Friday, February 22, 2013

Melankoli Pagi Hari: Tentang Nama-Nama dalam Cerita

Pagi ini, aku membuka mata bersamaan dengan Zia.  Melihat mata mungil tajamnya tersenyum sebuah rasa pun muncul di solar plexus, yaitu campuran antara bahagia, senang, gemas, dan ingin tertawa.  Aku pun tersenyum bersamanya.  Ketika itulah aku teringat sejumlah nama dan sejumlah kata yang kuanggap bermakna.  Secara spesifik, aku teringat puisiku yang berjudul Garis Darah.  

Puisi itu kutulis sekitar tahun 2009 (atau 2010, aku lupa yang mana) dan awalnya kujuduli Anak Panah.  Dalam puisi itu, aku menyampaikan posisi dan sudut pandangku dalam berhubungan dengan orang-orang yang kuanggap berharga.  (Orang-orang yang kumaksud disini adalah mereka yang telah rela membagi masalahnya untuk kudengarkan, dan mereka yang telah mau kubuat sedikit lebih senang.)  Baris pertama puisi itu, "Aku hanya merentang busur," kira-kira mengandung makna bahwa aku hanya membantu memberikan sedikit dorongan kepada mereka untuk terbang.  Selanjutnya, "Anak panah itu biar terbang bersama angin."  

Aku benar-benar tidak mengharapkan apa-apa dari mereka selain sekelumit cerita ketika mereka sejenak berhenti berlari.  Sebab aku adalah pencerita.  Pembaca.  Yang kucari dan kubisa hanya kata-kata.  (Kata-kata adalah bentuk ekspresi yang kupilih, sama seperti mereka memilih cahaya, gerak, bentuk, warna, atau nada untuk mengungkapkan diri.)  Pernah suatu ketika, seseorang yang aku 'bantu' (maaf jika kata itu terkesan congkak) tak pernah menoleh lagi setelah berlari.  Jujur, aku sama sekali tak sakit hati meskipun dia menghilangkanku dari cerita hidupnya.  Sebab bagiku, setelah gandewa itu kulepas, dan mereka melesat, tugasku selesai.

Awal tahun ini, puisi itu kemudian kuganti judulnya menjadi Garis Darah.  Sebab ternyata pada Zia aku juga memposisikan diri sama seperti pada para 'anak panah' itu.  Aku hanya mempersiapkan dia untuk melesat sendiri.  Untuk menjadi.  Dia mungkin 'menjadi helai-helai keentahan/atau mencuri bulan.'  Dia mungkin 'membunuh kijang/atau membujuk hujan.'  Dan aku akan duduk diam disini mengamati.  Aku bukan tak peduli, aku hanya takkan mengintervensi larinya jika memang dia telah siap berlari.  Sekali lagi, aku percaya bahwa tugasku hanya mempersiapkannya untuk berlari.   'Jika suatu hari dia ingin kembali/Aku akan ada disini.'  Aku akan berterima kasih jika mereka kembali membawa kisah, sedih ataupun bahagia, tapi aku takkan memaksa, apalagi sampai sakit hati karena mereka lupa.

Intinya, meski puisi itu ditulis untuk nama-nama yang (sebagian pernah, sebagian masih) ada dalam ceritaku, karena Zia-lah aku mengubah judulnya.  Sebab, dari mereka aku belajar banyak.  Kata-kataku adalah cermin.  Dari apa yang kusampaikan pada mereka, aku melihat dan membaca diriku sendiri.

Selamat pagi.



