Friday, January 29, 2016

Aku Membayangkan Kau Bahagia

Aku membayangkan kau ketika aku sudah tak ada,
Bahagia
paling tidak, porsi hidup yang bisa kau nikmati
melebihi bagian yang kau sesali.

aku membayangkan kau menemukan tulisan ini suatu hari nanti
untuk mendapatkan do'a-do'a yang kusisipkan dalam kata
lalu mengingatku:
betapa aku tak pernah cukup bisa menunjukkan
betapa bahagiamu penting bagiku
betapa rasaku tak pernah surut padamu

aku membayangkan kau lalu berharap aku ada disisimu
untuk membisikkan "aku sayang kamu"
dan tersenyum sebab kau sadar
ingatanmu mengabadikanku.







Saturday, January 23, 2016

Sit Silently and Watch

Ini entri pertama saya di tahun 2016.  Sudah hampir akhir Januari, tapi saya belum menulis apa-apa lagi (selain tulisan-tulisan yang berhubungan dengan pekerjaan).  Salah satu alasannya adalah karena saya sedang mengaktifkan kembali mode 'duduk diam mengamati'; suatu kondisi dimana saya menyerap segalanya dan memilah serta mencernanya dalam diam.  Di satu sisi, kondisi ini memang tidak produktif, dalam artian tidak menghasilkan karya nyata.  Tapi di sisi lain, saya membutuhkan kondisi semacam ini untuk merefleksi apa-apa yang saya alami.  Saya perlu menginternalisasi pengalaman dan pengetahuan baru yang saya peroleh agar dapat memaksimalkan pemanfaatannya.

Ada banyak perubahan dalam hidup saya akhir-akhir ini.  Perubahan-perubahan kecil yang ketika terakumulasi, dan tidak disadari, akan berakibat besar.  Ini satu alasan lagi kenapa saya perlu duduk diam dan mengamati, baik mengamati apa-apa yang ada di sekitar saya maupun yang ada di dalam diri saya.  Dengan melakukan ini, saya berusaha memperbaiki posisi; berusaha menjawab pertanyaan 'Siapa saya saat ini?', 'Dimana saya harus berdiri?', dan 'Bagaimana saya harus menyesuaikan situasi saat ini dengan usaha pencapaian tujuan saya?'  Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab segera, sebab salah langkah berarti musnah.

Intinya, meskipun saya sangat ingin mulai menulis dan berkarya lagi, saya masih merasa perlu menundanya.  Saya perlu merapikan diri sebelum memunculkannya ke muka dunia.

Selamat malam.

Monday, December 28, 2015

Di Puncak Rindu

Di puncak rindu,

rasaku candu dalam pembuluh
semakin kukasih, 
semakin ia meminta lebih.

ia seperti laut
semakin kutelan 
semakin menambah kehausan.
(Dan aku tak bisa berhenti menenggaknya sebab hanya itu yang kupunya)

Di puncak rindu,
rasaku menggumpal mengental
jadi palu yang mengetuk-ngetuk kepala;
ingin menghancurkan dada
(Sebab ia merasa terjebak di dalam sana)

rasaku jadi air mata
sebab itu satu-satunya cara ia bisa keluar
setelah kata-kata (dalam cerita, puisi, atau do'a) 
tak lagi bisa mengantar sabar

Di puncak rindu,
hanya ada satu yang akan menormalkanku
KAMU.
(Utuh tanpa syarat apa-apa lagi)

Monday, December 21, 2015

Birokrasi

Birokrasi adalah seperti ini:

Mereka menyulap udara jadi aturan
agar bisa menganggap kita menumpang.

Kemudian, mereka menempatkan kita di dua ruangan,
membiarkan pintu terpentang lebar,
dan berkata:

"Kau boleh kemana saja, kecuali ke pelukannya
  Ia bisa menunggu di mana saja, kecuali di jarak rengkuhmu."

Padahal mereka tahu,
Kita adalah satu.

