Tuesday, April 15, 2014

Menjadi Penulis

Menjadi penulis adalah sebuah status yang tidak bisa didapat dengan mudah.  Apalagi menjadi penulis yang telah terpublikasi (published writer).  Jika kita  percaya perkataan Einstein, yang sering dikutip, bahwa keberhasilan adalah satu persen bakat dan 99 persen kerja keras, maka kita bisa mempercayai pula pepatah lain yang senada namun lebih spesifik: semua orang bisa menulis.  Masalahnya tinggal berapa banyak bakat yang dimiliki.  Semakin sedikit bakat yang dimiliki, semakin keras pula usaha yang harus  dikerjakan.

Bukan bermaksud mengeluh, tapi kurasa bakat menulisku tidak terlalu banyak.  Aku memang punya  banyak ide, banyak inspirasi, tapi ketika sudah berhadapan dengan hal-hal teknis yang sangat mempengaruhi kualitas tulisan, aku jadi serupa anak kucing yang kepalanya masuk ke dalam keresek plastik.  Jujur, kalau ditanya kenapa aku memilih menulis puisi, aku seringkali memberikan jawaban-jawaban yang tidak sepenuhnya benar, meski tak sepenuhnya salah juga.  Misalnya, karena aku senang mempermainkan kata-kata dan mengotak-atik makna.  Ini memang benar, tapi ini bukan alasan utama kenapa aku memilih menulis puisi.  Alasan utamanya adalah karena aku tidak pernah bisa benar-benar menguasai teknik-teknik penceritaan.

Aku telah mencoba, membaca dan memahami berbagai teori penulisan, mempraktekkan apa yang telah aku baca dan pahami, tapi tetap saja, hasilnya masih jauh dari bagus.  Kekuranganku yang paling besar adalah ketidakmampuanku untuk memberikan karakter pada tiap tokoh yang kutulis.  Ketika menulis cerpen, aku masih belum bisa menjadi orang ketiga, menjadi pengarang yang siap mati.  Aku masih menjadi pencerita.  Mengerti kan apa maksudku?  

Penulis yang baik adalah penulis yang kehadirannya tidak terasa di dalam tulisannya.  Di dunia  yang diciptakannya, ia sama sekali tak terlihat, tak terdengar, dan tak terendus keberadaannya.  Dunia itu seolah-olah ada begitu saja untuk dialami oleh para pembaca.  Dunia itu dialami oleh para pembaca lewat pengalaman para tokohnya.  Para tokoh itulah yang bercerita, bukan sang pengarang.  Ia hanya sekedar menuliskan saja.  Suara yang mendeskripsikan dunia itu di kepala para pembaca  adalah suara para  pembaca itu sendiri.  Ketika pembaca membalik halaman terakhir dan meletakkan bacaannya, sambil menghembuskan napas, barulah mereka sadar bahwa dunia itu diciptakan oleh seorang pengarang.  Penulis  yang baik berada di luar semesta yang diciptakannya.

Aku belum bisa seperti itu.  Jika kalian kebetulan pernah membaca cerpen-cerpen yang ku tulis, keberadaanku dalam tulisan-tulisan itu sangat terasa.  Sebab selalu aku lah yang bercerita; si A begini karena ini, si B melakukan itu karena anu, dst.  Kepuasan mengalami menjadi sangat berkurang karena pembaca tidak benar-benar mengalami semesta  yang kuciptakan, melainkan hanya sekedar diberitahu saja.  Bukan salah pembaca, tapi salahku yang belum bisa bercerita tanpa memberi tahu.  Kuharap kalian mengerti maksudku.

Sebelum bisa menjadi penulis terpublikasi, aku harus terlebih dahulu menjadi penulis yang baik.  Dan itu berarti bekerja lebih keras lagi.  Sebab kepenulisan bagiku bukanlah sebuah hobi, melainkan sebuah aspirasi, sebuah tujuan yang (meski seringkali kusembunyikan dari dunia) teramat sangat ingin kucapai. (Penggunaan 'sangat' di kalimat terakhir adalah untuk menegaskan seberapa besar keinginanku itu.)

