Tentang [semacam] Pencarian
Aku dan kata serupa dua bocah sebaya
bermain bersama kemana-mana
di ladang. memanjat kelapa. mencuri mangga
di pantai. tanpa alas kaki. tanpa takut matahari
kami senang berlarian
aku selalu mengejarnya, tapi
ia yang selalu menangkapku
Suatu hari, kami bermain petak umpet.
Aku yang jaga, menutup mata
ia sembunyi, dalam sepotong puisi
Lalu, pada hitungan keseratus
--yang meski kulafalkan dalam sepuluh tarikan nafas
tapi entah kenapa terasa sangat lama--
aku membuka mata. tiba-tiba dewasa
kata sudah tak ada di persembunyiannya.
Aku rasa ia masih sembunyi di puisi itu, tapi carik kertasnya entah sudah dimana
Ada yang bilang ia dipanggil pulang, disuruh mandi dan mengaji oleh ibunya
Ada yang bilang kertasnya terbang lalu dibantai hujan
Ada yang bilang ia dimakan mawang sebab mengencingi pohon durian di hutan belakang
Ada yang bilang ia ikut perang, mati di tanah seberang
Ada yang bilang ia marah sebab aku curang; mengintip ke arah mana ia lari
Ada yang bilang ia jadi bayang-bayang, pergi setelah petang
Tapi tak ada yang berani bilang ia hilang
Ia pasti masih sembunyi dalam sepotong puisi.
Sampai saat ini aku masih mencari, sesekali,
kalau aku punya waktu sendiri,
dalam kolom mingguan di koran, di kotak blog teman-teman
di buku puisi perpustakaan, di tukang majalah bekas langganan.
Kadang, aku bahkan merasa seperti melihat punggungnya
tapi, meski kutunggu, tak ada yang menangkapku.
Tidak, aku sudah tak kehilangan, tak pun terlalu rindu
aku hanya ingin tahu, ingin menemukan puisi itu
sebab aku tiba-tiba dewasa
sebelum selesai membacanya.
Friday, December 5, 2014
Monday, December 1, 2014
melarikan diri
saya sedang penat, fisik dan mental. saya butuh melarikan diri sejenak dari sumber kepenatan saya. ini adalah salah satu tempat (atau bentuk) pelarian saya. hasil dari berlari-lari ini, yang mampu meminjamkan sedikit kesegaran untuk bertahan sedikit lagi, adalah berikut:
Mencari
Menatap matahari, mencari cahaya
Menatap mata, mencari kaca
Tuhan terbunuh di
atas sofa
Ketika memperawani
calon istri
Tuhan tidak, tapi nurani mati
Menatap tanah, mencari kawan
Menatap luka, mencari alasan
Agama direduksi jadi
persamaan untung rugi
Wacana basa basi di
warung kopi
Iman, sekedar
retorika mimbar
Menatap nisan, mencari tujuan
Menatap hati, mencari . . .
Mati
bagiku, ia
bagiku, ia selalu sebuah paradoks:
ikatan yang membebaskan, kebebasan yang mengikat
yang ada ketika tiada, ketika ada yang tiada
bagiku, ia paradoks, tapi tak pernah teka-teki:
keharusan menebak-nebak jawab dari isyarat-isyarat yang belum
tentu mengisyaratkan jawab; mungkin kau saja yang mengada-
adakan arti pada kata demi mencari maknamu sendiri
bagiku, ia selalu tapi tidak
bagiku, ia tidak tapi selalu
ketika ia sudah memenuhi dada dan kepala yang terlalu kecil, maka tumpahlah ia, ke udara
sebab bagiku, ia
bagimu? entah.
Sunday, November 23, 2014
Banyak. Banyak Cerita.
Berapa lama saya tak menulis disini? Lihat saja tanggal entri terakhir saya dan hitung sendiri. Dalam waktu sekian lama (atau sekian sebentar) itu, ada banyak cerita, ada banyak kisah, yang sampai ke saya dan ingin saya sampaikan. --Sebentar, tombol shift kiri yang biasa saya gunakan agak bermasalah, mungkin ada yang mengganjal di bawahnya... bukan masalah besar, tapi saya terganggu. huft--
Ada banyak kisah. dan tiba-tiba otak saya mengosongkan diri.
