Wednesday, April 16, 2014

Puisi Jatuh Cinta

:Haura

Puisi adalah cinta yang menjelma kupukupu dalam perutku
tiap kali kau ada.  Mencampuraduk semua rasa.  Membuyarkan
semua kata.  Membuatku mengalami semesta yang keindahannya
begitu sederhana.  Semesta yang membuat semua indera berhenti berfungsi.
Tinggal jantung yang berdetak lebih keras, tak teratur, tak henti.  Dan hati
yang memahami.

Puisi adalah rindu yang menjadi mimpi dalam kepalaku.  Sepanjang
waktu saat kau tak ada.  Memberi warna berbeda pada dunia.  Mendistorsi realita.
Membuatku menyadari makna hidup dimana bahagia sangat sederhana.  Hidup
yang mampu menjadikan  waktu musuh besarku.  Berjalan lambat
menantimu dan berlalu cepat saat bertemu.  Bahagia dalam dimensi ini adalah kau
menyadari bahwa rasaku nyata.

Aku tak peduli lagi pada luka-luka yang mungkin ada.  Sebab masa
depan tak sepenting saat ini.  Saat aku menjadi bidadari: terbang
hanya  dengan kepakan mimpi.

Puisiku adalah rasa untuk kau baca
sebelum tidur.  Sebuah dongeng yang mungkin menjadi gerbang
untukku masuk ke hatimu lewat mimpi.  Puisiku adalah rasa
untukmu.

Tuesday, April 15, 2014

Membacamu

Membacamu hari ini,
aku tahu kenapa kita dulu tak bisa menjadi cerita
sebab kita sama sama mencari sesuatu yang tak kita tahu pasti,
setidaknya saat itu.
--aku tak tahu bagaimana kau, tapi ketika itu aku belum sadar apa yang ku mau--

Membacamu hari ini,
aku sadar bahwa aku pernah benar-benar mengenalmu
meski waktu itu aku tak tahu bahwa yang kukenal adalah benar-benar kau.
--aku masih ingat sorot matamu yang merindukan Ayah, dan ketakutanmu pada keterikatan--

Membacamu hari ini,
aku tersenyum.  Aku dan kau telah banyak berjalan, telah jauh berubah
tapi aku rasa kita --kau dan aku-- tak benar-benar berbeda dari kita
--kau dan aku-- yang tersimpan di kotak memoriku.

Membacamu hari ini, aku tiba-tiba ingin kau membacaku:
kau adalah yang kucari, sampai saat ini.  Tapi aku tahu aku takkan mampu
menggenapimu.  Sebab itu aku membiarkanmu pergi: agar aku pun terlengkapi. Dan kau
akan ada di tiap ceritaku tentang kerinduan (dan ketakutan pada keterikatan).
--kau tahu, sejak dulu aku ingin bilang, rasa itu harusnya didefinisikan sebagai kebebasan--

Menjadi Penulis

Menjadi penulis adalah sebuah status yang tidak bisa didapat dengan mudah.  Apalagi menjadi penulis yang telah terpublikasi (published writer).  Jika kita  percaya perkataan Einstein, yang sering dikutip, bahwa keberhasilan adalah satu persen bakat dan 99 persen kerja keras, maka kita bisa mempercayai pula pepatah lain yang senada namun lebih spesifik: semua orang bisa menulis.  Masalahnya tinggal berapa banyak bakat yang dimiliki.  Semakin sedikit bakat yang dimiliki, semakin keras pula usaha yang harus  dikerjakan.

Bukan bermaksud mengeluh, tapi kurasa bakat menulisku tidak terlalu banyak.  Aku memang punya  banyak ide, banyak inspirasi, tapi ketika sudah berhadapan dengan hal-hal teknis yang sangat mempengaruhi kualitas tulisan, aku jadi serupa anak kucing yang kepalanya masuk ke dalam keresek plastik.  Jujur, kalau ditanya kenapa aku memilih menulis puisi, aku seringkali memberikan jawaban-jawaban yang tidak sepenuhnya benar, meski tak sepenuhnya salah juga.  Misalnya, karena aku senang mempermainkan kata-kata dan mengotak-atik makna.  Ini memang benar, tapi ini bukan alasan utama kenapa aku memilih menulis puisi.  Alasan utamanya adalah karena aku tidak pernah bisa benar-benar menguasai teknik-teknik penceritaan.