Tulisan ini akan kututup dengan pertanyaan: ada yang bisa mengajariku bagaimana bercerita tanpa memberitahu?  Jika ada, tolong ajari aku.

Terima kasih.

Mengenang Rasa yang Tak Usai

Lelaki itu duduk memandang cermin;
mempertanyakan diri pada refleksi.

Rasa-rasa yang mengakar diingat oleh tanah
rasa yang tak sempat tumbuh, rasa yang mati muda,
dan rasa yang serupa anak panah: melesat lewat tiba-tiba
menghunjam untuk langsung pergi lagi, tak pernah lama singgah.

Rasa-rasa itu diingat oleh tanah untuk kemudian dijadikan kenang
atau bahan cerita kepada batu, angin, samudera
sebagai pelajaran bahwa rasa-rasa tak pergi kemana-mana
bagaimanapun mereka mencoba menghilangkannya.

Rasa-rasa yang mengakar tetap di tempatnya,
menunggu
menanti Bintang atau Purnama atau Senja atau Pelangi
memunculkan kembali hangat yang pernah ada
pengingat bahwa mereka pernah mengakar di dalam tanah,
meski yang sekarang ditumbuhkan telah sangat berbeda.

Lelaki itu duduk memandang cermin;
mengenang kisah yang tak usai.

Monday, April 14, 2014

Eminem - Stronger than I Was

Aku ingin menulis sesuatu, tapi (seperti biasa) kata-kata yang berlari hanya setengah sampai.  Sejak dua jam yang lalu, sudah ada tiga draft dengan tiga ide berbeda. Ketiganya belum ku publish karena memang tulisannya belum selesai.  Berhenti di paragraf ketiga.

Demikianlah.  Kuputuskan untuk menuliskan (lebih tepatnya menyalin) lirik lagu Stronger than I Was dari album terbaru Eminem.  Untuk apa?  Tak untuk apa-apa, aku hanya senang dengan keseluruhan kesan yang kudapat dari lagu itu.  Dan aku selalu suka permainan kata-kata dan penyampaian emosi Mr. Mathers.

STRONGER THAN I WAS

[Verse 1]
You used to say that I'd never be
Nothing without you and I'd believe
I'm shot in the lungs, I gasp, I can't breathe
Just lay here with me, baby, hold me please
And I'd beg and I'd plead, drop to knees
And I'd cry and I'd scream, "Baby, please don't leave"
Snatch the keys from your hand, I would squeeze
And you'd laugh, and you'd tease, you're just fucking with me
And you must hate me
Why do you date me, if you say I make you sick?
And you've had enough of me
I smother you, I'm 'bout to jump off the edge

[Hook]
But you won't break me, you'll just make me stronger than I was
Before I met you, I bet you I'll be just fine without you
And if I stumble, I won't crumble, I'll get back up and uhh
But I'mma still be humble when I scream "Fuck you"
Cause I'm stronger than I was

[Verse 2]
A beautiful face is all that you have
Cause on the inside you're ugly and mad
But you're all that I love, I grasp, you can't leave
Please stay here with me, baby hold me please
And I'd beg and I plead, drop to knees
And I'd cry and I'd scream, baby, please don't leave
But you left and you took everything I had left
And left nothing, nothing for me
So please don't wake me from this dream, baby
We're still together in my head
And you're still in love with me
'til I woke up to discover that that dream was dead

But you won't break me, you'll just make me stronger than I was
Before I met you, I bet you I'll be just fine without you
And if I stumble, I won't crumble, I'll get back up and uhh
But I'mma still be humble when I scream "Fuck you"
Cause I'm stronger than I was
 
