukan bagian dari ketika ini. Di sini, di ruang yang diantarkan hujan, tak ada sakit, tak ada luka, tak ada perih pedih, tak ada segala apa yang membuat menderita. Maka, aku tak suka menggunakan payung. Payung dengan ujungnya yang serupa pedang akan menyobek tirai hujanku; dan kepompong yang koyak tak bisa ditambal. Ruang kenangku akan bocor; realita akan mengalir membanjir ke dalamnya; dan aku takkan bisa menikmati suasana syahdu itu sebagaimana adanya. Itu sebabnya payung itu selalu kubiarkan tertutup. Biarlah nanti aku menemui kenyataan lagi; setelah aku kembali dari sini; setelah tirai itu berhenti turun dan membaurkanku kembali dengan orang-orang. Sehabis hujan.
Dan payung adalah serupa logika yang menyuruhku berhenti dan berteduh; berusaha menghalangi tetes hujan mencumbui wajahku sebab ia tahu bahwa dingin akan membuatku sakit. Tentu saja ia mungkin benar, tapi, aku lebih memilih menikmati hujan dengan merengkuhnya, atau membiarkannya memelukku. Sakit adalah bagian dari nanti, bukan bagian dari ketika ini. Di sini, di ruang yang diantarkan hujan, tak ada sakit, tak ada luka, tak ada perih pedih, tak ada segala apa yang membuat menderita. Maka, aku tak suka menggunakan payung. Payung dengan ujungnya yang serupa pedang akan menyobek tirai hujanku; dan kepompong yang koyak tak bisa ditambal. Ruang kenangku akan bocor; realita akan mengalir membanjir ke dalamnya; dan aku takkan bisa menikmati suasana syahdu itu sebagaimana adanya. Itu sebabnya payung itu selalu kubiarkan tertutup. Biarlah nanti aku menemui kenyataan lagi; setelah aku kembali dari sini; setelah tirai itu berhenti turun dan membaurkanku kembali dengan orang-orang. Sehabis hujan.
Saturday, October 24, 2015
A Note to Self
Good morning.
Have you decided what mask will you wear today? Which facade will you display? Whichever you decided to put on, please look at that face in the mirror first. Ask him how he is today. Talk to him for a while before you bury him under the pretentious smiles and hollow laughs you will show people all day. If it's still possible for him to be happy, ask him to join you when you laugh, so that it won't be too empty. Talk to him about despair and desperation, about the burdens that wear his strengths off. Tell him that you will take care of everything outside and that he only need to worry about what's inside. Tell him that today, like any other day before this, both of you will pull through.
With this writing, I will waste your time. So, if you think your time is too precious, or if you feel you only have so little time to live your life, I strongly suggest you not to read this.
image source: www.koreaittimes.com
Have you decided what mask will you wear today? Which facade will you display? Whichever you decided to put on, please look at that face in the mirror first. Ask him how he is today. Talk to him for a while before you bury him under the pretentious smiles and hollow laughs you will show people all day. If it's still possible for him to be happy, ask him to join you when you laugh, so that it won't be too empty. Talk to him about despair and desperation, about the burdens that wear his strengths off. Tell him that you will take care of everything outside and that he only need to worry about what's inside. Tell him that today, like any other day before this, both of you will pull through.
It is always easy to pretend, to hide behind the masks. It may be even a necessity that enables you to survive and function in this crazy times. But, it's even easier to get used to it; and when you do, you will forget what you keep behind the masks. My dear friend, believe me, you are not utterly doomed until you truly forget who you are. So, once again, I urge you to talk to the man in your mirror. The tired man who's barely able to move his limbs, let alone pulling himself together. The man who's almost constantly living in autopilot mode. The man that is you.
At night, when the day's over and nobody's around; when you finally can take off the mask, have another conversation with him. Have a hearty conversation about mistakes and consequences, about that dark pit and possible ways to escape. Don't talk about the whys, however. It is just no use to do so. Talking about what caused all this will only drag him deeper to the inescapable abyss of desperation. Talk about what is and what will be, instead, not what was and what have been. Tell him that while you're presently able to let him stay inside to wallow in his misery, you will not be able to keep it up forever. Tell him that you need him to get up and help you face the mess of the world. Tell him that some things won't be over unless he ends it himself. Tell him that if he forces you to wear the masks for too long, they will eventually become you. And when that happens, he will lose his chance to present himself to the world again. He will be forgotten. Tell him that although he may think that that might be a good idea, it is not.
Now, go on, put on your mask. Practice those fake smiles so you can fool people to think they're genuine. Practice those laughs until they sound right to you. When you're all neat and ready, just before you walk out the door, pray that tonight you will still be able to take the mask off and see yourself, the real you, in the mirror.
Have a nice day.
Tuesday, October 20, 2015
Kenanglah Aku
Kenanglah, kenanglah aku
pada antara reguk kopimu
sebab aku ingin dikenang.