Aku telah mencoba, membaca dan memahami berbagai teori penulisan, mempraktekkan apa yang telah aku baca dan pahami, tapi tetap saja, hasilnya masih jauh dari bagus.  Kekuranganku yang paling besar adalah ketidakmampuanku untuk memberikan karakter pada tiap tokoh yang kutulis.  Ketika menulis cerpen, aku masih belum bisa menjadi orang ketiga, menjadi pengarang yang siap mati.  Aku masih menjadi pencerita.  Mengerti kan apa maksudku?  

Penulis yang baik adalah penulis yang kehadirannya tidak terasa di dalam tulisannya.  Di dunia  yang diciptakannya, ia sama sekali tak terlihat, tak terdengar, dan tak terendus keberadaannya.  Dunia itu seolah-olah ada begitu saja untuk dialami oleh para pembaca.  Dunia itu dialami oleh para pembaca lewat pengalaman para tokohnya.  Para tokoh itulah yang bercerita, bukan sang pengarang.  Ia hanya sekedar menuliskan saja.  Suara yang mendeskripsikan dunia itu di kepala para pembaca  adalah suara para  pembaca itu sendiri.  Ketika pembaca membalik halaman terakhir dan meletakkan bacaannya, sambil menghembuskan napas, barulah mereka sadar bahwa dunia itu diciptakan oleh seorang pengarang.  Penulis  yang baik berada di luar semesta yang diciptakannya.

Aku belum bisa seperti itu.  Jika kalian kebetulan pernah membaca cerpen-cerpen yang ku tulis, keberadaanku dalam tulisan-tulisan itu sangat terasa.  Sebab selalu aku lah yang bercerita; si A begini karena ini, si B melakukan itu karena anu, dst.  Kepuasan mengalami menjadi sangat berkurang karena pembaca tidak benar-benar mengalami semesta  yang kuciptakan, melainkan hanya sekedar diberitahu saja.  Bukan salah pembaca, tapi salahku yang belum bisa bercerita tanpa memberi tahu.  Kuharap kalian mengerti maksudku.

Sebelum bisa menjadi penulis terpublikasi, aku harus terlebih dahulu menjadi penulis yang baik.  Dan itu berarti bekerja lebih keras lagi.  Sebab kepenulisan bagiku bukanlah sebuah hobi, melainkan sebuah aspirasi, sebuah tujuan yang (meski seringkali kusembunyikan dari dunia) teramat sangat ingin kucapai. (Penggunaan 'sangat' di kalimat terakhir adalah untuk menegaskan seberapa besar keinginanku itu.)

Tulisan ini akan kututup dengan pertanyaan: ada yang bisa mengajariku bagaimana bercerita tanpa memberitahu?  Jika ada, tolong ajari aku.

Terima kasih.

Mengenang Rasa yang Tak Usai

Lelaki itu duduk memandang cermin;
mempertanyakan diri pada refleksi.

Rasa-rasa yang mengakar diingat oleh tanah
rasa yang tak sempat tumbuh, rasa yang mati muda,
dan rasa yang serupa anak panah: melesat lewat tiba-tiba
menghunjam untuk langsung pergi lagi, tak pernah lama singgah.

Rasa-rasa itu diingat oleh tanah untuk kemudian dijadikan kenang
atau bahan cerita kepada batu, angin, samudera
sebagai pelajaran bahwa rasa-rasa tak pergi kemana-mana
bagaimanapun mereka mencoba menghilangkannya.

Rasa-rasa yang mengakar tetap di tempatnya,
menunggu
menanti Bintang atau Purnama atau Senja atau Pelangi
memunculkan kembali hangat yang pernah ada
pengingat bahwa mereka pernah mengakar di dalam tanah,
meski yang sekarang ditumbuhkan telah sangat berbeda.

