Kalau nanti Februari terasa sepi,
pesanlah secangkir kopi di warung itu
bawa ke meja mana saja, lalu tunggulah disana
mungkin satu-satu mereka akan tiba
untuk menyelamatimu, menyelamatkanmu
seperti dulu.
Kalau nanti Februari telah habis
dan kau masih merasa ingin menangis, pulang saja
lalu tunggu aku
jerang air matamu dan seduhlah kopi
aku akan singgah ke kamarmu membawa segelas susu
siapa tahu bisa membantu
seperti dulu.
Ini saya tulis pada akhir Februari; mengenang mereka yang telah lama tidak duduk bersama untuk mengobrol di antara kopi.
Wednesday, April 13, 2016
Friday, January 29, 2016
Aku Membayangkan Kau Bahagia
Aku membayangkan kau ketika aku sudah tak ada,
Bahagia
paling tidak, porsi hidup yang bisa kau nikmati
melebihi bagian yang kau sesali.
aku membayangkan kau menemukan tulisan ini suatu hari nanti
untuk mendapatkan do'a-do'a yang kusisipkan dalam kata
lalu mengingatku:
betapa aku tak pernah cukup bisa menunjukkan
betapa bahagiamu penting bagiku
betapa rasaku tak pernah surut padamu
aku membayangkan kau lalu berharap aku ada disisimu
untuk membisikkan "aku sayang kamu"
dan tersenyum sebab kau sadar
ingatanmu mengabadikanku.
Bahagia
paling tidak, porsi hidup yang bisa kau nikmati
melebihi bagian yang kau sesali.
aku membayangkan kau menemukan tulisan ini suatu hari nanti
untuk mendapatkan do'a-do'a yang kusisipkan dalam kata
lalu mengingatku:
betapa aku tak pernah cukup bisa menunjukkan
betapa bahagiamu penting bagiku
betapa rasaku tak pernah surut padamu
aku membayangkan kau lalu berharap aku ada disisimu
untuk membisikkan "aku sayang kamu"
dan tersenyum sebab kau sadar
ingatanmu mengabadikanku.
Saturday, January 23, 2016
Sit Silently and Watch
Ini entri pertama saya di tahun 2016. Sudah hampir akhir Januari, tapi saya belum menulis apa-apa lagi (selain tulisan-tulisan yang berhubungan dengan pekerjaan). Salah satu alasannya adalah karena saya sedang mengaktifkan kembali mode 'duduk diam mengamati'; suatu kondisi dimana saya menyerap segalanya dan memilah serta mencernanya dalam diam. Di satu sisi, kondisi ini memang tidak produktif, dalam artian tidak menghasilkan karya nyata. Tapi di sisi lain, saya membutuhkan kondisi semacam ini untuk merefleksi apa-apa yang saya alami. Saya perlu menginternalisasi pengalaman dan pengetahuan baru yang saya peroleh agar dapat memaksimalkan pemanfaatannya.
Ada banyak perubahan dalam hidup saya akhir-akhir ini. Perubahan-perubahan kecil yang ketika terakumulasi, dan tidak disadari, akan berakibat besar. Ini satu alasan lagi kenapa saya perlu duduk diam dan mengamati, baik mengamati apa-apa yang ada di sekitar saya maupun yang ada di dalam diri saya. Dengan melakukan ini, saya berusaha memperbaiki posisi; berusaha menjawab pertanyaan 'Siapa saya saat ini?', 'Dimana saya harus berdiri?', dan 'Bagaimana saya harus menyesuaikan situasi saat ini dengan usaha pencapaian tujuan saya?' Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab segera, sebab salah langkah berarti musnah.
Intinya, meskipun saya sangat ingin mulai menulis dan berkarya lagi, saya masih merasa perlu menundanya. Saya perlu merapikan diri sebelum memunculkannya ke muka dunia.
Selamat malam.
Monday, December 28, 2015
Di Puncak Rindu
Di puncak rindu,
rasaku candu dalam pembuluh
semakin kukasih,
semakin ia meminta lebih.
ia seperti laut
semakin kutelan
semakin menambah kehausan.
(Dan aku tak bisa berhenti menenggaknya sebab hanya itu yang kupunya)
Di puncak rindu,
rasaku menggumpal mengental
jadi palu yang mengetuk-ngetuk kepala;
ingin menghancurkan dada
(Sebab ia merasa terjebak di dalam sana)
rasaku jadi air mata
sebab itu satu-satunya cara ia bisa keluar
setelah kata-kata (dalam cerita, puisi, atau do'a)
tak lagi bisa mengantar sabar
Di puncak rindu,
hanya ada satu yang akan menormalkanku
KAMU.