Disini, tak ada sesiapa bersamaku
tak ada yang tahan mendengar ocehan,
tak ada yang sudi berbagi mimpi,
tak ada kamu.
Aku telah mencoba mengobrol dengan diriku sendiri;
tapi ia hanya memutar bola mata dan tak mengucap sepatah kata
kecuali untuk menyuruhku menutup mulut dan berhenti mabuk.
Aku belum mencekiknya hanya sebab aku enggan mati bunuh diri.
Kawan,
Kenanglah aku
pada antara hembus rokokmu.
Disini hanya ada kenangan yang sudah jenuh kuingat-ingat
serupa kaset yang kau putar berulang-ulang
sampai ia akhirnya menolak bersuara
atau kau muak mendengarnya.
Disini tak ada kamu.
Kawan,
Tuliskan puisi tentangku agar aku tahu
kau mengenangku,
agar tenanglah aku, senanglah aku
dalam kenanganmu.
pada antara reguk kopimu
sebab aku ingin dikenang.
Disini, tak ada sesiapa bersamaku
tak ada yang tahan mendengar ocehan,
tak ada yang sudi berbagi mimpi,
tak ada kamu.
Aku telah mencoba mengobrol dengan diriku sendiri;
tapi ia hanya memutar bola mata dan tak mengucap sepatah kata
kecuali untuk menyuruhku menutup mulut dan berhenti mabuk.
Aku belum mencekiknya hanya sebab aku enggan mati bunuh diri.
Kawan,
Kenanglah aku
pada antara hembus rokokmu.
Disini hanya ada kenangan yang sudah jenuh kuingat-ingat
serupa kaset yang kau putar berulang-ulang
sampai ia akhirnya menolak bersuara
atau kau muak mendengarnya.
Disini tak ada kamu.
Kawan,
Tuliskan puisi tentangku agar aku tahu
kau mengenangku,
agar tenanglah aku, senanglah aku
dalam kenanganmu.
Puisi Rindu tentang Kekasihmu
Apalah puisi, kalau bukan tetes emosi
yang turun dari mendung hati
agar pada gerimis itu kau pun mengenang kekasihmu
yang disembunyikan awan waktu.
Apalah rindu, kalau bukan uap-uap puisi
yang dicekik terik mata hati
agar pada siang ini kau pun mengharap kekasihmu
ikut menghitung rintik detik yang luruh ke putik-putik.
Apalah pertemuan, kalau bukan kuncup harap
yang menunggu mekar
agar pada malam sepi kau punya alasan untuk merindu
pagi yang akan membawa kekasihmu itu.
Dan, kekasihmu itu adalah laut yang membentang,
bukan memisahkan tapi menghubungkan
antara kau dan kebersamaan.
Dan kekasihmu itu adalah laut
yang menguap menjadi mendung pada tiap perpisahan
hanya agar kau bisa menulis puisi tentang kerinduan dan pertemuan.
yang turun dari mendung hati
agar pada gerimis itu kau pun mengenang kekasihmu
yang disembunyikan awan waktu.
Apalah rindu, kalau bukan uap-uap puisi
yang dicekik terik mata hati
agar pada siang ini kau pun mengharap kekasihmu
ikut menghitung rintik detik yang luruh ke putik-putik.
Apalah pertemuan, kalau bukan kuncup harap
yang menunggu mekar
agar pada malam sepi kau punya alasan untuk merindu
pagi yang akan membawa kekasihmu itu.
Dan, kekasihmu itu adalah laut yang membentang,
bukan memisahkan tapi menghubungkan
antara kau dan kebersamaan.
Dan kekasihmu itu adalah laut
yang menguap menjadi mendung pada tiap perpisahan
hanya agar kau bisa menulis puisi tentang kerinduan dan pertemuan.
Tuesday, October 13, 2015
Kepada Hafshah Zi
Hafhsah Zi, kalau aku memarahimu ketika kau membuat kesalahan, itu bukan berarti aku tak memperbolehkanmu berbuat salah. Aku tak benar-benar sepenuhnya sepakat dengan orang-orang yang beranggapan bahwa memarahi anak adalah sebuah kesalahan. Bahwa bentuk rasa sayang harus diungkapkan dengan kelemahlembutan. Tapi, aku juga tahu bahwa aku takkan pernah bisa secara sengaja menyakitimu. Jadi, ketika kau berbuat sesuatu yang menurut standar nilai yang sedang kuajarkan padamu adalah sebuah kesalahan, aku merasa perlu memarahimu. Itu adalah bagian dari tugasku mengajarimu.