Lelaki itu duduk memandang cermin;
mengenang kisah yang tak usai.

Monday, April 14, 2014

Eminem - Stronger than I Was

Aku ingin menulis sesuatu, tapi (seperti biasa) kata-kata yang berlari hanya setengah sampai.  Sejak dua jam yang lalu, sudah ada tiga draft dengan tiga ide berbeda. Ketiganya belum ku publish karena memang tulisannya belum selesai.  Berhenti di paragraf ketiga.

Demikianlah.  Kuputuskan untuk menuliskan (lebih tepatnya menyalin) lirik lagu Stronger than I Was dari album terbaru Eminem.  Untuk apa?  Tak untuk apa-apa, aku hanya senang dengan keseluruhan kesan yang kudapat dari lagu itu.  Dan aku selalu suka permainan kata-kata dan penyampaian emosi Mr. Mathers.

STRONGER THAN I WAS

[Verse 1]
You used to say that I'd never be
Nothing without you and I'd believe
I'm shot in the lungs, I gasp, I can't breathe
Just lay here with me, baby, hold me please
And I'd beg and I'd plead, drop to knees
And I'd cry and I'd scream, "Baby, please don't leave"
Snatch the keys from your hand, I would squeeze
And you'd laugh, and you'd tease, you're just fucking with me
And you must hate me
Why do you date me, if you say I make you sick?
And you've had enough of me
I smother you, I'm 'bout to jump off the edge

[Hook]
But you won't break me, you'll just make me stronger than I was
Before I met you, I bet you I'll be just fine without you
And if I stumble, I won't crumble, I'll get back up and uhh
But I'mma still be humble when I scream "Fuck you"
Cause I'm stronger than I was

[Verse 2]
A beautiful face is all that you have
Cause on the inside you're ugly and mad
But you're all that I love, I grasp, you can't leave
Please stay here with me, baby hold me please
And I'd beg and I plead, drop to knees
And I'd cry and I'd scream, baby, please don't leave
But you left and you took everything I had left
And left nothing, nothing for me
So please don't wake me from this dream, baby
We're still together in my head
And you're still in love with me
'til I woke up to discover that that dream was dead

But you won't break me, you'll just make me stronger than I was
Before I met you, I bet you I'll be just fine without you
And if I stumble, I won't crumble, I'll get back up and uhh
But I'mma still be humble when I scream "Fuck you"
Cause I'm stronger than I was
 
[Verse 3]
You walked out, I almost died, it was almost a homicide
That you caused cause I was so traumatized
Felt like I was in for a long bus ride
I'd rather die than you not be by my side
Can't count how many times I vomited, cried
Go to my room, turn the radio on and hide
Thought we were Bonnie and Clyde, nah
On the inside you were Jekyll and Hyde
I, felt like my, whole relationship with you was a lie
It was you and I, why did I think it was ride or die?
Cause if you could've took my life you would've
 It's like you put a, knife through my chest
And pushed it right through to the other side
Of my back and stuck a spike too, shoulda
Put up more of a fight, but I couldn't
At the time, no one could hurt me like you could've
Take you back now, what's the likelihood of that?
Bite me bitch, chew on a nineteen footer
Cause this morning I finally stood up
Held my chin up, finally showed a sign
Of life in me for the, first time since you left me
And left me with nothing but shattered dreams
And the life we coulda, had and we could've been
But I'm breaking out of this slump I'm in
Pulling myself out of the dumps once again
I'm getting up once and for all, fuck this shit
I'ma be late for the pity party
But you're never gonna beat me to the fucking punch again
Took it on the chin like a champ
So don't lump me in with the chump-ions
I'm done being your punching bag
It was the November 31st today
Would've been our anniversary
Two years but you left on the 1st of May
I wrote it on a calendar, was gonna call
But couldn't think of the words to say
But they came to me just now
So I put 'em in a verse to lay

[Bridge]
And I thank you cause you made me a better person than I was
But I hate you cause you drained me, I gave you all, you gave me none
But if you blame me, you're crazy and after all is said and done
I'm still angry, yeah, I may be, I may never trust someone  