[Verse 3]
You walked out, I almost died, it was almost a homicide
That you caused cause I was so traumatized
Felt like I was in for a long bus ride
I'd rather die than you not be by my side
Can't count how many times I vomited, cried
Go to my room, turn the radio on and hide
Thought we were Bonnie and Clyde, nah
On the inside you were Jekyll and Hyde
I, felt like my, whole relationship with you was a lie
It was you and I, why did I think it was ride or die?
Cause if you could've took my life you would've
 It's like you put a, knife through my chest
And pushed it right through to the other side
Of my back and stuck a spike too, shoulda
Put up more of a fight, but I couldn't
At the time, no one could hurt me like you could've
Take you back now, what's the likelihood of that?
Bite me bitch, chew on a nineteen footer
Cause this morning I finally stood up
Held my chin up, finally showed a sign
Of life in me for the, first time since you left me
And left me with nothing but shattered dreams
And the life we coulda, had and we could've been
But I'm breaking out of this slump I'm in
Pulling myself out of the dumps once again
I'm getting up once and for all, fuck this shit
I'ma be late for the pity party
But you're never gonna beat me to the fucking punch again
Took it on the chin like a champ
So don't lump me in with the chump-ions
I'm done being your punching bag
It was the November 31st today
Would've been our anniversary
Two years but you left on the 1st of May
I wrote it on a calendar, was gonna call
But couldn't think of the words to say
But they came to me just now
So I put 'em in a verse to lay

[Bridge]
And I thank you cause you made me a better person than I was
But I hate you cause you drained me, I gave you all, you gave me none
But if you blame me, you're crazy and after all is said and done
I'm still angry, yeah, I may be, I may never trust someone  

But you won't break me, you'll just make me stronger than I was
Before I met you, I bet you I'll be just fine without you
And if I stumble, I won't crumble, I'll get back up and uhh
But I'mma still be humble when I scream "Fuck you"
Cause I'm stronger than I was

Sunday, April 13, 2014

Menunggu Hujan Reda

Saya sedang duduk di foodcourt lantai tiga Istana BEC Bandung.  Apa yang saya lakukan disini saat ini?  Saya sedang mengunggah laporan mingguan yang berukuran sangat besar sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan di rumah.  (Sekedar penjelasan bagi yang membutuhkan, di sini saya menggunakan jaringan internet super cepat dengan akun wifi gratis sementara di rumah saya menggunakan modem super lambat dengan kuota terbatas.)

Sambil menunggu proses upload selesai, seperti biasa saya berselancar di dunia maya.  Tadinya saya ingin mengunduh sejumlah tontonan, tapi beberapa pertimbangan membuat saya urung melakukannya.  (Untuk mereka yang penasaran, pertimbangan pertama adalah bahwa episode terbaru dari beberapa serial yang saya ikuti--Games of Thrones, Running Man, Bones, The Big Bang Theory--baru akan tayang malam ini, yang berarti bahwa link unduhannya baru akan ada esok hari; pertimbangan kedua, harddisk eksternal saya sudah hampir penuh--hanya tersisa 20 gb yang saya alokasikan untuk episode-episode baru serial-serial yang saya ikuti diatas--sehingga mengunduh film terasa percuma; pertimbangan ketiga, meski ada sejumlah film yang ingin saya tonton, film-film tersebut masih relatif 'baru' sehingga versi bluray-nya belum beredar di internet.)  Saya juga tadinya berniat mengunduh sejumlah e-book, tapi setelah mencari di berbagai situs selama setengah jam, saya tidak menemukan judul yang cukup menarik.  Demikianlah, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan sesuatu di sini.

Beberapa waktu lalu, saya memanjakan diri dengan membeli sejumlah buku karya Dee (Dewi Lestari, salah satu penulis favorit saya), diantaranya adalah Filosofi Kopi, Madre, dan Rectoverso.  Sebenarnya saya sudah pernah membaca buku-buku tersebut, namun kesukaan saya dengan cara penulisan dan pemikiran Dee membuat saya merasa bahwa saya perlu membeli buku-buku tersebut untuk menambah koleksi saya.

