Thursday, December 11, 2014

Those Little Things

Bahagia itu sederhana.  Saya sudah sangat sering mengucapkan ini dan berusaha menyampaikannya kepada orang-orang.  Saya tidak akan sombong dengan berkata bahwa saya ingin orang-orang meyakini apa yang saya yakini.  Saya hanya sekedar menyampaikan pandangan saya untuk mereka jadikan input, mereka filter, dan mereka olah sendiri.  Terlepas dari benar tidaknya hal ini, bagi saya, bahagia itu sederhana.

Saking sederhananya bahagia, ia seringkali mewujud dalam hal-hal sederhana pula.  Pernahkah Anda merasa sesak di tengah malam, pada kondisi diantara tidur dan terjaga?  Ketika tubuh Anda tidak bisa bergerak, pikiran Anda berteriak tapi mulut tak bersuara, dan paru-paru Anda seolah menolak bekerja, bahagia mewujud dalam bentuk sederhana: Anda bisa bernafas seperti biasa.

Pernahkah Anda menyaksikan orang yang Anda kasih-sayangi terbaring sakit; sedemikian sakitnya sehingga ia tidak menyadari kondisi di sekitarnya, sementara hampir tak ada yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi sakitnya?  Bukankah ketika Anda mengetahui bahwa ia telah kembali sadar, meski harus melalui masa pemulihan yang berat dan lama, Anda merasakan bahagia?

Ketika orang yang Anda sayangi meninggal dunia, Anda pasti merasakan duka.  Tapi bahagia muncul dalam bentuk teman-teman, orang-orang yang melayat, mereka yang peduli terhadap Anda dan Almarhum.

Bagi saya, bahagia seringkali muncul dalam bentuk yang paling sederhana, dan hampir tidak selalu dalam bentuk harta atau materi.  Misalnya, dalam ucapan anak saya yang berkata, "Ayah kerjanya nanti aja, main dulu ama Zia."  Atau dalam bentuk teman yang, tanpa diminta, menyuruh saya membawa pulang motornya, ketika kami berkumpul sampai cukup larut, dan mengembalikan motor tersebut keesokan paginya.  Atau dalam panggilan telepon dari seorang klien yang memberikan bahan terjemahan tepat ketika saya sedang butuh tambahan uang.  Atau dalam bentuk sesederhana segelas air putih yang disiapkan istri sebelum ia berangkat kerja.

Bahagia itu sederhana.  Sebab, pada dasarnya makna terbentuk dari hasil tafsir pemikiran dan perasaan kita.  Ketika kita bisa mengelola proses pemaknaan atas pengalaman dan realita tersebut, maka kita akan senantiasa bahagia.  Merasa cukup (tidak merasa kurang, tapi tidak pula berhenti berusaha), mensyukuri apa yang kita peroleh (menyadari bahwa kita menerima dari, dan mengungkapkan terima kasih kita kepada, Tuhan), dan menyadari bahwa kita sebenarnya tidak memiliki apa-apa (tidak takut kehilangan serta ingat bahwa apa-apa yang telah dititipkan pada kita harus dijaga) adalah sejumlah cara termudah untuk menemukan kebahagiaan.  Saya bilang cara termudah, karena memang sangat sederhana, jika kita tahu caranya.  Yang sulit adalah mengetahui dan menerapkan cara untuk selalu merasa cukup, bersyukur, dan ingat bahwa pada dasarnya kita tidak memiliki apa-apa.

Sekali lagi, [saya ulang untuk penekanan], bahagia itu bisa sangat sederhana jika kita mampu mengelola proses pemaknaan, yang berarti mengelola cara pikir, cara merasa, dan cara menafsirkan pengalaman.  Bahagia itu sederhana, sebab ia ada dalam hati dan dalam kepala kita sendiri.  Bahagia itu sederhana, sebab ia bisa kita tentukan sendiri.  

Semoga Anda mengerti apa yang saya sampaikan ini.

Terima kasih

Selamat malam [menjelang dini hari]

2 comments:

  1. Bahagia itu waktu bisa nyeruput kopi sambil baca novel (dibaca: males-malesan).

    ReplyDelete
  2. Kemarin nemu definisi bahagia versi toko es krim: "you can't buy happiness but you can buy ice cream, which is the same thing." Bahagia itu sederhana.

    ReplyDelete

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.