Teruntuk kamu,
Akhirnya akan seperti ini. Kita menjadi tua.
Tahun-tahun yang kita tandai dengan sobekan kalender akan memberitahu bahwa mimpi-mimpi masa muda tak bisa menjelma semua. Aku masih perokok, masih minum kopi tujuh cangkir sehari. Aku masih sering duduk di bawah langit tengah bulan untuk berusaha menikmati purnama, kecuali jika hujan, tanpa bisa mengingat wajah yang dulu membuatku mengawali kebiasaan ini. Apakah kau sudah menyadari hal yang sama: Betapa waktu bisa membuat segalanya, cepat atau lambat, jadi tak penting pada akhirnya?
Aku menulis ini sambil duduk di beranda, dengan semangkuk bubur kacang di sebelah asbak dan cangkir kopi di atas meja kecil yang kubuat sendiri dari sisa-sisa rak buku yang hancur setelah ditabrak anakku dengan mobil mainannya. Aku membayangkan suara yang kudengar dari dalam adalah suaramu; sibuk memasukkan semua yang diberi hari ke dalam kotak memori, untuk nanti dipilah, dipilih, dan dikonversi menjadi cerita pengantar tidur yang akan kau selipkan di kepala anakmu. Tapi, suara yang kubayangkan adalah suaramu itu adalah suara pengisap debu. Aku bahkan sudah lupa seperti apa suaramu sebenarnya.
Rumahku kecil, tapi halamannya luas. Di halaman itu kami--aku, istri, dan anakku--menanam alpukat, jambu biji, lidah buaya, jeruk nipis, dan entah apa lagi. Aku pernah mencoba menanam manggis (bukankah itu buah favoritmu? Atau bukan?), tapi tak pernah tumbuh. Di cabang pohon mangga, aku membuat sebuah rumah pohon sebagai markas untuk semua petualangan. Di bawahnya, kugantung ayunan. Tapi hujan kota ini tak pernah membiarkan kami berlama-lama bermain.
Aku ingat kotamu panas. Rumahmu pasti rumah besar dengan banyak ruang tempat udara bisa keluar masuk dengan leluasa. Di teras ada kursi kesayanganmu, yang sudah berkali-kali diperbaiki dan tak mau kau bagi dengan siapapun; termasuk suamimu. Kursi dari kayu jati beralaskan bantal duduk yang setiap hari kau bersihkan dari debu. Beberapa meter dari teras itu, ada pagar setinggi dada orang dewasa, untuk menghalangi orang-orang masuk seenaknya sekaligus memberimu kesempatan untuk melihat mereka berlalu-lalang; mengamati manusia. Setidaknya, itu yang kubayangkan. Aku sendiri tak yakin bayangan itu didasarkan pada pengetahuanku tentangmu atau tentang orang lain. Mungkin ia cuma pengulangan adegan sebuah serial tv yang dulu sangat kusukai.
Sebenarnya, aku menulis surat ini hanya untuk menyampaikan satu hal: waktu telah berhasil memodifikasi segala sesuatu di kepalaku. Bukankah ini lucu? Pada akhirnya semua pengalaman, semua cerita, semua adegan, semua episode hidup yang dulu kuanggap sangat bermakna atau sangat hebat atau sangat luar biasa berubah menjadi lembar-lembar yang terabaikan. Rincian-rincian mengabur, meninggalkan sebuah kesadaran di tataran paling mendasar. Dari semua pengalaman itu, tak lagi penting siapa tokohnya, bagaimana alur sebenarnya, atau siapa yang pergi, siapa yang ditinggalkan. Yang tersisa hanya kerangka kisah untuk kita isi sendiri sampai jadi dongeng untuk mengajari anak-anak sesuatu tentang hidup. Bahkan rasa paling kuat akan tak terasa lagi residunya pada titik ini. Sebab akhirnya akan seperti ini, kita menjadi tua, sendiri-sendiri.
Salam,
Aku
No comments:
Post a Comment