Oke, kita lanjutkan lagi, meski keyboard yang saya pakai sangat tidak nyaman. Kebahagiaan itu sederhana, tergantung cara kita memaknai peristiwa. Sebagai ilustrasi, dua minggu terakhir ini Zia sakit. Ditambah dengan kenaikan harga BBM (yang berarti kenaikan ongkos kendaraan umum dan harga barang-barang), mengharuskan saya dan Menteri Keuangan Keluarga memutar otak mencari celah untuk menyesuaikan anggaran belanja. Salah satu dampaknya adalah, tidak ada lagi jatah jajan kopi yang harganya diatas 1000 rupiah. :D Bukan itu saja, ada beragam kejadian kecil yang memberi efek kesal tambahan. Tapi, saya disini bukan untuk curhat. Ini cuma ilustrasi saja bahwa bahagia itu beragam bentuknya. Dalam kondisi seperti ini, saya menemukan bahagia. Beberapa hari lalu, salah seorang teman dekat berulang tahun. Seperti biasa, kami, para Mahmouds, berkumpul untuk sekedar menunjukkan bahwa kami peduli. Dalam pertemuan itu, selain obrolan dan tawa dalam dosis yang cukup untuk menyingkirkan sejenak segala hal yang memusingkan, ada sebuah kabar bahagia. Salah satu dari kami mengumumkan bahwa ia hamil.
See... bahagia itu sederhana. Kejutan-kejutan kecil di tengah kekacauan. Sedikit tawa yang diramu bersama kopi dan obrolan. Kesadaran bahwa ada yang mempedulikan. Semua soal cara kita memaknai peristiwa.
Saya yakin (dan saya tahu pasti karena memang sampai pada saya) ada banyak kisah sedih di luar sana, tapi saya tak mau menuliskannya disini. Mari kita berbahagia sejenak.
Selamat siang menjelang petang.
Oke, kita lanjutkan lagi, meski keyboard yang saya pakai sangat tidak nyaman. Kebahagiaan itu sederhana, tergantung cara kita memaknai peristiwa. Sebagai ilustrasi, dua minggu terakhir ini Zia sakit. Ditambah dengan kenaikan harga BBM (yang berarti kenaikan ongkos kendaraan umum dan harga barang-barang), mengharuskan saya dan Menteri Keuangan Keluarga memutar otak mencari celah untuk menyesuaikan anggaran belanja. Salah satu dampaknya adalah, tidak ada lagi jatah jajan kopi yang harganya diatas 1000 rupiah. :D Bukan itu saja, ada beragam kejadian kecil yang memberi efek kesal tambahan. Tapi, saya disini bukan untuk curhat. Ini cuma ilustrasi saja bahwa bahagia itu beragam bentuknya. Dalam kondisi seperti ini, saya menemukan bahagia. Beberapa hari lalu, salah seorang teman dekat berulang tahun. Seperti biasa, kami, para Mahmouds, berkumpul untuk sekedar menunjukkan bahwa kami peduli. Dalam pertemuan itu, selain obrolan dan tawa dalam dosis yang cukup untuk menyingkirkan sejenak segala hal yang memusingkan, ada sebuah kabar bahagia. Salah satu dari kami mengumumkan bahwa ia hamil.
See... bahagia itu sederhana. Kejutan-kejutan kecil di tengah kekacauan. Sedikit tawa yang diramu bersama kopi dan obrolan. Kesadaran bahwa ada yang mempedulikan. Semua soal cara kita memaknai peristiwa.
Saya yakin (dan saya tahu pasti karena memang sampai pada saya) ada banyak kisah sedih di luar sana, tapi saya tak mau menuliskannya disini. Mari kita berbahagia sejenak.
Selamat siang menjelang petang.
Thursday, November 13, 2014
Sudah Selesaikah Kau Bertanya?
sudah selesaikah kau bertanya?
usaikan segera.
jawab itu ada, akan tiba,
meski mungkin kau telah tiada
untuk mendengarnya.
sebab itu, selesaikan saja tanya,
usah mengharap jawab.
usaikan segera.
jawab itu ada, akan tiba,
meski mungkin kau telah tiada
untuk mendengarnya.
sebab itu, selesaikan saja tanya,
usah mengharap jawab.
Saturday, November 1, 2014
Istri dan Puisi
Temanku pernah bertanya,
"Jika puisimu itu ekspresi emosi,
kenapa tak pernah kujumpa istrimu didalamnya?"
Maka, ini jawabnya:
"Sebab ia nyata,
sementara puisi hanya kata-kata
dan kata-kata adalah angin yang singgah di telinga
mungkin hinggap di benak, mungkin diingat,
tapi lebih mungkin dilupa;
Sebab ia disini,
sementara puisi muncul dari imaji
dari tumpukan harap tak jadi
dari yang tak tersalurkan, dari mimpi
diselipi emosi;
Sebab ia tempat pulang,
sementara puisi adalah pelarian
dari beban, dari perjalanan, dari kisah nyata
semacam gerbang pribadiku ke Narnia,
atau ibu peri kalau aku Cinderella;
Sebab puisiku lahir dari kekacauan,
dari luka, dari gundah, yang dilebih-lebihkan,
sementara ia adalah definisi bahagia sempurna
yang tak pernah benar-benar kutemukan cara
untuk menggambarkannya."