(Utuh tanpa syarat apa-apa lagi)
Monday, December 21, 2015
Birokrasi
Birokrasi adalah seperti ini:
Mereka menyulap udara jadi aturan
agar bisa menganggap kita menumpang.
Kemudian, mereka menempatkan kita di dua ruangan,
membiarkan pintu terpentang lebar,
dan berkata:
"Kau boleh kemana saja, kecuali ke pelukannya
Ia bisa menunggu di mana saja, kecuali di jarak rengkuhmu."
Padahal mereka tahu,
Kita adalah satu.
Mereka menyulap udara jadi aturan
agar bisa menganggap kita menumpang.
Kemudian, mereka menempatkan kita di dua ruangan,
membiarkan pintu terpentang lebar,
dan berkata:
"Kau boleh kemana saja, kecuali ke pelukannya
Ia bisa menunggu di mana saja, kecuali di jarak rengkuhmu."
Padahal mereka tahu,
Kita adalah satu.
Saturday, December 19, 2015
A Boy Lost
I've been to Neverland
Flown with Peter Pan
Filled my tummy with imaginations and
Gone to countless wars
(It was during that worst
Moments when I was lost
In my deepest love and foolish hopes
For you)
Now I have come back
To this world of growing old
That bittersweet time of missing what I'd never owned
Lingers in the dark
(You know that place, just behind my eyelids,
The gate through which you always visit
Every night, every day, every time I have them closed)
I am a Lost Boy, expelled from Neverland
Trapped in this body of a man
Still secretly missing what I left behind
Note : This is supposed to be about what I sometimes feel; that somehow there's a little kid inside me, a part that never grows. Whether or not this piece represents what I intended, I do not know. I just need to write it.
Flown with Peter Pan
Filled my tummy with imaginations and
Gone to countless wars
(It was during that worst
Moments when I was lost
In my deepest love and foolish hopes
For you)
Now I have come back
To this world of growing old
That bittersweet time of missing what I'd never owned
Lingers in the dark
(You know that place, just behind my eyelids,
The gate through which you always visit
Every night, every day, every time I have them closed)
I am a Lost Boy, expelled from Neverland
Trapped in this body of a man
Still secretly missing what I left behind
Note : This is supposed to be about what I sometimes feel; that somehow there's a little kid inside me, a part that never grows. Whether or not this piece represents what I intended, I do not know. I just need to write it.
Saturday, November 21, 2015
Dalam Kepalaku
: hZ
Waktu dalam kepalaku, selalu, maju lebih lama
dari dunia di luar sana
seolah ada yang sesekali menekan tombol jeda
Itu sebabnya sembilan tahun pernah tak terasa ada
itu pula kenapa Mia, dalam kepalaku, masih gadis yang menangis di sudut tangga
meski ia telah lama didewasakan dunia
Dan tentangmu, Hafshah Zi, waktu dalam kepalaku dijeda di titik ini
--meski di luar sana ia tak berhenti
Kau akan tetap gadis kecilku, meski kau telah memberiku tiga cucu
Kau akan selalu mencariku ketika waktu
menyisipkan mimpi buruk di kepalamu
Dan aku akan selalu menjawab semua keingintahuanmu
Kau akan terus belajar dari kisah-kisahku
dan aku akan tetap menyimak ceritamu,
Sebab waktu dalam kepala bisa dijeda,
kau gadis kecilku, selalu,
dalam kepalaku
dalam hatiku.
Waktu dalam kepalaku, selalu, maju lebih lama
dari dunia di luar sana
seolah ada yang sesekali menekan tombol jeda
Itu sebabnya sembilan tahun pernah tak terasa ada
itu pula kenapa Mia, dalam kepalaku, masih gadis yang menangis di sudut tangga
meski ia telah lama didewasakan dunia
Dan tentangmu, Hafshah Zi, waktu dalam kepalaku dijeda di titik ini
--meski di luar sana ia tak berhenti
Kau akan tetap gadis kecilku, meski kau telah memberiku tiga cucu
Kau akan selalu mencariku ketika waktu
menyisipkan mimpi buruk di kepalamu
Dan aku akan selalu menjawab semua keingintahuanmu
Kau akan terus belajar dari kisah-kisahku
dan aku akan tetap menyimak ceritamu,
Sebab waktu dalam kepala bisa dijeda,
kau gadis kecilku, selalu,
dalam kepalaku
dalam hatiku.
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
- Verly Hyde
- seorang separuh autis yang memandang dunia dari balik kaca jendelanya. ia duduk diam mengamati,membaca dan menafsir tanda, mencari makna.