Saturday, December 19, 2015

A Boy Lost

I've been to Neverland
Flown with Peter Pan
Filled my tummy with imaginations and
Gone to countless wars

(It was during that worst
 Moments when I was lost
 In my deepest love and foolish hopes
 For you)

Now I have come back
To this world of growing old
That bittersweet time of missing what I'd never owned
Lingers in the dark

(You know that place, just behind my eyelids,
 The gate through which you always visit
 Every night, every day, every time I have them closed)

I am a Lost Boy, expelled from Neverland
Trapped in this body of a man
Still secretly missing what I left behind

Note : This is supposed to be about what I sometimes feel; that somehow there's a little kid inside me, a part that never grows.  Whether or not this piece represents what I intended, I do not know.  I just need to write it.

Saturday, November 21, 2015

Dalam Kepalaku

: hZ

Waktu dalam kepalaku, selalu, maju lebih lama
dari dunia di luar sana
seolah ada yang sesekali menekan tombol jeda

Itu sebabnya sembilan tahun pernah tak terasa ada
itu pula kenapa Mia, dalam kepalaku, masih gadis yang menangis di sudut tangga
meski ia telah lama didewasakan dunia

Dan tentangmu, Hafshah Zi, waktu dalam kepalaku dijeda di titik ini
--meski di luar sana ia tak berhenti

Kau akan tetap gadis kecilku, meski kau telah memberiku tiga cucu
Kau akan selalu mencariku ketika waktu
menyisipkan mimpi buruk di kepalamu
Dan aku akan selalu menjawab semua keingintahuanmu

Kau akan terus belajar dari kisah-kisahku
dan aku akan tetap menyimak ceritamu,

Sebab waktu dalam kepala bisa dijeda,
kau gadis kecilku, selalu,
dalam kepalaku
dalam hatiku.

Friday, November 13, 2015

Hujan dan Payung

Aku suka hujan.  Aku menikmati hujan bukan dengan duduk di balik selimut di balik kaca jendela ruang tamu dan ditemani secangkir coklat hangat dan sebuah buku.  Aku akan berada di luar sana menyambutnya.

Hujan selalu membawakanku sebuah suasana syahdu; bukan suasana penuh sedih dan pilu, tapi lebih seperti ketika kau sedang merasakan rindu.  Tirai air yang turun itu serupa helai-helai tabir yang memisahkanku dari orang-orang lain; menjadi semacam kelambu waktu yang memisahkanku dari mereka.  Seolah kami ada di ruang yang sama, tapi di dimensi berbeda.  Hujan selalu memindahkanku ke dimensi nostalgia dimana yang ada adalah kenangan (dan sisa-sisa rasa yang tak kuingat lagi sumbernya).  Dalam kepompong itu, aku berlari-lari mengejar puisi di padang ilalang setinggi mata kaki, melompat-lompat agar genangan air menciprat ke bunga-bunga liar yang selalu tiba-tiba mekar.  Hanya di dimensi ini aku bisa menghirup aroma hijau, menikmati gelak daun-daun yang kegirangan, dan merasakan debar kelabu yang perlahan memudar.  Hanya dalam hujan aku bisa menjadi kanak-kanak lagi; menjadi mata yang penuh kekaguman dan tanda tanya.

Dan payung adalah serupa logika yang menyuruhku berhenti dan berteduh; berusaha menghalangi tetes hujan mencumbui wajahku sebab ia tahu bahwa dingin akan membuatku sakit.  Tentu saja ia mungkin benar, tapi, aku lebih memilih menikmati hujan dengan merengkuhnya, atau membiarkannya memelukku.  Sakit adalah bagian dari nanti, bukan bagian dari ketika ini.  Di sini, di ruang yang diantarkan hujan, tak ada sakit, tak ada luka, tak ada perih pedih, tak ada segala apa yang membuat menderita.  Maka, aku tak suka menggunakan payung.  Payung dengan ujungnya yang serupa pedang akan menyobek tirai hujanku; dan kepompong yang koyak tak bisa ditambal.  Ruang kenangku akan bocor; realita akan mengalir membanjir ke dalamnya; dan aku takkan bisa menikmati suasana syahdu itu sebagaimana adanya.  Itu sebabnya payung itu selalu kubiarkan tertutup.  Biarlah nanti aku menemui kenyataan lagi; setelah aku kembali dari sini; setelah tirai itu berhenti turun dan membaurkanku kembali dengan orang-orang.  Sehabis hujan. 

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.