But you won't break me, you'll just make me stronger than I was
Before I met you, I bet you I'll be just fine without you
And if I stumble, I won't crumble, I'll get back up and uhh
But I'mma still be humble when I scream "Fuck you"
Cause I'm stronger than I was

Sunday, April 13, 2014

Menunggu Hujan Reda

Saya sedang duduk di foodcourt lantai tiga Istana BEC Bandung.  Apa yang saya lakukan disini saat ini?  Saya sedang mengunggah laporan mingguan yang berukuran sangat besar sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan di rumah.  (Sekedar penjelasan bagi yang membutuhkan, di sini saya menggunakan jaringan internet super cepat dengan akun wifi gratis sementara di rumah saya menggunakan modem super lambat dengan kuota terbatas.)

Sambil menunggu proses upload selesai, seperti biasa saya berselancar di dunia maya.  Tadinya saya ingin mengunduh sejumlah tontonan, tapi beberapa pertimbangan membuat saya urung melakukannya.  (Untuk mereka yang penasaran, pertimbangan pertama adalah bahwa episode terbaru dari beberapa serial yang saya ikuti--Games of Thrones, Running Man, Bones, The Big Bang Theory--baru akan tayang malam ini, yang berarti bahwa link unduhannya baru akan ada esok hari; pertimbangan kedua, harddisk eksternal saya sudah hampir penuh--hanya tersisa 20 gb yang saya alokasikan untuk episode-episode baru serial-serial yang saya ikuti diatas--sehingga mengunduh film terasa percuma; pertimbangan ketiga, meski ada sejumlah film yang ingin saya tonton, film-film tersebut masih relatif 'baru' sehingga versi bluray-nya belum beredar di internet.)  Saya juga tadinya berniat mengunduh sejumlah e-book, tapi setelah mencari di berbagai situs selama setengah jam, saya tidak menemukan judul yang cukup menarik.  Demikianlah, akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan sesuatu di sini.

Beberapa waktu lalu, saya memanjakan diri dengan membeli sejumlah buku karya Dee (Dewi Lestari, salah satu penulis favorit saya), diantaranya adalah Filosofi Kopi, Madre, dan Rectoverso.  Sebenarnya saya sudah pernah membaca buku-buku tersebut, namun kesukaan saya dengan cara penulisan dan pemikiran Dee membuat saya merasa bahwa saya perlu membeli buku-buku tersebut untuk menambah koleksi saya.

Membaca Dee bagi saya adalah seperti melihat cermin.  Dia selalu berbicara (menulis) tentang pencarian, pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai manusia dan kemanusiaannya, dan evolusi.  Terlepas dari apa yang ditulisnya, saya menyenangi buku-buku Dee karena tiap kali selesai membaca tulisannnya, ada sensasi tertentu yang jarang saya dapatkan dari tulisan-tulisan lain.  Jika dari tulisan lain saya mendapatkan hiburan, dari tulisan Dee saya mendapatkan hiburan dan pertanyaan.  Tiap selesai membaca tulisan Dee, saya selalu tertegun mempertanyakan diri saya sendiri.

Misalnya dalam Filosofi Kopi, Dee menyampaikan (atau lebih tepatnya saya menerima) konsep tentang kebahagiaan.  Jika dirangkum kurang lebih seperti ini: bahagia itu berasal dari dalam diri, ketika kau lupa pada apa yang sebenarnya kau cari, kau tak akan menemui bahagia sejauh apapun kau berlari atau sebanyak dan sebesar apapun pencapaianmu.

Setelah membaca cerita pendek tersebut, saya terpaksa menanyai diri sendiri: "Apa sebenarnya yang kau cari?  Apa definisi bahagiamu?" Ternyata jawabannnya belum berubah dari yang dulu saya yakini: "Aku mencari bahagia dan bahagiaku adalah ketika aku bisa memunculkan kebahagiaan pada diri orang-orang yang kupedulikan."  Saat ini, orang-orang yang ada dalam daftar tersebut memang terbilang sedikit; orangtua,  istri dan anak saya, dan teman-teman dekat (yang sudah saya anggap saudara).  Kesadaran akan hal ini membawa saya ke pertanyaan lain: "Kenapa daftarmu berisi tak sampai dua puluh orang?"  Agak sulit bagi saya untuk menjawab--atau mengelak--dari pertanyaan ini.

