Sementara menunggu kematangan draft-draft tulisanku, berikut ini preview untuk buku kumpulan puisi ketigaku: Janin Tak Lahir. Direncanakan, puisi-puisi didalamnya akan berkisar pada tema utama seksualitas dan identitas remaja. Tapi, sebagaimana biasa terjadi pada tulisan-tulisanku, tema utama itu tidak menjamin isi bukunya sepenuhnya tentang itu. Sebab, seperti yang bisa dilihat dari preview berikut ini, aku seringkali hanya menuliskan kisah yang kutafsir dari semesta. :)
Kacamata
Bahagia adalah sederhana
Hanya soal cara
baca atau tempat berdiri
Sebab yang kau
rasa adalah apa yang kau pikir
Dan benak hanya
menafsir apa yang terlihat dalam cermin
Wahai, Katak, buang tempurungmu!
Kau bukan kelomang atau kura-kura.
Wahai, Pungguk, lihat kebawah!
Tikusmu ada disana.
Bahagia adalah
sederhana:
Geser dudukmu dan
menoleh saja.
Fiani R.
Garis Darah
:Femia dan yang lainnya
:Femia dan yang lainnya
Aku hanya
merentang busur
Anak panah itu
biar terbang bersama angin
Kemanapun dia
ingin
Mengalir bersama
air
Menyapu batu,
menyisir pasir
Menjadi
helai-helai keentahan
Atau mencuri
bulan
Membunuh kijang
Atau membujuk
hujan
Jika satu hari
dia ingin kembali
Aku akan ada
disini
Untuk menyimak
tiap kata
Dan belajar dari
kisahnya
Sebab aku pasti
akan menjadi tua
Peranku berakhir,
sementara ceritanya bermula
Fiani
R.
Dewa Ruci
(Tuhan Ada
Dalam Hati)
Mereka yang merasa ditinggalkan Tuhannya adalah pelupa
Sebab Tuhan tak
kemana-mana
Yang demikian itu
termaktub dalam kitab-kitab yang disucikan orang-orang tua
Mereka lupa pada
Dewa Ruci
Yaitu bagian
kecil paling suci dalam hati
Tempat semesta
menjelma diri
Yang demikian ini
telah dipelajari oleh orang-orang yang mengerti
Mereka lupa bahwa
sebenarnya merekalah yang meninggalkan Tuhannya
Ketika mereka
berdekapan menanggalkan celana
Ketika meeka
menyuntikkan bahagia buatan
Ketika mereka
bercerita tentang suara-suara dalam mimpi
Yang demikian
adalah yang memenuhi benak mereka—membuat lupa
Mereka yang
mencari Tuhan adalah mencari cermin
Untuk melihat
Dewa Ruci
Bukan di
rimba-gunung-samudera
Tapi dalam hati
mereka sendiri
Fiani R.
Curhat Pagi
Buta
: S
Cinta adalah cinta
Tak peduli dengan
apa kau menopengnya
Tak peduli rasa
itu kau namai apa
Dan dia tak butuh
apa-apa darimu
Tak bentuk, tak
nama, tak pula pengakuan atau penyangkalan
Sebab rasa itu
bermula di jantungmu
Mengalir bersama
darah
Memutasi semua
sel yang ada
Dan sebab jantung
bergerak sendiri, tak peduli otakmu bilang apa,
Dialah yang akan
membentukmu—menjadi pemuja atau pendusta
Jadi, Dik, kalau
kau memang sudah jatuh ke dalamnya,
Nikmati saja.
Kurasa, cukup empat puisi ini saja dulu, namanya juga preview. :) Jika kalian sempat membaca, silakan komentari. Terima kasih.
No comments:
Post a Comment