Membaca Dee bagi saya adalah seperti melihat cermin.  Dia selalu berbicara (menulis) tentang pencarian, pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai manusia dan kemanusiaannya, dan evolusi.  Terlepas dari apa yang ditulisnya, saya menyenangi buku-buku Dee karena tiap kali selesai membaca tulisannnya, ada sensasi tertentu yang jarang saya dapatkan dari tulisan-tulisan lain.  Jika dari tulisan lain saya mendapatkan hiburan, dari tulisan Dee saya mendapatkan hiburan dan pertanyaan.  Tiap selesai membaca tulisan Dee, saya selalu tertegun mempertanyakan diri saya sendiri.

Misalnya dalam Filosofi Kopi, Dee menyampaikan (atau lebih tepatnya saya menerima) konsep tentang kebahagiaan.  Jika dirangkum kurang lebih seperti ini: bahagia itu berasal dari dalam diri, ketika kau lupa pada apa yang sebenarnya kau cari, kau tak akan menemui bahagia sejauh apapun kau berlari atau sebanyak dan sebesar apapun pencapaianmu.

Setelah membaca cerita pendek tersebut, saya terpaksa menanyai diri sendiri: "Apa sebenarnya yang kau cari?  Apa definisi bahagiamu?" Ternyata jawabannnya belum berubah dari yang dulu saya yakini: "Aku mencari bahagia dan bahagiaku adalah ketika aku bisa memunculkan kebahagiaan pada diri orang-orang yang kupedulikan."  Saat ini, orang-orang yang ada dalam daftar tersebut memang terbilang sedikit; orangtua,  istri dan anak saya, dan teman-teman dekat (yang sudah saya anggap saudara).  Kesadaran akan hal ini membawa saya ke pertanyaan lain: "Kenapa daftarmu berisi tak sampai dua puluh orang?"  Agak sulit bagi saya untuk menjawab--atau mengelak--dari pertanyaan ini.

Awalnya saya mencoba berargumen bahwa (mengutip Ayah saya) tidak mungkin saya bisa menyenangkan semua orang karena tiap orang memiliki pemikiran dan penafsiran masing-masing.  Tapi saya segera sadar bahwa itu hanya alasan saja.  Jawaban sebenarnya adalah karena saya sudah menjadi seorang yang skeptis terhadap dunia.

Saya sendiri lupa sejak kapan saya seperti ini, tapi karena sikap adalah akumulasi pengalaman dan penafsiran, pertanyaan 'sejak kapan' tidaklah relevan.  Apapun penyebab dan sumbernya, sikap skeptis saya   ternyata sudah kronis.  Saya tidak lagi mempedulikan dunia di luar dunia kecil saya (Dilla, Zia, kedua orangtua, dan sahabat-sahabat terdekat itu).  Yang berarti bagi saya hanya semesta kecil itu saja.  Sisanya hanya background noise yang tak terlalu saya pedulikan karena saya selalu beranggapan bahwa mereka tidak terlalu berpengaruh pada hidup saya.

Namun, kegiatan saya beberapa bulan terakhir ini (yang membuat saya harus banyak bersosialisasi dan membuka diri terhadap dunia di luar zona nyaman saya) menghadirkan sebuah kesadaran baru.  Selama ini saya membodohi diri dengan beranggapan bahwa dunia di luar sana tak berarti banyak bagi diri saya sendiri. Dan tak ada makhluk yang lebih malang daripada mereka yang membodohi diri sendiri.

Saya harus berubah; harus mengubah pola pikir, menggeser sudut pandang.