Awalnya saya mencoba berargumen bahwa (mengutip Ayah saya) tidak mungkin saya bisa menyenangkan semua orang karena tiap orang memiliki pemikiran dan penafsiran masing-masing.  Tapi saya segera sadar bahwa itu hanya alasan saja.  Jawaban sebenarnya adalah karena saya sudah menjadi seorang yang skeptis terhadap dunia.

Saya sendiri lupa sejak kapan saya seperti ini, tapi karena sikap adalah akumulasi pengalaman dan penafsiran, pertanyaan 'sejak kapan' tidaklah relevan.  Apapun penyebab dan sumbernya, sikap skeptis saya   ternyata sudah kronis.  Saya tidak lagi mempedulikan dunia di luar dunia kecil saya (Dilla, Zia, kedua orangtua, dan sahabat-sahabat terdekat itu).  Yang berarti bagi saya hanya semesta kecil itu saja.  Sisanya hanya background noise yang tak terlalu saya pedulikan karena saya selalu beranggapan bahwa mereka tidak terlalu berpengaruh pada hidup saya.

Namun, kegiatan saya beberapa bulan terakhir ini (yang membuat saya harus banyak bersosialisasi dan membuka diri terhadap dunia di luar zona nyaman saya) menghadirkan sebuah kesadaran baru.  Selama ini saya membodohi diri dengan beranggapan bahwa dunia di luar sana tak berarti banyak bagi diri saya sendiri. Dan tak ada makhluk yang lebih malang daripada mereka yang membodohi diri sendiri.

Saya harus berubah; harus mengubah pola pikir, menggeser sudut pandang.

Memang, saat saya mengetik kalimat-kalimat ini, saya masih sama skeptisnya dengan diri saya beberapa bulan lalu.  Meski demikian, saya perlahan-lahan telah mulai kembali mempertanyakan segala sesuatu.  Sebab perbedaan skeptis dan kritis adalah pada pertanyaan yang diajukan. Mereka yang kritis akan bertanya, mencari tahu, sebelum menerima atau menolak, sementara mereka yang skeptis akan langsung menerima atau menolak, atau sekedar bertahan di zona abu-abu ketidakpedulian, tanpa mempertanyakan.

Sekedar info saja, saya semasa SMA pernah meyakinkan diri sendiri bahwa saya harus bisa selalu (atau paling tidak sesering mungkin) bersikap kritis.  Berbagai pengalaman dan penafsiran yang muncul setelah masa itu lah yang membuat saya lupa pada keyakinan tersebut.

Ah, laporan telah selesai terunggah dengan sempurna.  Hujan di luar pun sudah reda.  Sudah saatnya saya mengemas notebook ini dan mengembalikannya ke tempat penyimpanan (ini inventaris dari tempat kerja yang tak boleh saya bawa-bawa).  Sekarang saya akan pulang dan bermain dengan Zia, mungkin membacakannya cerita dan mengajarinya bertanya.

Maaf jika tulisan saya kali ini tidak memperkaya kalian.

Sampai jumpa.

Wednesday, March 26, 2014

Tentang Katakata yang Jadi Dongeng

Tak bisalah kita menaksir kisahkisah lama
Dari katakata
Sebab semua cerita bermuara pada makna
Mewujud dalam Dharma dan Karma

Kita tak bisa membaca dongeng purba
Dengan kacamata hari ini
Sebab dongeng lahir dari masa dan kita
Takkan mampu menembus waktu

(Bukan tak mungkin buyutmoyangmu memang mengenal naga
  atau sembrani
  Seperti aku mengenal anjing kampung yang kini hanya kau temu
  dalam makian temantemanmu)

Dan makna sesungguhnya serupa samudera
Di muka, ia memantulkan mukamu saja
Di balik matamulah ia menjelma

About Me

My photo
seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.