Tuesday, February 19, 2013

Preview Janin Tak Lahir

Sementara menunggu kematangan draft-draft tulisanku, berikut ini preview untuk buku kumpulan puisi ketigaku: Janin Tak Lahir.  Direncanakan, puisi-puisi didalamnya akan berkisar pada tema utama seksualitas dan identitas remaja.  Tapi, sebagaimana biasa terjadi pada tulisan-tulisanku, tema utama itu tidak menjamin isi bukunya sepenuhnya tentang itu.  Sebab, seperti yang bisa dilihat dari preview berikut ini, aku seringkali hanya menuliskan kisah yang kutafsir dari semesta. :)

Kacamata

Bahagia adalah sederhana
Hanya soal cara baca atau tempat berdiri
Sebab yang kau rasa adalah apa yang kau pikir
Dan benak hanya menafsir apa yang terlihat dalam cermin
           
Wahai, Katak, buang tempurungmu!
            Kau bukan kelomang atau kura-kura.
            Wahai, Pungguk, lihat kebawah!
            Tikusmu ada disana.

Bahagia adalah sederhana:
Geser dudukmu dan menoleh saja.

                                                             Fiani R.

Garis Darah
          :Femia dan yang lainnya


Aku hanya merentang busur

Anak panah itu biar terbang bersama angin
Kemanapun dia ingin
Mengalir bersama air
Menyapu batu, menyisir pasir

Menjadi helai-helai keentahan
Atau mencuri bulan

Membunuh kijang
Atau membujuk hujan

Jika satu hari dia ingin kembali
Aku akan ada disini
Untuk menyimak tiap kata
Dan belajar dari kisahnya

Sebab aku pasti akan menjadi tua
Peranku berakhir, sementara ceritanya bermula

                                                            Fiani R.


            Dewa Ruci

(Tuhan Ada Dalam Hati)

Mereka yang merasa ditinggalkan Tuhannya adalah pelupa
Sebab Tuhan tak kemana-mana
Yang demikian itu termaktub dalam kitab-kitab yang disucikan orang-orang tua
Mereka lupa pada Dewa Ruci
Yaitu bagian kecil paling suci dalam hati
Tempat semesta menjelma diri
Yang demikian ini telah dipelajari oleh orang-orang yang mengerti

Mereka lupa bahwa sebenarnya merekalah yang meninggalkan Tuhannya
Ketika mereka berdekapan menanggalkan celana
Ketika meeka menyuntikkan bahagia buatan
Ketika mereka bercerita tentang suara-suara dalam mimpi
Yang demikian adalah yang memenuhi benak mereka—membuat lupa

Mereka yang mencari Tuhan adalah mencari cermin
Untuk melihat Dewa Ruci
Bukan di rimba-gunung-samudera
Tapi dalam hati mereka sendiri


                                                                      Fiani R.
 

Curhat Pagi Buta
                       : S

Cinta adalah cinta
Tak peduli dengan apa kau menopengnya
Tak peduli rasa itu kau namai apa
Dan dia tak butuh apa-apa darimu
Tak bentuk, tak nama, tak pula pengakuan atau penyangkalan

Sebab rasa itu bermula di jantungmu
Mengalir bersama darah
Memutasi semua sel yang ada
Dan sebab jantung bergerak sendiri, tak peduli otakmu bilang apa,
Dialah yang akan membentukmu—menjadi pemuja atau pendusta

Jadi, Dik, kalau kau memang sudah jatuh ke dalamnya,
Nikmati saja.

                                                                         Fiani R.


Kurasa, cukup empat puisi ini saja dulu, namanya juga preview. :)  Jika kalian sempat membaca, silakan komentari.  Terima kasih.

No comments:

Post a Comment

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.