Thursday, February 21, 2013

Everybody is Special: Semacam 'analisis' tapi sebenarnya bukan

"Everybody is Special" Demikianlah judul salah satu blog yang saya baca (jamaniastoeti.blogspot.com).  Dan tiap kali saya membaca kalimat itu, saya selalu tergelitik untuk mengomentari (untuk tidak menyebut mengkritisi).  Sebagai justifikasi, saya adalah mahasiswa jurusan bahasa.  Segala sesuatu mengenai bahasa tidak bisa tidak selalu menjadi ketertarikan besar bagi saya.  Bahkan, saya dan beberapa teman mahasiswa yang sepemikiran sering membahas banyak hal, yang kebanyakan tidak penting, dari sudut pandang bahasa, sampai-sampai ada sebuah lelucon yang sering kami lontarkan: "Dasar anak bahasa, sagala ge di bahas a." (Frase terakhir itu adalah bahasa Sunda yang jika diterjemahkan kurang lebih berarti, "segalanya dibahas", sementara 'a' adalah ekuivalen untuk 'bang/kak/mas' di budaya lain.)  Otak saya sepertinya telah tanpa sadar saya atur untuk selalu memperhatikan dan menemukan kejanggalan-kejanggalan dalam bahasa.

Kembali lagi ke judul tulisan ini, dan judul blog yang saya baca itu.  Jika kita terjemahkan ke bahasa Indonesia, maknanya adalah "setiap (semua) orang spesial."  Apa yang salah dengan pernyataan ini?  Tidak ada.  Tapi ada yang menggelitik jika kita telaah maknanya.  Saya rasa kita sepakat bahwa kata 'spesial' bermakna luar biasa/di luar kebiasaan/tidak biasa.  Dan sesuatu yang tidak biasa-biasa saja adalah sesuatu yang tidak gampang (tidak biasa) kita temui.  Jika kita mau sedikit ekstrim, 'special' ('spesial/khusus') bisa dipasangkan atau dipertentangkan dengan 'common' ('umum/jamak/wajar/biasa').  Inilah yang menggelitik saya.

Sesuatu hanya bisa menjadi spesial jika disandingkan dengan segala sesuatu yang lain yang bersifat biasa.  Sesuatu menjadi khusus ketika dia berbeda dari yang umum.  Sesuatu yang luar biasa adalah tidak wajar karena berada di luar koridor kebiasaan dan kewajaran.  Dan ketika kita terapkan kerangka 'semua' pada kata 'spesial', maka kita akan kehilangan pasangan pembanding tadi.  Seperti segala sesuatu di dunia ini, tanpa pasangan, makna akan hilang (percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya).  Semua orang spesial berarti tidak ada orang yang biasa-biasa saja.  Dan ketika tidak ada yang biasa, bukankah spesial itu sendiri menjadi sesuatu yang umum, sesuatu yang jamak, sesuatu yang wajar?  Dan bukankah dengan demikian, kekhususan itu menjadi tak berarti?

Sebagai ilustrasi, seorang siswa SMU yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik adalah spesial di kelasnya, sebab teman-temannya tidak memiliki kemampuan bahasa Inggris sebaik dirinya.  Tapi, tempatkan siswa yang sama di, misalnya, Jurusan Bahasa Inggris sebuah universitas ternama, dia tentunya tidak akan menjadi spesial.  Di tempat baru tersebut, kekhususan siswa tadi akan menjadi tidak khusus lagi, sebab kemampuan bahasa Inggris yang baik tentunya adalah hal yang jamak di Jurusan Bahasa Inggris universitas.

Kalimat 'everybody is special' mungkin terdengar menyanjung, seolah-olah kau punya sesuatu yang luar biasa.  Aku tak menyangkal itu.  Fakta bahwa kau menang bersaing dengan miliaran sel sperma lain ketika mengejar sel telur dulu sudah membuktikan itu.  Kita semua punya sesuatu yang hanya dimiliki oleh kita sendiri.  Tapi, janganlah kau mau terjebak, lalu merasa dirimu lebih, menjadikanmu angkuh.  Sebab sesuatu yang kau punya itu tidaklah menjadikanmu lebih baik dari yang lainnya, sebab setiap orang lain juga sama sepertimu, memiliki sesuatu yang tak dipunya orang lain.

Demikianlah, kawan, tak selamanya sesuatu yang spesial itu bermakna lebih atau luar biasa, sebab ketika pasangan-penentang-pembandingnya sama spesialnya, maka dia akan jadi biasa saja.