Memang, saat saya mengetik kalimat-kalimat ini, saya masih sama skeptisnya dengan diri saya beberapa bulan lalu.  Meski demikian, saya perlahan-lahan telah mulai kembali mempertanyakan segala sesuatu.  Sebab perbedaan skeptis dan kritis adalah pada pertanyaan yang diajukan. Mereka yang kritis akan bertanya, mencari tahu, sebelum menerima atau menolak, sementara mereka yang skeptis akan langsung menerima atau menolak, atau sekedar bertahan di zona abu-abu ketidakpedulian, tanpa mempertanyakan.

Sekedar info saja, saya semasa SMA pernah meyakinkan diri sendiri bahwa saya harus bisa selalu (atau paling tidak sesering mungkin) bersikap kritis.  Berbagai pengalaman dan penafsiran yang muncul setelah masa itu lah yang membuat saya lupa pada keyakinan tersebut.

Ah, laporan telah selesai terunggah dengan sempurna.  Hujan di luar pun sudah reda.  Sudah saatnya saya mengemas notebook ini dan mengembalikannya ke tempat penyimpanan (ini inventaris dari tempat kerja yang tak boleh saya bawa-bawa).  Sekarang saya akan pulang dan bermain dengan Zia, mungkin membacakannya cerita dan mengajarinya bertanya.

Maaf jika tulisan saya kali ini tidak memperkaya kalian.

Sampai jumpa.

Wednesday, March 26, 2014

Tentang Katakata yang Jadi Dongeng

Tak bisalah kita menaksir kisahkisah lama
Dari katakata
Sebab semua cerita bermuara pada makna
Mewujud dalam Dharma dan Karma

Kita tak bisa membaca dongeng purba
Dengan kacamata hari ini
Sebab dongeng lahir dari masa dan kita
Takkan mampu menembus waktu

(Bukan tak mungkin buyutmoyangmu memang mengenal naga
  atau sembrani
  Seperti aku mengenal anjing kampung yang kini hanya kau temu
  dalam makian temantemanmu)

Dan makna sesungguhnya serupa samudera
Di muka, ia memantulkan mukamu saja
Di balik matamulah ia menjelma

Tuesday, March 12, 2013

Obrolan Angkot (Part 1)

Cermin ada dimana-mana, Kawan.  Tinggal kita yang memutuskan apakah mau melihat dan menyimak bayangan yang ada di sekitar kita, atau mengabaikannya.  Saya ingat seorang teman pernah menanyakan makna 'Omnia ab Uno'.  Setelah googling dan researching, saya tahu bahwa kalimat bahasa Latin ini berarti 'everything comes from one source.'  Segala sesuatunya berasal dari satu sumber yang sama.  Dan kalimat ini seringkali ditambah dengan 'omnia nodes arcana connexa' ('everything is connected to everything else')--segala sesuatu terhubung dengan segala hal lain. Saat saya membaca hal ini, secara otomatis otak saya menghubungkannya--lewat konsep intertextuality--dengan pemikiran Mohandas Gandhi, yang percaya bahwa semesta terbentuk dari hubungan antar segala sesuatu didalamnya.  Kedua konsep diatas juga ada dalam berbagai kebijaksanaan lokal di berbagai daerah di seluruh dunia.  Jika kalian mengira saya membicarakan tentang agama dan keyakinan, maka kalian benar.  Tapi tidak itu saja, kedua pemikiran filosofis mengenai asal usul segala sesuatu dan saling keterkaitan antara mereka memang ada dalam ajaran hampir semua agama, tapi juga disebutkan (dan diyakini) di berbagai bidang lain (misalnya matematika, kungfu, ilmu pengobatan, biologi, dan sebagainya).  Pertanyaan yang mungkin mulai muncul di pikiran kawan-kawan sekalian saat ini adalah: 'Kenapa tulisan ini berjudul Obrolan Angkot, sementara isinya membahas filsafat saling keterkaitan?'  :)