Hafshah Zi, percayalah, aku memarahimu bukan semata karena aku perlu mengungkapkan rasa kesal atau emosi. Ada banyak cara lain untuk melakukan itu, tak harus dengan mengorbankanmu. Aku memarahimu sebab kau perlu tahu bahwa setiap tindakanmu memiliki konsekuensi yang harus kau tanggung sendiri. Kau perlu tahu bahwa tak semua konsekuensi itu menyenangkan. Itu sebabnya aku memarahimu.
Memang kau nanti mungkin akan menyadari sendiri, tapi aku tak mau berjudi dengan kemungkinan. Aku ingin kau menanamkan dalam sistem kesadaranmu bahwa konsekuensi tindakanmu mungkin pahit, bahkan meski tindakan itu sendiri tak sepenuhnya salah. Sebab aku percaya bahwa apa yang sudah ada dalam kesadaranmu takkan lenyap sepenuhnya.
Ada versi lain untuk mengajarimu hal ini, aku tahu. Tapi aku memilih cara ini karena cara inilah yang menurutku paling berpotensi memberikan hasil, meski juga paling beresiko. Kau tahu, aku meyakini bahwa tugas utamaku sebagai ayahmu adalah mempersiapkanmu untuk hidup, untuk menjalani hidupmu sendiri, dengan nilai dan caramu sendiri, bukan dengan nilai dan caraku. Aku juga meyakini bahwa meski kau akan membentuk nilaimu sendiri, dasar-dasarnya harus dipersiapkan olehku. Pada akhirnya, identitasmu adalah kumpulan pengalaman yang kau filter lewat pemahamanmu. Filter itulah yang jadi dasar pembentukan semua maknamu. Oleh sebab itu, aku ingin membantumu memiliki filter yang baik. Dan cara yang kupilih adalah ini.
Hafshah Zi, saat ini ada dua hal yang ingin kuajarkan padamu. Dua hal yang kuyakini akan membantumu memiliki filter pembentuk makna yang baik. Pertama, aku ingin kau ingat bahwa tiap tindakanmu memiliki konsekuensi yang harus kau tanggung sendiri. Kedua, aku ingin kau sadar bahwa tak semua yang kau inginkan bisa kau dapat. Aku bukan ingin mengajarimu untuk tidak melakukan sesuatu karena takut konsekuensinya. Aku ingin mengajarimu untuk memikirkan konsekuensi sebelum bertindak, dan menjalani konsekuensi tindakanmu, sesulit apapun itu. Aku bukan ingin menyuruhmu untuk tak menginginkan apa-apa, aku ingin mengajakmu untuk berharap dan mengejar mimpimu, sekaligus menjagamu agar tak terlalu kecewa ketika harap itu tak mewujud.
Aku adalah jaring pengaman sementara kau berusaha menyeimbangkan diri meniti tali. Sebab seperti itulah hidup, kau meniti tali, berusaha menyeimbangkan diri, salah langkah akan menjatuhkanmu begitu keras, mungkin sampai kau tak bisa bangkit lagi. Karena aku berkewajiban menyiapkanmu untuk menjalani hidupmu sendiri, aku takkan membiarkanmu jatuh hancur sebelum kau siap menjalani hidupmu. Saat ini, kau bebas meniti tali hidupmu dengan cara apapun yang kau inginkan. Kalau kau salah langkah dan jatuh, aku akan menangkapmu sebelum kau terhempas. Tapi, semakin kau beranjak dewasa, jaringku akan semakin mengecil. Semakin besar kesalahanmu nanti, semakin parah pula akibat yang harus kau derita. Oleh sebab itu, aku ingin melatihmu meniti tali itu, dengan caramu sendiri, dengan cara yang aman. Agar nanti, ketika kau harus berjalan tanpa pengaman lagi, kau sudah tahu cara untuk menghindari jatuh yang membuatmu tak mampu bangkit lagi. Nanti kau pasti akan tetap jatuh, mungkin terkilir, mungkin patah kaki, mungkin patah hati, sebab tali itu memiliki caranya sendiri untuk menjatuhkanmu. Tapi, ketika kau jatuh, kau akan tetap bisa bangkit lagi.
Itulah bentuk sayangku padamu, Hafsah Zi. Dan di akhir tulisan ini, aku ingin memintamu untuk tak sepenuhnya mempercayai mereka yang berkata bahwa caraku mengajarimu bukanlah cara yang benar untuk menunjukkan kasih sayang. Kau harus putuskan sendiri siapa yang ingin kau percayai, sebagaimana aku memutuskan cara apa yang kupakai untuk mempersiapkanmu meniti tali. Terakhir, aku ingin kau menyadari bahwa proses mendidik dan mengajarimu ini juga adalah sebuah pelajaran baru bagiku, dan sebab aku baru belajar, akan ada beberapa kesalahan yang pasti kulakukan. Aku ingin kau memakluminya sebagaimana aku pasti menjalani konsekuensi pilihanku ini, apapun itu nantinya.
Aku sayang kau, Hafsah Zi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
- Verly Hyde
- seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.