Wednesday, February 20, 2013

Sebuah Mimpi yang Belum Menjadi

Jika kau percaya bahwa semua berawal dari mimpi, maka kau juga pasti (ingin menjadi) seorang pemimpi untuk mengawali semuanya.  Tapi, untuk bermimpi, manusia perlu tidur.  Baik secara literal maupun figuratif.  Untuk tidur, kita perlu meminimalisir kerja segala indera, dan memaksimalkan kerja otak dan alam bawah sadar.  Biarkan benak memilah dan memilih ratusan ribu sinyal yang kita terima setiap hari.  Setelah itu, jangan lupa bangun lagi.

Aku selama ini terjebak di dalam tidur, di dunia mimpi.  Sudah terlalu lama aku membiarkan alam bawah sadarku menggodok berbagai ide, inspirasi, imajinasi, dan harapan.  Sampai aku lupa bahwa di dunia nyata aku belum melakukan apa-apa.  (Aku tiba-tiba ingat celetukan di masa lalu: untuk membangunkan seseorang, kita bisa memercikinya dengan air.  Jika dia masih tertidur, guyur.  Dan aku saat ini bukan hanya diguyur tapi juga ditenggelamkan hingga paru-paru memaksaku untuk membuka mata.)  Sampai saat ini, dunia yang tahu aku ada sangat sempit.  Sementara yang lain telah bangkit, mengenakan sepatu, dan berlari.  Aku masih tersungkur di balik selimut.  Hanya sesekali menggeliat untuk menunjukkan bahwa aku masih hidup.  Dan, kawan, sesungguhnya hidup yang semacam itu tidak lebih baik dari mati.

Mimpiku yang utama, sebagaimana mimpi banyak orang lainnya, adalah membuat dunia melihat keberadaanku.  Aku ingin orang-orang membaca pikiranku sebagaimana aku membaca (selintas) pikiran orang-orang hebat yang membuka diri lewat tulisan.  Aku tak benar-benar berharap mereka mau peduli, aku hanya ingin menyuarakan diri.  Kalaupun mereka tak mau memandang, setidaknya aku berharap bisa mendapat sejumlah lirikan.  (Untukku yang hidup bagai hantu, sekedar lirikan saja sudah berarti sangat banyak.)  

Aku ingin menulis.  Selain sebagai sarana untuk mengeluarkan apa yang telah aku cerna, juga sebagai sarana untuk melakukan perjalanan ke dalam, menemui diriku sendiri.  Pemikiran dan perenungan yang kulakukan dalam tidur ini ingin kusuarakan.  Dengan sedikit harapan bahwa mereka bisa tahu bahwa tidurku punya sedikit makna. :)  

Masalahnya, aku masih tersangkut pada hal-hal teknis terkait dengan penulisan.  Aku terlalu lama menyibukkan diri di dunia ide, dan akibatnya kurang mengasah kemampuan praktis untuk menjelmakan ide itu menjadi sesuatu yang konkrit.  Dan aku rasa, aku ingin, sekaranglah saatnya apa-apa yang abstrak itu aku wujudkan.

Maaf, aku tahu tulisan ini tidak punya isi yang berarti untuk memperkaya diri kalian.  Aku sadar bahwa kalaupun tulisan ini tidak dibagi, tidak banyak pengaruhnya bagi kalian.  Tapi, untuk kali ini, aku mau egois dulu.  Menuliskan ini untuk diriku sendiri, sekedar sebagai pengingat saja, sebab aku pelupa.

Terima kasih.

Apa yang Kau Cari? (Sekedar Hasil Imajinasi yang Terlalu Liar)

Beberapa waktu lalu, sebuah ide menemukanku.  Berawal dari keterangan bahwa sebelum dikirim ke rahim, ruh bersaksi (bersumpah/berjanji) di depan Tuhannya.  Aku percaya ini.  Ketika ide tersebut menemukanku, aku tersadar bahwa kesaksian itu adalah salah satu bentuk dialog.  Aku rasa, lebih tepatnya aku harap, ketika ruh bersaksi, ada dialog-dialog lain yang terjadi dengan Tuhan.  Maka imajinasiku pun mulai menari-nari, berlari-lari mencari apa-apa saja yang tersambung dengan jaring laba-laba yang berpusat di ide ini.  Inilah yang kudapat.