Tenang, ini baru pengantar.  Saya hanya ingin memberitahu bahwa saya meyakini kedua konsep diatas.  Dan sebab saya meyakini bahwa segala sesuatu di semesta ini saling berhubungan (dengan cara yang mungkin tidak atau belum saya pahami), maka judul tulisan ini menjadi relevan dengan isinya. 
Salah satu kegiatan favorit saya adalah mengamati manusia, terutama dari aspek perilaku dan interaksinya.  Dari hasil refleksi, saya menyadari bahwa ketertarikan awal saya terhadap manusia dan aspek psikologinya adalah dari novel Sherlock Holmes karangan Arthur Conan Doyle dan dari novel-novel Agatha Christie (terutama judul-judul dimana tokoh utamanya adalah Miss Jane Marple).  Kisah-kisah Sherlock Holmes mengajari saya untuk selalu memperhatikan rincian-rincian, sekecil apapun, dan menghubung-hubungkan mereka hingga terbentuk suatu gambar yang bisa dipahami dan bisa diyakini (setelah diuji).  Sementara kepercayaan Jane Marple bahwa manusia pada dasarnya adalah sama membuat saya terus menerus mempertanyakan dan ingin membuktikan kebenarannya.  Dan memang, saat ini saya percaya bahwa manusia memiliki sifat-sifat dasar (building blocks) yang sama, hanya komposisinya yang berbeda.

Perbedaan komposisi tersebut, menurut saya, diakibatkan oleh hasil penafsiran dan penyaringan masing-masing manusia atas input yang mereka terima.  Perbedaan hasil penafsiran itu sendiri dikarenakan oleh perbedaan filter yang digunakan untuk menyaring pengalaman dan peristiwa yang manusia temui, yang pada gilirannya dipengaruhi filter pertama dan pengalaman-pengalaman sebelumnya. (Jika ada waktu, tentang ini nanti akan saya bahas secara terpisah.)

Kembali lagi ke judul tulisan ini, angkot (angkutan kota) adalah sarana kendaraan umum yang banyak dijumpai di kota-kota besar Indonesia, dan angkot adalah salah satu tempat terbaik untuk mengamati manusia dan interaksinya.  Bayangkan saja, dalam keadaan penuh, sebuah angkot akan berisi 13 orang manusia.  Sekarang bayangkan sebuah kondisi ideal untuk pengamatan dimana ke-13 orang itu tidak saling mengenal satu sama lain.  Bayangkan betapa uniknya interaksi yang terjadi di sebuah angkot penuh penumpang itu.  Mereka memiliki asal dan tujuan yang (mungkin) berbeda, kalaupun tujuan mereka sama maksud dan motivasi yang menggerakkan mereka menuju tujuan tersebut pastilah berbeda.  Namun, mereka dipersatukan oleh satu benang merah yang sama: sarana yang mereka gunakan untuk mencapai tujuan tersebut. 

Mereka mungkin akan saling mengobrol, atau saling berdiam diri.  Mereka mungkin akan sama-sama mencaci kemacetan jalan, atau memendam kesal ketika sopir memutuskan untuk menunggu penumpang hingga setengah jam.  Sopir mungkin akan memancing obrolan tentang segala hal, mulai dari harga bahan bakar, sikap polisi dan pengendara urakan, sampai soal politik dan pendidikan anak-anaknya.  Penumpang yang senang diskusi mungkin akan menimpali dan kemudian disambung lagi oleh penumpang lain.  Penumpang yang sedang banyak pikiran mungkin tidak akan peduli dengan obrolan itu dan sibuk dengan pikirannya sendiri.  Penumpang yang punya pendapat tapi malu mengutarakannya akan berdebat dengan dirinya sendiri apakah dia akan berbicara atau tidak sambil menanti kesempatan yang tepat untuk ikut serta.  Penumpang lain mungkin hanya berpartisipasi dengan mengangguk dan tersenyum.  Penumpang lain lagi mungkin sama sekali tidak peduli atau pura-pura tidak peduli karena dia merasa bahwa obrolan itu tidak relevan dan signifikan dengan perjalanan hidupnya.