Begitulah, kawan, istriku takkan bisa dimasukkan dalam sebuah antologi.
"Jika puisimu itu ekspresi emosi,
kenapa tak pernah kujumpa istrimu didalamnya?"
Maka, ini jawabnya:
"Sebab ia nyata,
sementara puisi hanya kata-kata
dan kata-kata adalah angin yang singgah di telinga
mungkin hinggap di benak, mungkin diingat,
tapi lebih mungkin dilupa;
Sebab ia disini,
sementara puisi muncul dari imaji
dari tumpukan harap tak jadi
dari yang tak tersalurkan, dari mimpi
diselipi emosi;
Sebab ia tempat pulang,
sementara puisi adalah pelarian
dari beban, dari perjalanan, dari kisah nyata
semacam gerbang pribadiku ke Narnia,
atau ibu peri kalau aku Cinderella;
Sebab puisiku lahir dari kekacauan,
dari luka, dari gundah, yang dilebih-lebihkan,
sementara ia adalah definisi bahagia sempurna
yang tak pernah benar-benar kutemukan cara
untuk menggambarkannya."
Begitulah, kawan, istriku takkan bisa dimasukkan dalam sebuah antologi.
Monday, October 27, 2014
Soal Dua Belas Nol Satu
Setengah jam lalu, tiba segumpal salju
Mengirim dingin; hanya dingin, bukan beku
Nanti pasti hangat lagi, cuma soal waktu
Sementara menunggu:
Ini bukan soal tega atau enggan bercerita
Ini soal prinsip, soal janji, soal integritas diri
Soalnya percaya itu langka; dan yang sedikit ini tak boleh dikhianati
Ini juga soal menghindari repetisi
Katakata ini miliknya, biar ia sampaikan sendiri
Esok, atau mungkin lusa,
Ia akan bangun dan bicara, tunggu saja
Sekarang dua belas nol satu.
Salju mungkin jadi beku,
Tapi akan cair lagi. Nanti.
Mengirim dingin; hanya dingin, bukan beku
Nanti pasti hangat lagi, cuma soal waktu
Sementara menunggu:
Ini bukan soal tega atau enggan bercerita
Ini soal prinsip, soal janji, soal integritas diri
Soalnya percaya itu langka; dan yang sedikit ini tak boleh dikhianati
Ini juga soal menghindari repetisi
Katakata ini miliknya, biar ia sampaikan sendiri
Esok, atau mungkin lusa,
Ia akan bangun dan bicara, tunggu saja
Sekarang dua belas nol satu.
Salju mungkin jadi beku,
Tapi akan cair lagi. Nanti.
Friday, October 3, 2014
I am about to -- ,- [a translation]
I am about to cry,-
The leaves turn themselves a sad yellow, just so they can turn to earthy brown, in a few more weeks. Much like the branch they hang tightly into a moment ago, which, in the end, they have to let go. They hint—no, they shout—the coming of the fall, whose wind ushers you to hurry for your jackets. And then you can go—or stay.
I am about to cry,-
And the day is unbearably long. As if the sun's deliberately being stubborn; up there. O, how I wish to say to you, "Please, let today leave early, just today. Tomorrow you can come back, truly, unconditionally."
I am about to cry,-
And I'm busily looking for her, my shadow. There she sits, on the bench with faded paint. Has she got tired walking with me?
I am about to cry,-
Don't fall. Don't stay too long. And don't get tired.
Please.
[this one is a paraphrase of a friend's poem of the same title; see here . done on her request and with her permission.]
The leaves turn themselves a sad yellow, just so they can turn to earthy brown, in a few more weeks. Much like the branch they hang tightly into a moment ago, which, in the end, they have to let go. They hint—no, they shout—the coming of the fall, whose wind ushers you to hurry for your jackets. And then you can go—or stay.
I am about to cry,-
And the day is unbearably long. As if the sun's deliberately being stubborn; up there. O, how I wish to say to you, "Please, let today leave early, just today. Tomorrow you can come back, truly, unconditionally."
I am about to cry,-
And I'm busily looking for her, my shadow. There she sits, on the bench with faded paint. Has she got tired walking with me?
I am about to cry,-
Don't fall. Don't stay too long. And don't get tired.
Please.
[this one is a paraphrase of a friend's poem of the same title; see here . done on her request and with her permission.]
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
- Verly Hyde
- seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.