Manusia selalu mencari.  Sebagian besar mungkin tidak tahu apa yang mereka cari, tapi dorongan itu tetap mereka penuhi: dorongan untuk menemukan--untuk memahami.

 Menurutku, manusia sebenarnya berusaha menemukan kembali ilmu yang dulu pernah mereka tahu.  Ilmu itu mungkin pengetahuan (sesuatu yang mereka tahu) tentang (sebagian atau segala sesuatu mengenai) semesta, sebab bukankah sebelum lahir mereka bersama Sang Maha Tahu?  Aku berpikir-pikir, merasa-rasa, mereka-reka sampai kesadaran membawaku ke satu titik.  Makin kurunut, makin aku percaya: sesungguhnya manusia selalu berusaha kembali ke fitrahnya.

Fitrah adalah keadaan awal.  Dan keadaan awal manusia adalah penuh ilmu; mengetahui.  Atau mungkin lebih tepat jika disebut memahami.  Mungkin pengetahuan/pemahaman itu bukan jenis yang terpakai di dunia yang mereka tinggali, oleh sebab itu mereka kemudian menggantinya dengan pengetahuan/pemahaman praktis lain yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup.

Aku menduga bahwa setelah manusia dikeluarkan dari rahim ibunya, ilmu yang dipahaminya dari Sang Maha Tahu masih terbawa, dan manusia sesungguhnya merasakan hal itu.  Perlahan-lahan (dalam waktu tiga tahun pertama kehidupannya), pemahaman itu tergeser, tertindih, terganti oleh berbagai pengetahuan yang dipelajarinya dari lingkungan.  Sadarkah kau bahwa kau hanya bisa mengingat jelas pengalamanmu setelah kau berusia antara tiga dan empat tahun?  Memang, salah satu penjelasan kenapa manusia tidak bisa ingat tiga tahun pertama kehidupannya adalah karena dia belum memiliki kerangka atau konsep untuk memetakan pengalamannya.  Setelah otaknya cukup berkembang, barulah dia membuat  sebuah konsep untuk memahami pengalaman.  Dan mungkin saja yang akan dicarinya sepanjang sisa hidupnya adalah pemenuhan (penyempurnaan) dari kerangka dan konsep awal tersebut.

Tapi aku menduga, yang sebenarnya manusia cari bukanlah penyempurnaan (atau bahkan pembenaran) untuk kerangka yang dipakainya dalam menjalani dan memetakan hidupnya.  Yang dicarinya adalah sesuatu untuk mengisi kekosongan (menghapus kerinduan)nya akan ilmu yang samar-samar dia rasakan, meski dia tak ingat lagi.  Ilmu yang mengandung pemahaman tentang segala sesuatu, termasuk dirinya sendiri.  Ilmu yang dibisikkan oleh Penciptanya dan kemudian hilang dalam tiga tahun pertama hidupnya di dunia.  Bukankah ini yang jadi dasar perjalanan manusia: keinginan untuk memahami dirinya sendiri.  (Dan jika kita percaya pada omnia ab uno, omnia nodes arcannes connexa--segalanya berasal dari yang satu dan segala sesuatu itu sesungguhnya saling berhubungan, maka ketika manusia ingin memahami dirinya sendiri sesungguhnya dia juga ingin memahami semesta yang berhubungan dengan dirinya.)

Manusia membongkar semesta, mengacak-acak segala ruang, merumuskan berbagai konsep, hanya untuk satu hal: berusaha menemukan bayangan dirinya sendiri dari cermin alam; melihat dimana dia harusnya berdiri untuk benar-benar menjadi; memahami dirinya sendiri, bukan sekedar mengetahui.