Bagi saya, interaksi apapun yang terjadi (atau tidak terjadi) di dalam sebuah angkot adalah menarik untuk diamati.  Sebab saya beranggapan bahwa interaksi sosial yang terjadi di dalam angkot tidak kurang nilainya dari interaksi sosial yang terjadi di tempat-tempat lain, misalnya rumah atau ruang kelas atau kantin atau pasar atau dimanapun.  Apa yang terjadi di dalam angkot adalah cermin yang menggambarkan sepotong kecil dari gambar besar yang ada di semesta, kepingan puzzle kehidupan sosial manusia.  Dengan memperhatikan interaksi (atau ketiadaan interaksi) tersebut, saya bisa merefleksi diri sendiri.  Obrolan yang terjadi di dalam angkot mungkin memang tidak penting secara konten, tapi jika angkot dipandang sebagai sebuah konteks sosial dimana manusia berkesempatan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya, maka ada banyak hal yang bisa saya pertanyakan pada diri saya sendiri: kenapa saya tidak ikut mengobrol?  Apakah karena saya sombong atau justru karena saya rendah diri?  Ketika tidak ada bahan obrolan, kenapa saya tidak berusaha memulai? (Takut tidak ditanggapi oleh orang lain adalah konyol sebab sopir akan selalu menyambut bahan obrolan apapun yang kita tawarkan.  Coba saja kalau kawan tidak percaya.)  Jika alasannya adalah karena saya malu sebab saya tidak mengenal rekan-rekan sesama penumpang, kenapa saya tidak berkenalan saja?

Intinya, angkot, bagi saya, adalah cermin untuk berkaca: sebaik atau seburuk apakah saya ketika ditempatkan di sebuah situasi sosial dan memiliki pilihan serta hak penuh untuk berinteraksi?

Demikianlah, tak ada hal yang terlalu sepele dan terlalu istimewa ketika kita percaya bahwa segala sesuatu di semesta ini saling berhubungan dan saling membangun, bahkan angkot sekalipun. 

Wednesday, March 6, 2013

Ulang Tahun: Tentang Ketidakbiasaanku pada Kebiasaan Itu

Birthday... I never really grasped the idea of celebrating birthday with the whole cake-and-candle stuff.  It may be just my scepticism, but I do feel that nothing is special with a birthday, really.  I mean, it's just another day in a year and it's not even the same day with the day you were born.

I understand the reasoning behind the celebration: we gather our beloved to show our appreciation and gratitude for the gift of living.  What I don't get, and don't particularly agree with, is the full-blown celebration most people seem so keen to throw whenever they have a birthday.

What I really want to say is I don't mind to gather with people I love to say thanks and appreciate life--perhaps with some sort of reflections on what we've achieved so far in life.  But such gathering has nothing whatsoever to do with birthday.  We gather to appreciate life--that's the point, and we can do that at any day of the year.  When you shift the focus to 'celebrate birthday' . . . I don't know, I just don't get it.  Because, most of the time, you forget about the life-appreciation altogether and you just lose yourself in the celebration.  

I honestly feel worried whenever parents (or other prominent figure of a family) instill in a child's mind that his/her birthday is coming and that he/she should celebrate it.  What worries me is that they often forget to tell the child that it is not the birthday celebration that's important.  They forget to explain why there's a celebration in the first place.  The child will think that a birthday is very important, but he/she will fail to see that it is but one form of life-appreciation.  That's what worries me the most. 

For me, if I throw a birthday party/celebration for a child, it will be a fun-enjoyable format to teach him/her to appreciate life; to appreciate what he/she has, what he/she has become, to make him/her realize that he/she should be grateful because there are people who love him/her and that he/she should share that happiness and gratitude to others.  And I do hope that the child will one day understand that intention, not just blindly believing that birthday party is a must while missing its meaning entirely.

Good morning.

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.