Sunday, November 23, 2014

Banyak. Banyak Cerita.

Berapa lama saya tak menulis disini? Lihat saja tanggal entri terakhir saya dan hitung sendiri.  Dalam waktu sekian lama (atau sekian sebentar) itu, ada banyak cerita, ada banyak kisah, yang sampai ke saya dan ingin saya sampaikan. --Sebentar, tombol shift kiri yang biasa saya gunakan agak bermasalah, mungkin ada yang mengganjal di bawahnya... bukan masalah besar, tapi saya terganggu. huft--

Ada banyak kisah.  dan tiba-tiba otak saya mengosongkan diri.

Oke, kita lanjutkan lagi, meski keyboard yang saya pakai sangat tidak nyaman.  Kebahagiaan itu sederhana, tergantung cara kita memaknai peristiwa.  Sebagai ilustrasi, dua minggu terakhir ini Zia sakit.  Ditambah dengan kenaikan harga BBM (yang berarti kenaikan ongkos kendaraan umum dan harga barang-barang), mengharuskan saya dan Menteri Keuangan Keluarga memutar otak mencari celah untuk menyesuaikan anggaran belanja.  Salah satu dampaknya adalah, tidak ada lagi jatah jajan kopi yang harganya diatas 1000 rupiah. :D  Bukan itu saja, ada beragam kejadian kecil yang memberi efek kesal tambahan. Tapi, saya disini bukan untuk curhat.  Ini cuma ilustrasi saja bahwa bahagia itu beragam bentuknya.  Dalam kondisi seperti ini, saya menemukan bahagia.  Beberapa hari lalu, salah seorang teman dekat berulang tahun.  Seperti biasa, kami, para Mahmouds, berkumpul untuk sekedar menunjukkan bahwa kami peduli.  Dalam pertemuan itu, selain obrolan dan tawa dalam dosis yang cukup untuk menyingkirkan sejenak segala hal yang memusingkan, ada sebuah kabar bahagia.  Salah satu dari kami mengumumkan bahwa ia hamil.

See... bahagia itu sederhana.  Kejutan-kejutan kecil di tengah kekacauan. Sedikit tawa yang diramu bersama kopi dan obrolan.  Kesadaran bahwa ada yang mempedulikan.  Semua soal cara kita memaknai peristiwa.

Saya yakin (dan saya tahu pasti karena memang sampai pada saya) ada banyak kisah sedih di luar sana, tapi saya tak mau menuliskannya disini.  Mari kita berbahagia sejenak.

Selamat siang menjelang petang.

Thursday, November 13, 2014

Sudah Selesaikah Kau Bertanya?

sudah selesaikah kau bertanya?
usaikan segera.

jawab itu ada, akan tiba,
meski mungkin kau telah tiada
untuk mendengarnya.


sebab itu, selesaikan saja tanya,
usah mengharap jawab.

Saturday, November 1, 2014

Istri dan Puisi

Temanku pernah bertanya,
"Jika puisimu itu ekspresi emosi,
kenapa tak pernah kujumpa istrimu didalamnya?"
Maka, ini jawabnya:

"Sebab ia nyata,
sementara puisi hanya kata-kata
dan kata-kata adalah angin yang singgah di telinga
mungkin hinggap di benak, mungkin diingat,
tapi lebih mungkin dilupa;

Sebab ia disini,
sementara puisi muncul dari imaji
dari tumpukan harap tak jadi
dari yang tak tersalurkan, dari mimpi
diselipi emosi;

Sebab ia tempat pulang,
sementara puisi adalah pelarian
dari beban, dari perjalanan, dari kisah nyata
semacam gerbang pribadiku ke Narnia,
atau ibu peri kalau aku Cinderella;

Sebab puisiku lahir dari kekacauan,
dari luka, dari gundah, yang dilebih-lebihkan,
sementara ia adalah definisi bahagia sempurna
yang tak pernah benar-benar kutemukan cara
untuk menggambarkannya."

Begitulah, kawan, istriku takkan bisa dimasukkan dalam sebuah antologi.

Monday, October 27, 2014

Soal Dua Belas Nol Satu

Setengah jam lalu, tiba segumpal salju
Mengirim dingin; hanya dingin, bukan beku
Nanti pasti hangat lagi, cuma soal waktu

Sementara menunggu:

Ini bukan soal tega atau enggan bercerita
Ini soal prinsip, soal janji, soal integritas diri
Soalnya percaya itu langka; dan yang sedikit ini tak boleh dikhianati
Ini juga soal menghindari repetisi
Katakata ini miliknya, biar ia sampaikan sendiri
Esok, atau mungkin lusa,
Ia akan bangun dan bicara, tunggu saja

Sekarang dua belas nol satu.
Salju mungkin jadi beku,
Tapi akan cair lagi. Nanti.

Friday, October 3, 2014

I am about to -- ,- [a translation]

I am about to cry,-

The leaves turn themselves a sad yellow, just so they can turn to earthy brown, in a few more weeks.  Much like the branch they hang tightly into a moment ago, which, in the end, they have to let go.  They hint—no, they shout—the coming of the fall, whose wind ushers you to hurry for your jackets.  And then you can go—or stay.

I am about to cry,-
And the day is unbearably long.  As if the sun's deliberately being stubborn; up there.  O, how I wish to say to you, "Please, let today leave early, just today.  Tomorrow you can come back, truly, unconditionally."

I am about to cry,-
And I'm busily looking for her, my shadow.  There she sits, on the bench with faded paint.  Has she got tired walking with me?

I am about to cry,-
Don't fall.  Don't stay too long.  And don't get tired.
Please.

[this one is a paraphrase of a friend's poem of the same title; see here .  done on her request and with her permission.]


Thursday, October 2, 2014

Undangan Pernikahan [IniSial]

Ada yang mengirim luka dalam amplop
Ditandai dua inisial; satu asing, satu sangat kukenal
Dilengkapi petunjuk arah dan denah lokasi
Seolah ingin aku tahu pasti dimana bisa menemui
Belati untuk hati

Ini sial,
Sebab tak sopan menolak undangan
Aku tak bisa tak datang sebab mereka menjanjikan jamuan
Aku harus mengantarkan senyuman, menjabat tangan,
Menikmati kudapan dan hiburan,
Membawa pulang kenang-kenangan
: Luka tusukan

Ini sial,
Dilema simalakama.
Tak muncul adalah kalah
Tapi tiba disana dan menelan ludah?!
Sama saja.
Entahlah.
Sepertinya aku memang harus datang, jadi pecundang.

Amplop berinisial ini sial!

Wednesday, October 1, 2014

[stub]born

Kau ingin tahu sekeras apa kepalaku?
Biar kuberi tahu:

Semalam cerminku pecah!
Sederhana saja,
Kami berdebat; ia kalah.

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.