(Beda tahu dan paham adalah ini: Mengetahui berkenaan dengan pikiran, yaitu simpanan data pengalaman dan tafsiran indera, sifatnya kuantitatif.  Sementara memahami berkaitan dengan perasaan, yaitu setruman impuls yang membuatmu menyadari makna, sifatnya kualitatif.  Aku tak ingin sok tahu dengan bilang bahwa pemahaman lebih penting, lebih indah, lebih sempurna, lebih baik dari pengetahuan.  Tapi, sekali lagi menurutku, memahami--menyadari makna--lebih punya bobot dari sekedar mengetahui--mengindera tanda.
     Orang yang ingin mengetahui seringkali terjebak pada kerangka benar-salah.  Memang mereka ingin mencari kebenaran lewat pengetahuan.  Namun, yang mereka kejar adalah pemenuhan rasa ingin tahu tentang seperti apa 'bentuk' kebenaran itu.  ketika mereka menemukan bentuk yang 'tidak benar', mereka akan menolaknya.  Mungkin secara kasar, mengabaikan 'ketidakbenaran' itu untuk kemudian mencari bentuk lain yang 'benar'.  Mungkin pula secara halus, membedah 'ketidakbenaran' itu untuk mengidentifikasi kebalikannya, 'kebenaran', yang kemudian akan mereka cari.
   Pertanyaannya, apakah 'kebenaran' memang merupakan kebalikan dari 'ketidakbenaran'?  Kerangka benar-salah, hitam-putih-abu-abu ini, yang mempertentangkan segala sesuatu, hanya bisa menerima satu bentuk.  Mereka yang memakai kerangka pikir ini hanya ingin mencari putih yang benar-benar putih.  Kalaupun ada yang mengakui abu-abu, itu lebih sebagai bentuk toleransi--atau kompensasi-- atau bahkan back-up plan, kalau-kalau mereka tidak bertemu putih yang sebenar-benar putih.  Tapi, tetap saja mereka mengingkari hitam, sebab hitam adalah kebalikan dari putih.  'Ketidakbenaran' adalah kebalikan dari 'kebenaran',
     Mereka yang ingin memahami kebenaran akan lebih condong pada pencarian/perumusan makna kebenaran itu sendiri.  Mereka bahkan mungkin tidak peduli pada bentuk.  Mereka mengamati esensi.  Untuk menghayati esensi putih, mereka tidak mempertentangkannya dengan hitam.  Mereka akan menelaah melampaui bentuk permukaan.  Hitam akan dimaknai sebagai salah satu kerangka untuk melihat putih.   Bagi orang-orang ini, putih bukan lawan hitam.  Mereka lebih menghayati putih sebagai gabungan spektrum warna, bukan kebalikan dari satu warna tertentu.
     Dan kawan, menurutku itulah beda paham dan tahu.)


Tuesday, February 19, 2013

Preview Janin Tak Lahir

Sementara menunggu kematangan draft-draft tulisanku, berikut ini preview untuk buku kumpulan puisi ketigaku: Janin Tak Lahir.  Direncanakan, puisi-puisi didalamnya akan berkisar pada tema utama seksualitas dan identitas remaja.  Tapi, sebagaimana biasa terjadi pada tulisan-tulisanku, tema utama itu tidak menjamin isi bukunya sepenuhnya tentang itu.  Sebab, seperti yang bisa dilihat dari preview berikut ini, aku seringkali hanya menuliskan kisah yang kutafsir dari semesta. :)

Kacamata

Bahagia adalah sederhana
Hanya soal cara baca atau tempat berdiri
Sebab yang kau rasa adalah apa yang kau pikir
Dan benak hanya menafsir apa yang terlihat dalam cermin
           
Wahai, Katak, buang tempurungmu!
            Kau bukan kelomang atau kura-kura.
            Wahai, Pungguk, lihat kebawah!
            Tikusmu ada disana.

Bahagia adalah sederhana:
Geser dudukmu dan menoleh saja.

                                                             Fiani R.

Garis Darah
          :Femia dan yang lainnya


Aku hanya merentang busur

Anak panah itu biar terbang bersama angin
Kemanapun dia ingin
Mengalir bersama air
Menyapu batu, menyisir pasir

Menjadi helai-helai keentahan
Atau mencuri bulan

Membunuh kijang
Atau membujuk hujan

Jika satu hari dia ingin kembali
Aku akan ada disini
Untuk menyimak tiap kata
Dan belajar dari kisahnya

Sebab aku pasti akan menjadi tua
Peranku berakhir, sementara ceritanya bermula

                                                            Fiani R.


            Dewa Ruci

(Tuhan Ada Dalam Hati)

Mereka yang merasa ditinggalkan Tuhannya adalah pelupa
Sebab Tuhan tak kemana-mana
Yang demikian itu termaktub dalam kitab-kitab yang disucikan orang-orang tua
Mereka lupa pada Dewa Ruci
Yaitu bagian kecil paling suci dalam hati
Tempat semesta menjelma diri
Yang demikian ini telah dipelajari oleh orang-orang yang mengerti

Mereka lupa bahwa sebenarnya merekalah yang meninggalkan Tuhannya
Ketika mereka berdekapan menanggalkan celana
Ketika meeka menyuntikkan bahagia buatan
Ketika mereka bercerita tentang suara-suara dalam mimpi
Yang demikian adalah yang memenuhi benak mereka—membuat lupa

Mereka yang mencari Tuhan adalah mencari cermin
Untuk melihat Dewa Ruci
Bukan di rimba-gunung-samudera
Tapi dalam hati mereka sendiri


                                                                      Fiani R.
 

Curhat Pagi Buta
                       : S

Cinta adalah cinta
Tak peduli dengan apa kau menopengnya
Tak peduli rasa itu kau namai apa
Dan dia tak butuh apa-apa darimu
Tak bentuk, tak nama, tak pula pengakuan atau penyangkalan

Sebab rasa itu bermula di jantungmu
Mengalir bersama darah
Memutasi semua sel yang ada
Dan sebab jantung bergerak sendiri, tak peduli otakmu bilang apa,
Dialah yang akan membentukmu—menjadi pemuja atau pendusta

Jadi, Dik, kalau kau memang sudah jatuh ke dalamnya,
Nikmati saja.

                                                                         Fiani R.


Kurasa, cukup empat puisi ini saja dulu, namanya juga preview. :)  Jika kalian sempat membaca, silakan komentari.  Terima kasih.

Keangkuhan Pengetahuan

Ini sekedar catatan kecil tentang kesadaran yang tiba-tiba.
Aku baru saja membaca sebuah blog berbahasa Indonesia yang kupilih secara acak dari daftar blog yang diikuti oleh seorang teman.  Ketika membaca itulah aku tiba-tiba sadar bahwa ada banyak kata bahasa Indonesia yang kutahu artinya, tapi jarang sekali kugunakan lagi dalam tulisan-tulisanku.  Dulu, ketika SMA, dan tahun-tahun pertama berkuliah di jurusan Sastra Inggris UPI, aku masih suka bereksperimen menggunakan spektrum kata yang luas dalam puisi-puisiku.  Entah dengan memanfaatkan bunyi, bentuk, atau makna, aku hampir selalu berusaha memaksimalkan penggunaan kekayaan kosakata bahasa Indonesia.  Tapi sekarang, perbendaharaan kataku seolah menyusut.  

Hal ini mungkin dikarenakan aku sudah lama tidak menulis, lebih tepatnya, tidak menulis dalam bahasa Indonesia.  Mungkin juga disebabkan oleh telah jarangnya aku membaca (tulisan berbahasa Indonesia).  Aku pun tersadar bahwa mungkin aku telah menjadi sombong.  Terlepas dari fakta bahwa kebanyakan tulisan berbahasa Indonesia yang beredar di pasaran (aku berbicara tentang novel-novel 'ala-kadarnya' dan status-status di jejaring sosial) memang kurang nilai mutunya, aku seharusnya tidak boleh serta-merta menihilkan mereka.  Selama beberapa tahun terakhir ini, aku hanya mau membeli (dan membaca) novel-novel karangan nama-nama yang memang sudah kukenal kualitasnya.  Meski banyak yang menyarankan untuk membaca karya penulis-penulis lain (kebanyakan penulis muda), aku tetap bergeming.  Begitu pun dengan novel terjemahan, aku berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan dan membaca versi berbahasa Inggrisnya.  Akibatnya, banyak kata dalam perbendaharaan bahasa Indonesiaku yang tergusur ke alam bawah sadar, dimana butuh perjalanan ekstra untuk menjemputnya kembali ke ujung jari dan menggunakannya ke dalam tulisan.

Dan, itulah kesadaran, kawan.  Menghantammu tiba-tiba dengan sekeping cermin sehingga kau bisa melihat apa yang tadinya kau terima begitu saja.  Dan cermin yang kubaca barusan memantulkan bayangan wajahku yang tersenyum congkak.

Sekali lagi, ini hanya catatan singkat tentang kesadaran yang tiba-tiba.  Kesimpulannya, aku harus lebih sederhana dan menghargai setiap karya, sesuai dengan mutunya.

Trying to Jump-Start My Engine

Kemarin malam, dengan koneksi internet yang tersendat-sendat, aku menemukan kembali blog seorang adik.  Membaca tulisan-tulisannya kini, aku merasakan sebuah kebahagiaan, sebab dia telah dewasa.  Aku tahu bahwa aku tidak banyak berperan dalam hidupnya, tapi tetap saja aku merasa bahagia melihatnya tumbuh menjadi seorang yang luar biasa.  Meski tidak memiliki banyak andil dalam pertumbuhan dan perkembangannya, aku ingin berpura-pura bahwa pada suatu waktu yang lampau, dia adalah anak panah yang pernah singgah sejenak di tali busurku.  Kemudian, aku memberi sedikit tolakan dengan menarik tali busur agar dia meluncur.  Setelah itu, aku kembali duduk diam mengamati.  Dan kini, aku merasa bahagia karena anak panah itu telah menjelma sesuatu yang bukan sekedar saja.

Teringat pada masa lalu, aku pun merefleksi (salah satu hal pahit yang harus dilakukan).  Terkenanglah aku bahwa dulu aku pernah mendefinisikan diri sebagai pemuisi, mengaku sebagai seorang yang mencintai kata-kata.  Dan (ini bagian pahitnya) tersadarlah aku bahwa mungkin aku telah menjadi pendusta.  Sebab, anak panah dulu telah menuliskan kedewasaannya, sementara aku masih tersedak inspirasi tak tercerna.  Sesungguhnya, di blog ini ada begitu banyak draft tulisan yang belum teredit.  Entah karena aku perfeksionis yang belum puas dengan tulisan-tulisan itu, atau justru seorang yang tidak tahu kemampuan sendiri.   Yang manapun itu, aku belum menerbitkan tulisan-tulisan tersebut karena aku merasa mereka masih setengah matang.  Dan aku rasa tidaklah layak aku menyuguhkan sesuatu yang mungkin membuat mual pada sidang pembaca sekalian.

Dengan tulisan (yang mungkin tanpa isi) ini, aku sebenarnya sedang berusaha memantik kembali api yang bisa mematangkan tulisan-tulisan tersebut.  Aku akan perlu menghentikan dulu aliran ide dan merapikan apa-apa yang telah ada.  Merumuskan kerangka, menyusun potongan-potongan ide ke tempatnya, kemudian menghiasnya dengan kata-kata.  Barulah aku bisa sedikit berpuas diri menyajikannya kepada kalian.

Ada banyak ide yang nanti akan kuterbitkan, diantaranya adalah pemikiran-perenunganku tentang konsep pasrah kepada rencana Tuhan, konsep omnia ab uno, omnia nodes arcannes connexa, konsep keseimbangan.  Selain itu ada juga hasil imajinasi-irasional tentang kenapa kita hanya bisa ingat memori setelah berumur 3 tahun, apa yang sebenarnya kita cari (kejar) dalam hidup, dan beberapa hal lain yang kurumuskan dari pengamatanku selama ini.

Jadi, untuk adikku yang telah dewasa: terima kasih, kau sekali lagi menjadi inspirasi dengan caramu sendiri.

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.